Jumat, 6 Februari 2026

Gejolak IHSG dan Rupiah Tak Goyahkan Target Investasi Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis.

batampos – Gejolak pasar keuangan nasional yang ditandai dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pelemahan rupiah, dan lonjakan harga emas dinilai tidak serta-merta mencerminkan kondisi investasi riil di Batam. BP Batam memandang dinamika itu lebih sebagai indikator sentimen pasar ketimbang cerminan langsung arus penanaman modal, khususnya investasi jangka panjang.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan, pergerakan pasar modal dan nilai tukar memang kerap menimbulkan kekhawatiran, namun tidak selalu berkorelasi langsung dengan realisasi investasi industri.

“IHSG adalah indikator sentimen, bukan indikator investasi riil. Sering terjadi market turun tetapi FDI tetap naik, atau market naik tetapi FDI stagnan. Mengapa? Karena financial capital bergerak cepat, sedangkan industrial capital bergerak panjang, dengan horizon 10 sampai 25 tahun,” katanya, Kamis (5/2).


Baca Juga: Gubernur Ansar Instruksikan Sanksi Tegas bagi Perusahaan Abai K3

Baginya, modal finansial bersifat spekulatif dan responsif terhadap isu global jangka pendek. Sebaliknya, Foreign Direct Investment (FDI) atau Penanaman Modal Asing (PMA) lebih mempertimbangkan stabilitas jangka panjang, kepastian hukum, serta kesiapan infrastruktur.

Dalam membaca dampak gejolak global terhadap Batam, BP Batam memetakan tiga skenario. Pada skenario dasar (base case), target investasi Batam tahun 2026 masih sangat memungkinkan untuk dicapai.

Pada skenario terburuk (worst case), apabila gejolak global membesar, dampaknya diperkirakan hanya berupa perlambatan realisasi, bukan pembatalan investasi.

“Karakter investasi industri berbeda. Mereka sudah menghitung biaya relokasi, pembangunan fasilitas, dan rantai pasok. Itu bukan keputusan yang bisa dibatalkan hanya karena fluktuasi jangka pendek,” ujar dia.

Sementara pada skenario terbaik (best case), ketika banyak negara mengalami ketidakstabilan, Batam justru berpotensi menjadi alternatif tujuan relokasi industri. Dalam konteks ini, Batam diposisikan sebagai safe industrial harbor–lokasi industri dengan risiko minimal dan kepastian maksimal.

Baca Juga: Industri Migas Batam Dinilai Berdaya Saing Tinggi

Konsep tersebut, kata Fary, bertumpu pada lima fondasi utama. Pertama, stabilitas regulasi, di mana aturan tidak sering berubah. Kedua, kepastian lahan dan utilitas seperti listrik, air, serta kesiapan pelabuhan. Ketiga, stabilitas politik dan keamanan. Keempat, konektivitas logistik yang kuat. Dan kelima, tata kelola yang pro-bisnis.

Karena itu, dirinya memandang bahwa indikator yang paling menentukan bagi investor bukanlah IHSG, melainkan kepastian lahan, ketersediaan utilitas infrastruktur, kecepatan perizinan, serta sinyal kepemimpinan yang konsisten dalam mendukung iklim usaha.

Terkait realisasi investasi, BP Batam menyebut belum terdapat indikasi pembatalan komitmen investasi secara signifikan. Evaluasi dan penyesuaian waktu realisasi masih mungkin terjadi dalam dinamika global, namun secara umum minat investor terhadap Batam tetap terjaga.

BP Batam juga memprioritaskan penguatan proyek-proyek strategis yang menopang kepercayaan investor, terutama di sektor infrastruktur dasar dan pelayanan perizinan. Pendekatan ini mampu menjaga Batam tetap kompetitif sebagai salah satu pusat industri dan logistik utama di kawasan barat Indonesia. (*)

ReporterArjuna

Update