Senin, 13 April 2026

Gejolak Timur Tengah Picu Krisis Berantai, Batam Rentan Terdampak

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam sekaligus dosen ekonomi, Suyono Saputra.

batampos – Gejolak konflik di kawasan Timur Tengah mulai memicu efek berantai ke berbagai belahan dunia. Peringatan Singapura agar bersiap menghadapi tekanan global bukan lagi sekadar wacana.

‎Di tengah ketidakpastian energi dunia, Batam sebagai kota industri dan perdagangan mulai dibayangi tekanan ekonomi yang nyata.

‎Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Batam sekaligus dosen ekonomi, Suyono Saputra, menegaskan bahwa dampak krisis tidak hanya dirasakan oleh negara tertentu seperti Singapura, melainkan bersifat global dan merata.

‎“Seluruh dunia akan ikut terdampak,” ujarnya, Minggu (12/4) siang.

‎Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia akan cepat merambat ke berbagai sektor. Mulai dari bahan bakar, biaya distribusi, hingga harga barang di pasar, semuanya saling terhubung dalam satu rantai.

‎“Kalau harga minyak mentah naik, bahan bakar bakal ikut naik. Maka ongkos logistik juga naik. Logistik naik, bisa membuat harga barang ikut naik,” jelasnya.

‎Saat biaya logistik membengkak, pelaku usaha hampir tidak punya pilihan selain menaikkan harga jualnya. Dampaknya langsung terasa di kantong masyarakat.

‎Di sisi lain, dunia industri juga menghadapi tekanan berat. Kenaikan biaya energi, ditambah potensi lonjakan tarif listrik dan upah, membuat ruang efisiensi semakin sempit.

‎“Di sektor riil bisa membuat barang hasil produksi jadi tidak efisien, apalagi jika diikuti dengan kenaikan tarif listrik dan upah,” katanya.

‎Dalam kondisi seperti ini, Batam dinilai berada di posisi rentan. Ketergantungan pada industri manufaktur dan arus barang lintas negara membuat kota ini sensitif terhadap setiap gejolak global.

‎“Batam sebagai kota industri rentan mengalami situasi ini,” tegas dia.

‎Meski begitu, kondisi pasar saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan tekanan yang sebenarnya. Situasi yang terlihat tenang justru meninabobokan jika membuat semua pihak lengah.

‎Jika gangguan distribusi energi terjadi, sektor manufaktur diperkirakan paling terdampak, disusul logistik, transportasi, hingga pelaku UMKM dengan margin usaha yang terbatas.

‎Di tengah situasi tersebut, rencana pemerintah pusat untuk menaikkan harga BBM menjadi faktor tambahan yang sulit dihindari. Kenaikan harga energi hampir pasti akan diikuti lonjakan harga barang dan jasa.

‎“Ancaman inflasi sudah pasti,” katanya.

‎Tekanan ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, sekaligus menempatkan pelaku usaha pada dilema antara menaikkan harga atau menanggung biaya produksi yang terus meningkat.

‎Karena itu, langkah antisipasi dinilai harus segera disiapkan. Pemerintah daerah bersama BP Batam diminta tidak menunggu kondisi memburuk, tetapi mulai memetakan risiko sejak sekarang.

‎“Untuk itu pemerintah dan BP Batam harus menyiapkan langkah mitigasi dengan mengundang para pelaku industri manufaktur untuk memetakan potensi masalah,” ujarnya.

‎Langkah ini dinilai penting agar kebijakan yang diambil tidak bersifat reaktif, melainkan berdasarkan kondisi nyata di lapangan—mulai dari stabilitas harga, kelancaran distribusi, hingga keberlangsungan industri.

‎Di tengah ketidakpastian global, harapan tetap ada. Upaya diplomasi internasional dinilai menjadi kunci meredam tekanan yang terjadi saat ini.

‎“Kita berharap perundingan di Pakistan bisa memberikan hasil positif agar dunia tidak chaos,” kata Suyono.

‎Meski jalur vital seperti Selat Hormuz masih terbuka, gangguan pada sejumlah fasilitas energi di kawasan Timur Tengah disebut belum sepenuhnya pulih.

‎“Walaupun Selat Hormuz dibuka, kerusakan di beberapa fasilitas di Qatar dan Saudi butuh waktu untuk recovery. Ini tentu akan berdampak juga bagi pemulihan ekonomi global,” tuturnya. (*)

ReporterM. Sya'ban

UPDATE