Selasa, 14 April 2026

Genjot Produksi Ikan Air Tawar, Pemko Batam Siapkan 96 Bantuan Bioflok

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Kota Batam, Yudi Admajianto mendorong transformasi ekonomi melalui budidaya ikan sistem bioflok. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perikanan kembali melanjutkan program bantuan bioflok pada tahun 2026. Tahun ini, sebanyak 96 unit bioflok direncanakan akan disalurkan kepada kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) sebagai upaya memperkuat produksi ikan air tawar di daerah tersebut.

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan program ini merupakan kelanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024, sebanyak 79 paket bioflok telah disalurkan, kemudian meningkat menjadi 137 unit pada 2025.

“Untuk 2026 kita rencanakan ada 96 unit bioflok tambahan. Ini bagian dari komitmen pemerintah untuk terus mendorong produksi ikan air tawar di Batam,” ujarnya, Senin (13/4).

Ia menjelaskan, bantuan bioflok tidak diberikan secara merata, melainkan diprioritaskan bagi kelompok pembudidaya baru. Hal ini dilakukan agar lebih banyak masyarakat bisa merasakan manfaat teknologi tersebut.

“Sesuai ketentuan, penerima bantuan tahun sebelumnya tidak akan menerima lagi. Kita ingin pemerataan, jadi kelompok baru yang kita utamakan,” jelasnya.

Adapun sasaran penerima bantuan adalah kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) yang aktif dan memiliki kesiapan dalam menjalankan budidaya. Selain itu, kelompok juga harus memenuhi sejumlah persyaratan administratif dan teknis.

Beberapa syarat umum di antaranya memiliki kelompok budidaya yang terdaftar atau diakui, memiliki lokasi atau lahan yang siap digunakan dan bersedia mengikuti pendampingan dari Dinas Perikanan. Selain itu mengajukan proposal bantuan sesuai mekanisme yang berlaku.

Saat ini, proses penyaluran bantuan masih dalam tahap verifikasi administrasi, survei lokasi, dan pemilihan penyedia. Penentuan penerima juga mempertimbangkan usulan melalui pokok pikiran (pokir).

Program bioflok sendiri dinilai menjadi solusi efektif bagi Batam yang memiliki keterbatasan lahan. Dengan teknologi ini, budidaya ikan seperti lele dan nila tetap bisa dilakukan secara optimal di ruang terbatas.

“Dengan bioflok, produktivitas tetap tinggi meski lahan sempit. Ini sangat cocok untuk kondisi Batam,” tambah Yudi.

Dinas Perikanan juga memastikan akan melakukan pendampingan kepada kelompok penerima, mulai dari tahap awal hingga proses produksi berjalan. Bantuan yang diberikan umumnya mencakup kolam terpal bioflok, bibit ikan, hingga pakan.

Dengan berlanjutnya program ini, Pemko Batam optimistis produksi ikan air tawar akan terus meningkat, sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasaran.(*)

UPDATE