Senin, 19 Januari 2026

Gerobak Risyanto, Antarkan hingga Kesuksesan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Seluruh karyawan Toteles yang akan family gathering. F. Toteles untuk Batam Pos

Bermula dari gerobak kaki lima, hingga memiliki berbagai cabang dan ratusan karyawan. Kisah inspiratif Owner Toteles Bake House, kunci buat usaha itu adalah pantang menyerah.

FISKA JUANDA, BATAMKOTA

Masih jelas dalam ingatan Risyanto. Setiap pagi, langkah kakinya menyusuri jalanan Batam dengan gerobak dorong. Gerobak dibeli dengan harga Rp1,9 juta, hasil menjual laptop satu-satunya.

Gerobak itulah saksi bisu dari hari-hari yang penuh perjuangan. Wajan dan kompor ia pinjam. Donat kentang, satu-satunya produk jualannya saat itu. Resepnya, dipelajari dari Google.

Lima kali gagal membuatnya menghela napas panjang, tapi satu kali berhasil cukup membuat harapan tumbuh. Hidup di tanah rantau, tanpa keluarga, tanpa saudara, membuatnya tak punya pilihan lain selain bertahan.

Setiap hari pukul 09.00 pagi, ia memulai rutinitas. Belanja ke pasar, membawa pulang bahan segar untuk diolah. Adonan digulung, digoreng, dikemas, dan siap dijual.

Dari siang sampai malam, ia berjaga di pinggir jalan hingga pukul 21.30. Kadang sambil menahan kantuk, kadang sambil menahan lapar. Tapi semua dijalani dengan ikhlas.

“Capek banget,” katanya mengenang masa-mas itu.

“Tapi rasanya nikmat, karena saya tahu saya sedang mengejar sesuatu,” lanjutnya.

Kadang malam hari, ia nongkrong sendiri, sekadar melepas penat dan menjaga kewarasan. Obrolannya dengan diri sendiri soal masa depan, impian, dan ambisi—menjadi bahan bakar saat tubuh nyaris menyerah.

Tahun 2015, belum banyak anak muda berani berwirausaha. Sementara Risyanto justru memberanikan diri mempekerjakan orang lain. Di tengah hasil jualan yang pas-pasan, ia merekrut karyawan.

“Saya gak pernah takut gagal bayar gaji. Karena saya percaya, setiap karyawan membawa rezekinya sendiri,” ucapnya.

Tapi bisnis tak selalu manis. Beberapa kali dagangannya tak laku. Pernah juga harus pulang dengan tangan hampa. Namun daripada stres memikirkan penjualan, ia memilih tetap berjalan.

Sampai akhirnya, ia dapat arisan Rp14 juta, yang menjadi titik balik. Rp8 juta ia gunakan untuk sewa kios 3 bulan, Rp4 juta untuk membayar utang, sisanya untuk beli bahan baku. Toteles Bake House mulai beranjak dari trotoar ke toko kecil.

Namun, badai datang lagi. Utang menumpuk hingga ratusan juta. Gerobak donat pun ia relakan, diberikan kepada orang lain.

Ia kehilangan banyak, termasuk keyakinan akan dirinya sendiri. Tapi satu yang tak ia lepaskan: doa.

Ia tidur di masjid, karena tak mampu lagi menyewa kos. Setahun bisa enam kali pindah tempat tinggal, demi cari yang lebih murah. Ia dihina karena menjual kue. “Cowok kok kerjaannya kayak ibu-ibu,” kata orang-orang.

Tapi ia tahan. Hatinya lebih keras dari komentar mereka.

Hampir empat tahun, hasil usahanya hanya utang dan lelah. Tidak ada tabungan. Tidak ada perkembangan.

“Kelihatannya punya usaha, padahal gak punya apa-apa,” katanya sembari tertawa-tawa.

Namun saat titik terendah datang, Risyanto tak benar-benar hancur. Ia memilih bangkit, lagi.

Ia berintrospeksi, berinovasi, menyusun ulang strategi. Ia lebih gigih, lebih tekun. Keyakinannya hanya satu, usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Dan keyakinan itu pelan-pelan menjelma jadi kenyataan. Donatnya makin laku, varian kue bertambah, pelanggan datang dari berbagai arah.

Ia tak hanya mempekerjakan satu dua orang, tapi kini lebih dari 100 karyawan bekerja di bawah panji Toteles Bake House.

Produksi harian mencapai 30 ribu potong kue. Risyanto pun kini memiliki beberapa cabang.

Semua itu tanpa satu rupiah pun pinjaman dari bank, tanpa satu persen pun suntikan dari investor. Hanya modal kepercayaan, kerja keras, dan doa yang tak pernah putus.

“Saya gak nyangka bisa sampai di titik ini. Tapi saya percaya, ada kekuatan besar yang bekerja di balik usaha manusia,” ucapnya lirih.

Risyanto kini tak sekadar berjualan kue. Ia memberi penghidupan bagi ratusan orang. Ia menyebarkan semangat bahwa gagal itu wajar, asal jangan menyerah.

Bahwa sukses bukan hanya tentang uang, tapi tentang bertahan saat tak ada yang yakin pada kita, bahkan diri sendiri.

Toteles Bake House adalah bukti hidup, bahwa dari pinggir jalan bisa tumbuh sebuah kerajaan kue.

Bahwa doa seorang anak rantau bisa sampai ke langit, dan ditukar Tuhan dengan jalan pulang yang manis. Dan bahwa kadang, gerobak tua dan wajan pinjaman bisa mengantar seseorang menjadi legenda. (***)

Update