Sabtu, 10 Januari 2026

Harga Bahan Pokok di Batam Melonjak Jelang Natal, Ayam Potong dan Telur Tembus Rekor Tertinggi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Harga telur ayam di Batam kian tinggi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru. F.Iman Wachyudi

batampos – Lonjakan harga bahan kebutuhan pokok di Kota Batam kian terasa dan menekan masyarakat jelang perayaan Natal. Tak hanya cabai dan beras, harga ayam potong dan telur ayam kini menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, membuat ibu rumah tangga hingga pedagang makanan mengeluh.

Seorang pedagang rumah makan di Sekupang, Yanti mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku terjadi hampir merata. Salah satunya pada komoditas daging ayam yang sebelumnya dijual di kisaran Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, kini melonjak menjadi Rp48 ribu.

“Biasanya paling mahal Rp40 ribu, sekarang sudah Rp48 ribu. Tapi harga jual makanan tetap kami sesuaikan. Kalau terlalu mahal, nanti tidak ada yang beli,” ujarnya.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada cabai merah. Saat ini, harga cabai merah tembus Rp85 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Komoditas lain seperti buncis juga ikut mengalami kenaikan.

Baca Juga: Kepri Mall Bertransformasi Jadi K SQUARE, Hadirkan Konsep Lifestyle Baru di Jantung Kota

Harga tinggi membuat pedagang di pasar memilih mengurangi stok. Mereka khawatir barang dagangan tidak laku karena daya beli masyarakat melemah.

“Di pasar sekarang orang tidak berani jual banyak. Ambil sedikit saja stoknya, takut tidak laku karena harga mahal,” kata pedagang lainnya.

Ia menyebut, beberapa pekan sebelumnya cabai masih sempat dibeli dengan harga Rp65 ribu per kilogram, namun kembali melonjak dalam waktu singkat.

Tak hanya sayur-mayur, harga beras juga ikut naik. Beras merek Raja Ketupat yang biasanya dibeli Rp280 ribu per karung ukuran 25 kilogram, kini naik menjadi Rp330 ribu per karung. Sementara itu, harga kol saat ini mencapai Rp35 ribu per kilogram.

“Kondisi ini sangat memberatkan, bukan cuma ibu rumah tangga, tapi juga pedagang makanan. Semua bahan naik, sementara harga jual tidak bisa ikut naik banyak,” keluh pedagang.

Dengan kenaikan yang terjadi hampir di semua komoditas utama, pedagang mengaku keuntungan semakin tipis. Mereka berada di posisi sulit antara mempertahankan pelanggan dan menutup biaya operasional.

“Untungnya jadi tipis. Mau naikkan harga jual, kasihan pembeli. Tapi kalau tidak dinaikkan, kami juga berat,” ujarnya.

Baca Juga: Pilates di Batam: Ini 6 Studio dengan Fasilitas Lengkap dan Trainer Profesional

Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pengawasan dan stabilisasi harga, terutama menjelang hari besar keagamaan, agar lonjakan harga tidak semakin membebani warga.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, sebelumnya mengatakan bahwa sebagian besar kebutuhan pokok seperti cabai di Batam masih dipasok dari luar daerah seperti Mataram, Yogyakarta, Sumatera Utara, Aceh, dan Padang. Namun, karena daerah-daerah tersebut juga mengalami penurunan produksi, dampaknya terasa langsung terhadap kenaikan harga di Batam.

“Masalah harga cabai ini bukan hanya terjadi di Batam, tapi hampir di seluruh Indonesia. Karena itu, solusi yang paling realistis adalah memperkuat produksi sendiri,” ujar Mardanis.

Ia juga membandingkan harga cabai di jakarta yang menyentuh 70 ribu per kg, sementara untuk cabai merah besar Rp 80 ribu per kg, bawang merah 50 ribu per kg.

Sementara itu untuk produksi cabai merah di batam sendiri baru panen dan petani batam cabe merah baru 100 kg perhari jadi blm bisa intervensi harga. sementara disisi kebutuhan di batam untuk cabai merah di angka 15-20 ton per hari. (*)

Update