
batampos – Harga cabai di sejumlah pasar tradisional di Kota Batam kembali meroket tajam. Setelah sempat bertahan di level tinggi, kini harganya melonjak lebih ekstrem hingga membuat ibu rumah tangga dan pedagang makanan kewalahan menutupi biaya belanja harian.
Kenaikan harga cabai diduga karena beberapa daerah penghasil mengalami bencana alam longsor dan banjir.
Di Pasar Jodoh, cabai merah merah kini dijual Rp100 ribu per kilogram, sementara cabai hijau menyentuh Rp80 ribu. Cabai rawit merah atau cabai lombok menjadi yang paling mahal, mencapai Rp120 ribu per kilogram.
Kenaikan signifikan juga terlihat di Pasar Botania. Cabai merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram, kini melesat menjadi Rp120 ribu. Cabai hijau ikut naik drastis dari Rp45 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram.
Baca Juga: Banjir di Sumatera, Pasokan Bawang dan Cabai Kepri Didatangkan dari Yogyakarta dan Sulawesi
Adapun cabai rawit merah yang biasanya dibeli pedagang di angka Rp70 ribu, kini menyentuh Rp140 ribu. Cabai rawit biasa pun merangkak dari Rp40 ribu menjadi Rp80 ribu.
Kenaikan ini membuat banyak ibu rumah tangga mengurangi penggunaan cabai dalam masakan. Serly, warga Botania, mengaku terkejut saat mengetahui harga cabai di pasar.
“Saya sampai berdiri lama di depan lapak. Lihat harganya langsung lemas. Biasanya bisa beli setengah kilo, sekarang seperempat pun berat,” ujarnya, Minggu (30/11).
Ia mengatakan, kenaikan harga cabai kali ini terasa paling membebani. Di rumah, ia terpaksa membuat sambal dalam porsi kecil agar tetap hemat.
“Kalau begini terus, mau masak sambal pun harus mikir dua kali. Namun paham juga karena kondisi bencana di beberapa daerah,” keluhnya.
Para pedagang makanan juga tak luput dari tekanan. Erna, pedagang masakan Padang di Sei Beduk, mengaku biaya produksi harian melonjak tajam.
“Sambal itu napas dagangan kami. Kalau cabai mahal begini, langsung terpukul,” katanya.
Baca Juga: Anggota DPRD Kepri Desak Batam Bentuk Badan Khusus Pengelolaan Sampah
Ia menjelaskan, kenaikan harga membuatnya sulit menentukan pilihan. Menambah harga menu berisiko membuat pelanggan kabur, sementara mempertahankan harga membuat keuntungan tergerus.
“Serba salah. Cabai rawit merah sekarang lebih mahal dari daging,” ujarnya sambil menggeleng.
Lonjakan harga ini dipicu kondisi di daerah pemasok utama. Sejumlah wilayah penghasil cabai di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Acehterdampak musibah banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Gangguan ini membuat produksi turun signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis tak menapik adanya lonjakan harga sejumlah kebutuhan. Termasuk cabai.
“Ya semua daerah naik, apalagi ada banjir di wilayah Sumatera,” ujar Mardanis.
Pasokan ke Batam ikut terhambat karena banyak jalur distribusi yang tidak dapat dilewati. Sebagian petani juga gagal panen akibat tanaman rusak diterjang hujan deras berkepanjangan. Dampaknya, stok cabai yang masuk ke pasar Batam berkurang drastis.
Situasi ini diperkirakan belum sepenuhnya pulih dalam waktu dekat, terutama karena cuaca ekstrem masih berlangsung di beberapa daerah pemasok. Selama pasokan belum normal, pedagang memperkirakan harga cabai akan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan.
“Namun untuk stok dipastikan aman,” tegas Mardanis. (*)
Reporter: Yashinta



