
batampos – Harga daging sapi beku di Batam masih belum turun. Di sejumlah pasar tradisional, harganya menembus Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Distributor mengklaim harga dari mereka sebenarnya hanya Rp90 ribu per kilogram.
Ketua Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Aryanto, membenarkan adanya kenaikan harga daging sapi beku selama beberapa bulan terakhir.
“Ya memang ada kenaikan harga daging sapi. Kenaikan harga sudah dari negara pemasok,” ujar Aryanto, Jumat sore.
Menurut dia, di pasaran harusnya harga daging sapi beku Rp 100-105 ribu per kg. Dimana pedagang sudah bisa mendapatkan keuntungan Rp 10-15 ribu per kgnya.
“Kalau sampai Rp120 ribu, itu terlalu tinggi. Harga dari distributor hanya Rp90 ribu. Mungkin ada tambahan ongkos kirim atau pedagang ambil barangnya sudah tinggi, tapi kalau segitu, patut dipertanyakan,” sebutnya.
Disinggung apakah ada permasalahaan penyaluran atau pasokan dari negara asal, Aryanto menegaskan tak ada masalah. Sehingga ia memastikan kenaikan murni karena naiknya harga dari daerah asal.
“Memang ada kenaikan, tapi tidak signifikan. Mudah-mudahan tidak ada kenaikan lagi,” kata Aryanto.
Terkait ketersediaan stok, Aryanto memastikan pasokan masih cukup aman. Bahkan untuk beberapa bulan ke depan.
“Untuk dua bulan ke depan stok masih tersedia. Jadi masyarakat tidak perlu panik,” katanya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar segera melaporkan jika menemukan harga yang terlalu tinggi. “Takutnya ada oknum-oknum nakal yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga. Kalau harga daging beku sudah sama dengan daging segar, itu jelas tidak wajar,” tegasnya.
Sementara itu, Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ruslaeni, mengatakan tingginya harga daging sapi juga dipengaruhi faktor distribusi. Penyaluran daging sempat terganggu karena proses masuk lebih ketat.
“Masuknya daging ke Batam harus melalui pemeriksaan dokumen dan pengawasan kesehatan hewan. Itu membuat distribusi sedikit terlambat,” jelasnya.
Selain faktor administrasi, kondisi geografis juga ikut berpengaruh. “Karena kita wilayah kepulauan, cuaca sering menjadi kendala dalam pengiriman barang. Itu yang membuat pasokan ke pasar agak terlambat,” ujar Ruslaeni.
Meski begitu, ia memastikan pihaknya terus mengawasi peredaran bahan pokok, khususnya daging sapi, agar tidak ada permainan harga di tingkat distributor maupun pedagang. “Kami akan tindak tegas jika ada yang terbukti melakukan kecurangan dengan menaikkan harga di luar kewajaran,” tegasnya. (*)
Reporter: Yashinta



