Selasa, 13 Januari 2026

Harga Santan Kelapa Melonjak dan Sulit Didapat, Pemilik Rumah Makan Mengeluh

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Harga santan kelapa di Batam mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu faktor utama penyebab kelangkaan santan adalah perubahan sistem pembelian kelapa oleh pengepul. Jika sebelumnya kelapa dijual per biji, kini pembelian dilakukan dengan sistem timbang. Foto. Iman Wachyudi/ Batam Posantan 

batampos – Harga santan kelapa di Batam mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Jika sebelumnya santan dijual dengan harga sekitar Rp22 ribu per kilogram, kini harganya melonjak hingga Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Tidak hanya mahal, santan murni juga mulai sulit didapat di pasaran, menyebabkan keluhan dari berbagai kalangan, terutama pemilik usaha kuliner dan ibu rumah tangga.

Salah satu faktor utama penyebab kelangkaan santan adalah perubahan sistem pembelian kelapa oleh pengepul. Jika sebelumnya kelapa dijual per biji, kini pembelian dilakukan dengan sistem timbang. Hal ini membuat harga kelapa melonjak karena ukuran besar dan kecil dihitung rata, tanpa mempertimbangkan kualitas. Akibatnya, pasokan kelapa untuk produksi santan semakin terbatas dan harga jualnya ikut naik.

Alwi, seorang pedagang santan dan bumbu dapur di Pasar Sagulung, mengakui bahwa tren kenaikan harga ini sudah terjadi sejak pergantian tahun. Namun, dalam sebulan terakhir, kondisi semakin parah, di mana stok santan semakin langka di pasaran. “Kalau pun ada, harganya mahal sekali. Banyak pelanggan mengeluh, terutama pemilik rumah makan yang sangat bergantung pada santan,” ungkapnya.

Hendro, seorang pemilik rumah makan di Batam, merasakan dampak besar dari kenaikan harga santan ini. Ia mengaku tidak bisa mengurangi penggunaan santan dalam resep masakannya karena pelanggan menyukai cita rasa yang sudah ada. “Santan ini bahan utama di beberapa menu saya. Tidak mungkin dikurangi karena bisa mengubah rasa makanan,” ujarnya. Sebagai solusi, Hendro terpaksa mengurangi porsi lauk agar tetap bisa menutupi biaya produksi yang semakin membengkak.

Tidak hanya pelaku usaha, ibu rumah tangga juga mengeluhkan kondisi ini. Yanti, warga Batuaji, mengatakan bahwa ia kini kesulitan mendapatkan santan murni dengan harga terjangkau. “Santan kemasan memang tersedia, tapi harganya lebih mahal dan rasanya tidak seautentik santan segar,” katanya. Ia berharap pemerintah dapat segera mengatasi masalah ini agar harga santan kembali stabil.

Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, kenaikan harga ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tingginya tarif pengiriman kelapa dari luar daerah. “Sebagian besar kelapa yang digunakan di Batam dikirim dari Tembilahan menggunakan kapal. Kenaikan tarif angkutan ini berdampak langsung pada harga kelapa, yang kemudian berimbas pada harga santan,” jelasnya.

Selain itu, Mardanis menyebutkan bahwa saat ini petani kelapa juga menghadapi kesulitan dalam proses panen. Hal ini membuat pasokan kelapa semakin terbatas, yang pada akhirnya turut menyebabkan kenaikan harga santan di pasaran. “Setelah saya berkoordinasi dengan distributor kelapa, ternyata masalah utamanya adalah biaya angkut yang naik drastis,” tambahnya.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah Kota Batam berencana menggelar operasi pasar guna menstabilkan harga santan. Langkah ini dinilai penting mengingat sebentar lagi memasuki bulan Ramadan, di mana permintaan akan santan biasanya meningkat. “Kami akan segera melakukan operasi pasar karena harga bahan pokok seperti santan pasti akan lebih tinggi menjelang Ramadan,” kata Mardanis.

Sementara itu, beberapa pedagang berharap ada solusi jangka panjang dari pemerintah untuk mengendalikan harga santan. “Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, kami yang jualan makanan bisa rugi besar. Harus ada regulasi supaya harga kelapa dan santan lebih stabil,” ujar Hendro.

Dengan harga santan yang masih tinggi dan pasokan yang terbatas, masyarakat Batam kini harus beradaptasi dengan kondisi ini. Beberapa orang memilih mengurangi penggunaan santan dalam masakan mereka, sementara yang lain terpaksa mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan bahan makanan yang menjadi bagian penting dari berbagai hidangan khas Indonesia. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update