
batampos – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri yang baru, Hasan, mulai menunjukkan gebrakan dalam menata dan menggenjot sektor pariwisata.
Fokus utama yang diusungnya adalah mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif sebagai penopang pertumbuhan ekonomi dan daya tarik pariwisata daerah.
“Pengembangan ekosistem ekonomi kreatif berbasis pada pergerakan pertumbuhan ekonomi daerah menjadi perhatian utama kami,” katanya, Sabtu (31/5) lalu.
Menurutnya, mengembangkan sektor ekonomi kreatif bukanlah perkara mudah. Terlebih, pelaku industri kreatif di Kepri masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar. Salah satu langkah awal yang tengah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri saat ini adalah melakukan pendataan terhadap pelaku industri kreatif.
Baca Juga: Pemko Batam Gelar Operasi Pasar Murah di Enam Lokasi, Mulai Hari Ini
“Pendataan ini penting karena masing-masing karya atau produk dari pelaku ekonomi kreatif perlu didaftarkan sebagai kekayaan intelektual,” ujarnya.
Tak hanya berhenti di pendataan, pembinaan dan pengawasan terhadap pelaku ekonomi kreatif juga ia galakkan. Tujuannya adalah menjadikan hasil pengembangan tersebut sebagai daya tarik sektor pariwisata, khususnya dalam aspek pemasaran produk-produk kreatif lokal.
Hasan berharap Kepri dapat menjadi salah satu dari enam provinsi prioritas dalam pengembangan ekonomi kreatif nasional sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
“Tentu ini menjadi tugas kami, terutama dalam hal memasarkan hasil industri kreatif agar berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan menjadi magnet wisata,” kata Hasan.
Di sisi lain, ia menyoroti pekerjaan rumah yang tak kunjung usai: bagaimana mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepri.
Baca Juga: Ekonomi Kreatif Diproyeksikan Jadi Penggerak Wisata Daerah
Ia menyambut baik kebijakan pemerintah pusat melalui Kementerian Imigrasi yang telah menyetujui empat skema kemudahan kunjungan wisata ke Kepri. Kebijakan ini merupakan hasil usulan dari Pemprov Kepri dan diyakini akan menjadi terobosan besar.
“Ini kebijakan yang luar biasa. Bebas kunjungan bagi pemegang permanent residence (PR), student pass, long term visa, dan wisatawan dari 97 negara dengan biaya terjangkau. Untuk kunjungan tujuh hari hanya Rp250 ribu, dan 30 hari Rp500 ribu,” kata dia.
Kebijakan tersebut disambut positif oleh pelaku pariwisata di Kepri. Namun Hasan menyebut, bahwa tantangan berikutnya ada di pundak pemerintah daerah, yakni memastikan kenyamanan dan kepuasan wisatawan selama berkunjung.
“Pariwisata itu konsepnya pelayanan dan citra. Kalau ada satu saja citra negatif, itu bisa menyebar luas dan jadi preseden buruk,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kepri, kunjungan wisman hingga Maret 2025 telah menembus angka 400 ribu lebih. Angka ini menunjukkan tren positif menuju target 1,9 juta kunjungan wisman sepanjang tahun 2025.
Hasan optimistis target tersebut akan tercapai, terutama dengan dukungan dari sejumlah program strategis. “Kepri tetap menjadi tiga besar penyumbang kunjungan wisman nasional. Primadona tetap Batam, lalu Bintan sebagai destinasi andalan,” tambahnya. (*)
Reporter: Arjuna



