Selasa, 13 Januari 2026

Hati-Hati Terbuai Ucapan Manis

spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos- MAU ngomong jujur, tapi takut bikin sakit hati. Huftt! Gini amat jadi orang yang nggak enakan. Daripada berujung nggak baik, alhasil memilih untuk jaga sikap dan ucapan saat berbicara dengan orang lain. Pendapat atau kritik tersebut bahkan sengaja dibalut dengan kata-kata manis. Tindakan itulah yang disebut sebagai sugar coating!

Sugar coating merupakan suatu tindakan untuk menyampaikan hal negatif secara halus. Well, kesannya memang baik, tapi kalau dipikirkan lagi, sugar coating nggak jauh berbeda dengan kebohongan. Sebab, informasi yang sudah di-sugar coat bisa berujung pada hilangnya beberapa detail informasi karena dianggap akan melukai orang lain.

Lalu, apa bedanya dengan white lie? Istilah white lie atau kebohongan putih digunakan untuk menjelaskan tindakan bohong dengan maksud ’’baik’’. Meski keduanya sama-sama bermulut manis demi menjaga perasaan orang lain, sugar coating berbeda dengan white lie. Ungkapan dengan sugar coating bisa saja sesuai fakta, tetapi cara penyampaiannya lebih manis. Berbeda dengan white lie yang asli kebohongan.

Menariknya, berdasar survei dari SWNS, seseorang biasanya melakukan sugar coating sebelas kali dalam seminggu, lho! Entah untuk menghindari argumen ataupun menyinggung seseorang. Ada beberapa situasi yang membuat kita terjebak dalam sugar coating. Misalnya, ketika kamu harus memberikan pendapat tentang masakan, outfit, penampilan, bahkan ketika kamu menerima kritik dari orang lain.

Niat baik untuk melakukan sugar coating biar nggak menyakiti hati ternyata punya banyak dampak negatif. Jika terlalu sering, sugar coating bisa berubah menjadi manipulatif. Nggak cuma itu, tetapi juga misleading! Misalnya, ada temanmu yang bikin suatu gambar, tapi masih terlihat buruk. Kalau kamu bilang gambarnya bagus, itu bakal menghambatnya untuk berkembang.

Sugar coating juga bikin kamu nggak tahu cara menyelesaikan suatu masalah. Terlalu sering dapat feedback yang manis bakal terjebak dalam toxic productivity, bikin terlena, dan nggak bisa belajar lebih. Parahnya lagi, sugar coating bisa berujung pada tindakan pasif agresif yang berdampak buruk pada kondisi mental.

Eitss, nggak melakukan sugar coating nggak berarti kamu bisa menyampaikan pendapat yang terlintas di otakmu tanpa difilter. Tetap lihat situasi dan lawan bicaramu. ’’Saya melihat sugar coating sebagai trik, bukan skill, dan saya tidak akan merekomendasikan untuk digunakan. Apalagi, ada banyak teknik komunikasi lain yang tersedia, teknik yang memberikan dampak yang lebih baik bagi orang lain,’’ ungkap psikolog Lucia Grosaru
melansir Psychology Corner. Jadi, jangan biasakan diri untuk melakukan sugar coating, ya!  (elv/c12/lai)

Personality Type Check

Nggak Mau Melukai Hati

ENFJ dan ISFJ biasanya melakukan sugar coating karena khawatir melukai hati orang lain. Kalau tipe ESFJ dan ISFP cuman mau mengurangi dampak negatif dari kritik yang ingin mereka sampaikan, nggak bermaksud nggak jujur, ya! Beberapa MBTI lain seperti ESFP, INFJ, dan INFP juga terkadang memilih untuk sugar coat meskipun nggak sesering MBTI lainnya. Mereka bisa jujur sepenuhnya hingga terkesan agak kejam di situasi tertentu,  misalnya ketika marah.

Anti-Sugar Coat Club

ENFP, INTP, ISTP, dan ENTP percaya pada kebenaran. Mereka menjunjung tinggi kejujuran dan efisiensi ketika menyampaikan sesuatu. Bahkan, ketika ingin sugar coat dikit, jadinya malah gagal. Kalau INTJ sama ESTJ nggak pengin terkesan berpura-pura di depan orang lain, terutama ke orang terdekat. Menurut mereka, orang dapat belajar dan bertumbuh lebih baik dengan mengetahui kebenaran. Begitu pun ENTJ, ISTJ, dan ESTP. Mereka mungkin bisa terlihat kejam di saat tertentu, tapi niatnya baik kok!

 

Sugar Coating? Stop Now!

Reporter: Vany Aliffia
Editor: Ratna Irtatik

Di antara kalian pasti punya sikap yang gak enakan kepada teman. Ini membuat kita menjaga prilaku dan berbicara dengan kata-kata yang manis atau yang biasa disebut dengan sugar coating. Kesannya baik tapi efeknya gak selalu baik. But, disisi lain kita akan merasa aman dan orang akan terjaga perasaannya. Namun, sugar coating justru memberi
sisi negatif pada kedua belah pihak lho! Lalu, bagaimana sih cara menyikapi situasi ini? Yuk Simak! (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Rayhan Alfikri
Politeknik Negeri Batam
@rayhan.alfkr
Sugar coating bisa memanipulasi keadaan tertentu. Karena dengan sugar coating, kita telah berbohong secara berulang ulang. Padahal tujuannya untuk menjaga perasaan orang lain. Efeknya teman kita ini tidak bisa belajar dan mengoreksi diri. Cobalah untuk menghindari situasi ini dengan cara merasakan dan kelola emosi negatif, kamu boleh meluapkan dan mengungkapkan perasaanmu. Cobalah berusaha memahami bukan menghakimi, pahami perilaku manusia, tumbuhkan rasa empati, Yang paling penting, lontarkan saja perasaan kamu jangan berbohong untuk menutupi kesalahannya, kalau begitu siap-siap saja temanmu akan mengulangi kesalahan yang sama karena kamu terlalu lembut. (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Aliah Agustina
SMA Swasta Pusri
@aliah_agustina
Mari sama-sama akui bahwa life can be suck, terimalah perasaanmu dengan terbuka. Tidak apa-apa untuk menjadi tidak baik-baik saja, jangan takut untuk mengkritik orang, atau menegur. Jika mereka salah, kenapa kita harus menegurnya dengan perkatan manis? Ya, meski terkesan melindungi perasaan, namun sugar coating bisa menutupi kebenaran yang ada. Cobalah menuliskan perasaanmu, tidak semua orang bisa mencurahkan perasaannya dengan kondisi ini kamu bisa meluapkan semua emosi dan pikiran ke dalam tulisan. (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Judianto Situmorang
Politeknik Negeri Batam
@judianto.situmorang.3
Belajar lah menerima perasaan tidak menyenangkan yang dirasakan diri sendiri. Karena dapat menekan emosi buruk yang dapat berkembang lebih besar. Jadi belajarlah untuk mulai menerima perasaan yang nggak happy, daripada harus berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. (*)

Update