
batampos– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam merilis daftar 10 besar penyakit terbanyak yang ditangani puskesmas sepanjang Januari hingga Agustus 2025. Dari laporan tersebut, hipertensi esensial (tekanan darah tinggi) konsisten menduduki peringkat pertama setiap bulannya dengan jumlah kasus tertinggi dibanding penyakit lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan tren ini menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi masalah kesehatan utama masyarakat Batam.
“Sepanjang Januari hingga Agustus 2025, hipertensi selalu menempati posisi teratas. Rata-rata pasien yang terdiagnosa mencapai lebih dari 5 ribu kasus setiap bulannya,” ujarnya, Rabu (24/9).
Berdasarkan data, kasus hipertensi tertinggi tercatat pada Agustus 2025 dengan 5.781 pasien, terdiri dari 1.932 laki-laki dan 3.849 perempuan. Angka ini meningkat dibanding bulan Juni 2025 yang berjumlah 5.306 kasus.
BACA JUGA: Cegah Hipertensi dan Diabetes, Puskesmas Tanjung Buntung Gelar Prolanis dan Cek Kesehatan Gratis
Selain hipertensi, penyakit yang juga dominan adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), dispepsia (gangguan pencernaan), serta diabetes melitus tipe 2.
“Kasus ISPA dan dispepsia juga cukup tinggi, sementara diabetes melitus non-insulin dependent rata-rata menembus lebih dari seribu kasus per bulan,” kata Didi.
Menariknya, penyakit akibat infeksi HIV (B20) juga konsisten masuk dalam 10 besar, meski dengan angka lebih rendah dibanding penyakit lainnya. Kasus HIV terbanyak tercatat pada Agustus 2025 dengan 904 pasien.
Didi menegaskan, pola penyakit ini perlu menjadi perhatian bersama. Hipertensi, diabetes, dan penyakit tidak menular lainnya sangat dipengaruhi oleh pola hidup.
“Masyarakat perlu menjaga pola makan, mengurangi konsumsi garam, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala di puskesmas,” imbaunya.
Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit menular seperti ISPA dan diare yang kerap meningkat saat musim hujan.
“Kami terus mengajak masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga lingkungan, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala sakit,” tutur Didi.
Menurutnya, data bulanan dari e-Puskesmas menjadi dasar pemerintah dalam menyusun program kesehatan ke depan. “Dengan data ini, kami bisa menentukan intervensi prioritas, mulai dari pencegahan hingga penanganan agar angka kesakitan bisa ditekan,” kata Didi. (*)
Reporter: Rengga



