
batampos – Di Kota Batam saat ini ada fenomena kolapsnya sejumlah hotel kelas menengah ke bawah di Kota Batam, yang kemudian beralih fungsi menjadi kamar indekos harian hingga mingguan. Perubahan itu terlihat di sejumlah kawasan strategis seperti Batam Center, Sei Panas, hingga Nagoya, yang selama ini dikenal sebagai kantong aktivitas bisnis dan pariwisata.
Namun, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, meminta publik tidak terburu-buru menarik kesimpulan bahwa kondisi tersebut menjadi indikator memburuknya ekonomi masyarakat menengah ke bawah.
“Kita tak bisa gegabah berkesimpulan bahwa itu menandakan ekonomi menengah ke bawah bermasalah,” katanya, menanggapi maraknya alih fungsi hotel-hotel kelas menengah ke bawah di Batam, Rabu (17/12).
Baca Juga: Truk Sampah Kembali Mengular di Pintu Masuk TPA Punggur
Ia menyampaikan, jka ditarik dalam perspektif yang lebih luas, data resmi justru menunjukkan tren yang berlawanan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam lima tahun terakhir, angka kemiskinan di Batam mengalami penurunan.
Tak hanya itu, indikator ketenagakerjaan juga memperlihatkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Batam menunjukkan kecenderungan membaik, yang menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah.
Amsakar menambahkan, dari sisi investasi, struktur ekonomi Batam juga mengalami pergeseran yang patut dicermati. Investasi Penanaman Modal Asing (PMA) disebutnya cenderung mengecil, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru menguat.
“Kalau dilihat dari tren investasi juga sama. PMA itu sudah semakin mengecil, bahkan PMDN yang besar. Ini menunjukkan bahwa kelas menengah ke atas kita semakin kompetitif untuk berinvestasi di Batam,” ujar dia.
Baca Juga: Imigrasi Batam Bongkar Kerentanan Izin Tinggal WNA di Kawasan Industri
Karena itu, perubahan fungsi hotel kelas menengah ke bawah tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai kemerosotan ekonomi kelompok tertentu. Ia menilai, dinamika tersebut perlu dibaca bersama data pembanding yang lebih komprehensif.
“Menandakan bahwa banyak hotel kelas menengah ke bawah beralih fungsi lalu dianggap sebagai sinyal ekonomi menengah ke bawah bermasalah, kita tak bisa berkesimpulan seperti itu. Ada data pembanding yang cukup fair untuk menyebutkan bahwa yang terjadi justru kondisi sebaliknya,” kata Amsakar. (*)



