Minggu, 28 Juni 2026

Hotel dan Restoran Jadi Penyumbang Terbesar Food Waste di Kepri

Pemprov Dorong Pembentukan Food Bank

Berita Terkait

Ilustrasi foto sampah makanan. (jpg)

batampos – Makanan berlebih dari hotel, restoran, dan jasa boga di Kepulauan Riau selama ini masih banyak yang berakhir menjadi sampah. Padahal, sebagian besar makanan tersebut masih layak dikonsumsi dan berpotensi membantu masyarakat yang membutuhkan.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri, Moh Riza Pahlevi, mengatakan sektor jasa makanan seperti hotel, restoran, dan katering menjadi salah satu penyumbang terbesar terjadinya pemborosan pangan (food waste) di Kepri.

“Selain sektor jasa makanan, pemborosan juga masih banyak terjadi di tingkat rumah tangga. Kesadaran untuk menghabiskan makanan dan menerapkan zero food waste masih perlu terus ditingkatkan,” ujarnya, Jumat (26/6).

Menurut Riza, tingginya potensi makanan yang terbuang sebenarnya dapat dimanfaatkan apabila ada sistem yang menghubungkan pelaku usaha dengan masyarakat yang membutuhkan.

Baca Juga: Penyalahgunaan Izin Tinggal WNA di Batam Disorot, Imigrasi Tegaskan Pengawasan Berlapis

Karena itu, Pemprov Kepri menghadirkan praktisi dari Food Bank of Indonesia untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan makanan berlebih yang masih layak konsumsi agar dapat disalurkan kepada kelompok rentan pangan.

“Kami berharap konsep food bank ini bisa diadopsi di Batam maupun Kepri. Nantinya ada lembaga atau komunitas yang menjadi perantara dalam mengelola dan menyalurkan makanan berlebih secara aman kepada masyarakat,” katanya.

Ia mengungkapkan, pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia dan PHRI juga mengakui masih besarnya potensi makanan yang terbuang setiap hari. Namun, mereka belum berani menyalurkannya langsung kepada masyarakat karena mempertimbangkan aspek keamanan pangan dan tanggung jawab hukum.

“Dengan adanya lembaga khusus seperti food bank, makanan yang masih layak konsumsi dapat dikelola terlebih dahulu sesuai standar keamanan, kemudian baru didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan,” jelasnya.

Riza menambahkan, Gerakan Selamatkan Pangan tidak hanya berfokus pada penyelamatan makanan dari sektor usaha, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi pangan.

Baca Juga: Belasan Pejabat Polda Kepri Berganti, Dua Perwira Dipromosi Jadi Kapolres

Ia mencontohkan, jika setiap warga Batam hanya menyisakan satu butir nasi setiap hari, maka akumulasi pemborosan yang terjadi bisa mencapai sekitar 3 ton dalam sebulan. Angka tersebut baru berasal dari satu komoditas, yakni beras.

“Kepri merupakan daerah yang hampir 90 persen kebutuhan pangan pokoknya didatangkan dari luar. Karena itu, mengurangi pemborosan pangan menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas sosial, media, hingga para influencer, Pemprov Kepri berharap gerakan penyelamatan pangan dapat berkembang menjadi budaya sehingga makanan yang masih layak konsumsi tidak lagi berakhir di tempat pembuangan sampah, melainkan sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan. (*)

UPDATE