Senin, 30 Maret 2026

Hutan Terbakar, Waduk Nongsa Terancam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Petugas berupaya memadamkan api yang menghanguskan kawasan hutan di sekitar Waduk Nongsa, Jumat (27/3). Foto: Humas BP Batam untuk Batam Pos

batampos – Asap ti­pis masih menggantung di udara Waduk Nongsa, Jumat (27/3). Di baliknya, tersisa hamparan lahan yang menghitam—jejak kebakaran yang kembali menggerus hutan lindung di kawasan itu. Sekitar 3,85 hektare lahan hangus. Api datang cepat, di­picu tanah kering dan angin kencang yang tak bersahabat.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, turun langsung ke lokasi. Ia memastikan proses pemadaman berjalan, meski medan dan cuaca menjadi tantangan utama.

“Pemadaman sudah dilakukan sejak sore hingga tengah malam,” ujarnya.

Namun api belum benar-benar jinak. Keesokan paginya, kobaran kembali muncul. Lahan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan membuat api mudah menyala ulang.

“Karena kekeringan tinggi dan angin kencang, api kembali menyebar,” tambahnya.

Baca Juga: Pakai Trik Dilempar, 4 Paket Sabu Diselundupkan ke Lapas Batam

Pantauan udara menggunakan drone menunjukkan luas area terdampak mencapai 3,85 hektare. Kawasan ini memang dikenal rawan terbakar—dipenuhi ranting kering, daun gugur, dan lapisan gambut yang menyimpan sekam.

Di tengah situasi itu, Tuty mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Puntung rokok, pembakaran sampah, hingga aktivitas sembarangan bisa menjadi pemicu bencana yang lebih besar.

Ia juga menegaskan, lahan bekas terbakar tidak boleh dimanfaatkan secara ilegal.

“Pemanfaatan lahan tanpa izin adalah pelanggaran hukum,” tegasnya.

Lebih dari itu, ia mengajak masyarakat ikut menjadi mata dan telinga pemerintah.

“Laporkan jika ada indikasi pembakaran. Peran masyarakat sangat penting,” katanya.

Kebakaran ini bukan sekadar soal hutan yang hangus. Ada ancaman lebih besar yang mengintai: krisis air.

Batam bukan daerah dengan sungai besar atau mata air pegunungan. Seluruh kebutuhan air bersih bertumpu pada waduk tadah hujan. Ketika kawasan tangkapan air rusak, dampaknya langsung terasa—waduk kehilangan pasokan.

Baca Juga: Patroli Cipkon Polresta Barelang, Sasar Balap Liar hingga Kejahatan Jalanan

Di sisi lain, jumlah penduduk terus bertambah. Industri berkembang. Kebutuhan air melonjak. Tekanan pada waduk makin berat.

Masalahnya, kerusakan hutan lindung tak kunjung berhenti. Krisis air pun tak lagi sekadar gangguan teknis. Ia berubah menjadi persoalan struktural, berakar dari rusaknya daerah tangkapan air (DTA) yang selama ini menjadi penopang utama sistem air Batam.

Peringatan datang dari berbagai pihak. Krisis ini, jika dibiarkan, bisa menjelma menjadi bom waktu ekonomi.

Pakar lingkungan, Ir. Prastiwo Anggoro, menyebut hubungan antara kerusakan hutan dan krisis air bersih bersifat langsung. “Ketika hutan hilang, tanah kehilangan daya serap. Air hujan jadi limpasan. Banjir meningkat, tapi waduk justru kekurangan air,” jelasnya, belum lama ini.

Pola ini, kata dia, bukan hal baru. Sudah terjadi di berbagai daerah, dari Aceh hingga Sumatra Barat. Dan kini, Batam berada di jalur yang sama.

Sebagai pulau kecil dengan daerah aliran sungai terbatas, Batam menghadapi risiko ganda: banjir saat hujan, kekeringan saat kemarau.

“Luas hutan lindung Batam tersisa sekitar 20 ribu hektare. Kondisinya sudah mengkhawatirkan. Rehabilitasi DTA sudah masuk kategori kode merah,” tegasnya.(*)

ReporterArjuna

UPDATE