Kamis, 8 Januari 2026

Industri Maritim Batam Kekurangan 10 Ribu Welder di Tengah Lonjakan Pesanan Kapal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Seorang tenaga las (welder) tampak sibuk menyelesaikan pembangunan kapal di industri galangan kapal PT Citra Shipyard Batam, Sagulung, Tanjunguncang. Foto. Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos – Kinerja sektor kemaritiman di Batam terus menunjukkan tren positif. Pertumbuhan pesat ini bahkan mampu menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi utama kota industri tersebut. Akan tetapi, tingginya permintaan juga memunculkan tantangan baru, yakni kekurangan tenaga kerja terampil di bidang tertentu.

Ketua Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) Batam, Osman Hasyim, mengatakan bahwa saat ini sektor galangan kapal saja sudah menyerap sekitar 200 ribu pekerja. Jika ditambah dengan sektor fabrikasi migas, jumlah tenaga kerja di industri maritim Batam mencapai 250 ribu orang. Meski begitu, Batam masih kekurangan sekitar 10 ribu tenaga kerja, khususnya welder yang sangat dibutuhkan di industri perkapalan dan migas.

“Kebutuhan tenaga kerja memang sangat tinggi, karena pesanan dan aktivitas maritim di Batam meningkat tajam,” katanya, Selasa (19/8).

Osman menyebut, lonjakan kebutuhan pekerja sejalan dengan tingginya kunjungan kapal (call) ke Batam hingga kuartal II/2025. Jumlah call kapal asing tercatat sebanyak 24.717, sementara kapal dalam negeri mencapai 14.411 call.

“Dari data yang saya dapat, angka itu naik sekitar 15 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini mendorong kebutuhan layanan dan fasilitas, termasuk tenaga kerja di shipyard,” ujarnya.

Data dari BP Batam juga mencatat kenaikan signifikan. Aktivitas bongkar muat kontainer hingga Juni 2025 mencapai 359.944 TEUs, dengan total volume 5,42 juta ton. Angka ini tumbuh 15 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sektor industri maritim di Batam sendiri mencakup pelayaran, kepelabuhanan, logistik, transportasi laut, galangan kapal, serta fabrikasi anjungan migas atau offshore.

Menurut Osman, sejak 2024 hingga pertengahan 2025 ini, terdapat kontrak pembangunan kapal sebanyak 400 unit di galangan Batam, dengan nilai mencapai puluhan triliun rupiah. Namun hingga kini, baru sekitar 50 persen yang rampung. Sisanya membutuhkan banyak tenaga kerja baru.

Industri galangan kapal sempat terpuruk saat pandemi Covid-19. Namun, pascapandemi tren berbalik tajam.

“Tahun 2023 kemarin, ekspor kapal dari Batam bahkan sempat meningkat hingga 498%. Ini bukti bahwa industri kembali bergairah,” kata Osman.

Tingginya permintaan tersebut membuat ALMI Batam mendorong pemerintah dan stakeholder terkait untuk lebih serius mengembangkan pendidikan vokasi. Fokus utamanya adalah melatih welder baru agar bisa segera mengisi kebutuhan tenaga kerja di galangan kapal.

“Dari sisi kebijakan, pemerintah sebenarnya sudah cukup mendukung. Namun, perlu langkah konkret untuk mempercepat penyediaan tenaga kerja terampil. Ini momentum yang tidak boleh terlewat,” kata dia.

Geliat industri maritim membawa multiplier effect yang luas. Setiap galangan kapal penuh dengan aktivitas produksi, docking, hingga perbaikan. Perputaran uang di Batam semakin deras.

“Tiap kapal yang singgah di Batam minimal mengeluarkan Rp500 juta. Itu mencakup penginapan kru, akomodasi, biaya pandu tunda, hingga tambat labuh. Jika dalam setahun ada 50 ribu call, maka triliunan rupiah berputar di Batam,” ujarnya.

Dari sisi regulator, ia menilai berbagai instansi terkait sudah bekerja maksimal. BP Batam, Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP), Bea Cukai, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), hingga Imigrasi terus meningkatkan kualitas layanan.

“Yang paling penting dalam bisnis maritim adalah jaminan rasa aman, kenyamanan, kepastian layanan, harga yang bersaing, dan pelayanan prima. Itu modal besar bagi Batam,” kata Osman.

Sementara itu, kinerja pelabuhan di Batam juga mencatatkan hasil positif sepanjang semester I/2025. Berdasarkan data BP Batam, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor pelabuhan melonjak 55 persen dari target tahunan.

Direktur Pengelolaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menyebutkan hingga akhir Juni 2025, total realisasi penerimaan mencapai Rp219,75 miliar dari target Rp401,86 miliar.

“Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angka ini naik 16 persen, dari Rp189 miliar menjadi Rp219,75 miliar. Ini bukti bahwa sektor maritim Batam terus tumbuh sehat,” katanya.

Digitalisasi layanan dan efisiensi operasional, khususnya di bidang logistik, menjadi faktor penting yang mendorong kinerja positif tersebut. Selain itu, jumlah kunjungan kapal barang dan penumpang juga tumbuh signifikan. Sepanjang Januari-Juni 2025, tercatat 54.876 call, meningkat 15 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.

Rinciannya, kapal barang menyumbang 14.461 call, sementara kapal penumpang mencapai 40.415 call. Dari sisi bobot kotor (Gross Tonnage/GT), totalnya mencapai 34,87 juta GT, naik 18 persen dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah tersebut, GT kapal barang menyumbang 25,02 juta GT, sedangkan kapal penumpang sebesar 9,85 juta GT. Lonjakan ini menunjukkan Batam semakin menjadi simpul penting dalam jalur logistik dan transportasi laut nasional maupun internasional. (*)

Reporter: Arjuna

Update