
batampos – Pemko Batam mempersiapkan sejumlah langkah taktis sebagai upaya pengendalian inflasi agar tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyebutkan, beberapa hal yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini adalah pelaksanaan operasi pasar murah.
Rencananya kegiatan ini akan digelar selama tiga bulan ke depan. Karena kata dia, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ancaman inflasi bisa meroket, akibat tergerusnya daya beli masyarakat.
“Untuk itu Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berupaya menekan inflasi dengan program yang berpotensi bisa menjaga inflasi agar berada di zona aman. Nanti pasar murah ini dimulai bulan Oktober, November, hingga Desember mendatang,” kata dia usai memimpin rapat TPID di Kantor Wali Kota Batam.
Pemerintah Kota Batam dalam hal ini menggelontorkan biaya Rp 460 juta, untuk biaya operasional angkutan selama operasi pasar berlangsung.
Distributor dalam hal ini memberikan jaminan kepada Pemko Batam, bahwa harga jual ketika pasar murah berlangsung di bawah harga pasar. Karena konsep dari pasar murah adalah membantu Batam untuk tetap terjaga inflasinya.
“Saya tegaskan betul tadi, karena ini kan upaya bersama agar Batam tetap kondusif. Makanya butuh kerja sama bersama-sama, termasuk distributor. Dan tadi Pak Mardanis juga sampaikan terkait kondisi petani lokal kita,” terang Amsakar.
Selain itu, ada juga hasil nyata dari kerja sama Tapanuli Utara terkait pasokan bahan komoditi ke pasar.
Tahap pertama ini fokus adalah kepada komoditi telur dan cabai merah. Karena dia komoditi ini dianggap bisa memicu inflasi merangkak naik.
“Ini yang kami jaga bersama. Semoga rencana yang sudah disusun sekarang bisa berjalan dengan baik, dengan dukungan semua pihak yang tergabung dengan TPID,” imbuhnya.
Berikutnya, Pemko melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Batam akan melakukan penanaman cabai di lahan seluas 10 hektar. Pemko Batam menyiapkan anggaran Rp 400 juta untuk proses pembibitan ini.
Kepala DKPP Batam, Mardanis menjelaskan keberadaan kebun cabai ini bertujuan untuk intervensi harga pasar. Dalam satu hari nanti bisa menghasilkan 500 kilogram (kg) cabai.
Ia menyebutkan untuk proses penyediaan lahan dan pembibitan membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.
Sedangkan untuk panen dibutukan waktu dua sampai tiga bulan ke depan. Anggaran diambil dari belanja tidak terduga sebesar Rp 400 juta.
“Kita tujuannya untuk intervensi pasar. Jadi nanti akan tender untuk pembibitan cabai ini. Nanti BI juga bantu kasih bibit kepada 10 kelompok ibu-ibu di setiap kecamatan,” sebutnya.(*)
Reporter: Yulitavia



