
batampos— Sebanyak 17 murid SDN 016 Seilekop, Sagulung, dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Elisabeth Seilekop setelah mengalami mual, muntah, dan pusing usai menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (26/9). Kejadian ini sontak menjadi sorotan publik, terlebih karena program MBG baru berjalan sebulan di Batam.
Perwakilan manajemen RS Elisabeth Seilekop, dr. Erie, menegaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan keluhan para siswa disebabkan keracunan makanan. “Konotasi keracunan itu kami tak bisa pastikan karena tidak ada pemeriksaan toksikologi. Penanganan yang kami lakukan sebatas observasi,” ujarnya.
Menurutnya, gejala yang dialami siswa memang relatif sama, yakni mual, muntah, dan pusing. Namun tidak semua kasus seragam. Beberapa anak datang dalam kondisi tubuh sudah kurang fit sebelum makan, bahkan sebagian sudah sarapan di rumah. “Bisa saja faktor kondisi tubuh atau karena tidak biasa mengonsumsi salah satu makanan yang disajikan,” jelas Erie.
Dokter Erie menambahkan, tidak ada satupun siswa yang memerlukan rawat inap. Setelah menjalani observasi sekitar 30 menit, kondisi mereka berangsur membaik dan diizinkan pulang. “Kami melihat siswa tersebut bisa rawat jalan. Kondisinya stabil setelah observasi,” tegasnya.
BACA JUGA:Â Diduga Keracunan, Warga Malaysia Tewas di Galangan Kapal PT ASL
Ia juga menilai terlalu dini menyimpulkan kasus ini sebagai keracunan. Tanpa pemeriksaan laboratorium, tidak ada dasar medis kuat untuk menyebut keluhan siswa akibat makanan. “Kalau gejalanya seperti itu bisa banyak faktor. Tidak sarapan lalu makan berat bisa menyebabkan kaget lambung. Itu bukan keracunan,” tambahnya.
Berdasarkan data rumah sakit, total siswa yang masuk IGD mencapai 17 orang. Mereka datang hampir bersamaan usai jam makan siang. Gejala disebut ringan dan bisa ditangani dengan terapi sederhana. “Kasus ini sifatnya ringan. Tidak ada komplikasi. Semua siswa sudah kembali dengan kondisi lebih baik,” kata Erie.
Meski demikian, fakta bahwa gejala muncul setelah konsumsi menu MBG tetap memicu perhatian. Menu siang itu diketahui berupa spaghetti, minuman yakult, dan buah salak. Menariknya, hanya murid kelas siang yang terdampak, sementara siswa kelas pagi tidak melaporkan keluhan serupa.
Hingga kini pihak manajemen MBG belum memberikan keterangan resmi. Namun, sebagai langkah awal, dapur MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Seipelenggut yang menyuplai makanan ke sepuluh sekolah, termasuk SDN 016 Seilekop, dihentikan sementara.
Pantauan awak media pada Selasa (30/9), aktivitas di dapur SPPG Seipelenggut benar-benar terhenti. Rolling door tiga ruko yang biasa digunakan untuk produksi tertutup rapat. Tidak terlihat aktivitas memasak maupun persiapan distribusi makanan.
Dua pekerja perempuan yang ditemui di lokasi mengaku bahwa operasional dapur sudah berhenti sejak Senin (29/9). “Dari Senin kemarin tak ada kegiatan lagi, dihentikan sementara,” ujar salah satunya yang enggan menyebutkan nama.
Mereka menambahkan, dapur tersebut biasanya memasok makanan MBG untuk sepuluh sekolah penerima manfaat. Namun, keduanya menolak berkomentar lebih jauh terkait alasan penghentian operasional. “Kami hanya pekerja,” ucapnya singkat.
Di depan ruko dapur, terlihat satu unit mobil operasional parkir tanpa aktivitas bongkar muat seperti biasanya. Suasana lengang menandakan dapur benar-benar berhenti berproduksi.
Koordinator SPPG Batam, Defri Frenaldi, yang dikonfirmasi terpisah, belum memberikan pernyataan resmi. Hingga kini pihaknya masih bungkam terkait evaluasi maupun rencana tindak lanjut program MBG pascakejadian.
SPPG Seipelenggut sendiri dikenal sebagai dapur terbesar yang menyalurkan makanan MBG di Sagulung dengan jumlah penerima ratusan siswa. Penutupan sementara membuat distribusi makanan ke sepuluh sekolah otomatis terhenti.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan dapur akan kembali beroperasi. Pihak sekolah maupun orang tua siswa masih menunggu kejelasan dari pengelola MBG dan pemerintah. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan agar evaluasi menyeluruh terhadap standar dapur dan distribusi MBG segera dilakukan demi menjamin keamanan konsumsi siswa. (*)
Reporter: Eusebius Sara



