
batampos -Struktur pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) masih bertumpu pada investasi dan kinerja ekspor. Di tengah laju ekonomi yang relatif tinggi, konsumsi rumah tangga belum menunjukkan daya dorong yang cukup kuat untuk menyeimbangkan pertumbuhan secara lebih merata.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto, mengatakan gambaran tersebut tercermin dalam komponen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut pengeluaran dan lapangan usaha.
“Secara umum pertumbuhan Kepri masih ditopang investasi dan net ekspor. Konsumsi rumah tangga belum sekuat pertumbuhan ekonominya,” ujar Rony dalam Bincang Bareng Media di kantor BI Kepri, Selasa, (3/3).
Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan tren nasional, di mana pertumbuhan konsumsi rumah tangga cenderung bergerak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
“Di Kepri, akselerasi ekonomi lebih banyak digerakkan sektor-sektor berbasis eksternal,” jelasnya.
Lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan menjadi penopang utama. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri turut terdorong proyek lapangan minyak dan gas (migas) baru yang memasuki fase produksi (onstream).
Aktivitas industri dan pertambangan, kata Rony, menunjukkan tren positif dalam beberapa periode terakhir. Sejumlah proyek migas memperkuat prospek tersebut. Kegiatan pertambangan migas Forel dan Terubuk mulai beroperasi pada 16 Mei 2025 dengan produksi sekitar 20 ribu barel minyak per hari dan 60 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD).
“Lapangan ini ditargetkan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2025,” ujarnya.
Selain itu, proyek pipa WNTS–Pemping dijadwalkan rampung pada kuartal I 2026. West Natuna Exploration Ltd. menargetkan estimasi produksi pada akhir 2027, sementara KUFPEC Anambas membidik fase onstream pada kuartal I 2027.
Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan sektor pertambangan dan industri pengolahan masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi Kepri dalam jangka menengah. Namun, Rony menekankan pentingnya memperkuat konsumsi domestik agar struktur pertumbuhan lebih seimbang dan berkelanjutan.
“Penguatan konsumsi rumah tangga diperlukan supaya pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal,” ujarnya.
Di tengah struktur pertumbuhan yang masih timpang, survei konsumen BI menunjukkan optimisme masyarakat tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kepri pada triwulan I 2026—hingga Februari—tercatat sebesar 137,00, meningkat dibanding periode sebelumnya.
IKK merupakan indikator persepsi rumah tangga terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi ke depan. Nilai di atas 100 mencerminkan responden berada pada level optimistis.
Kenaikan IKK ditopang dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) sebesar 145,34 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 128,67.
Menurut Rony, perbaikan ini menunjukkan pemulihan keyakinan setelah sempat melambat pada triwulan II tahun lalu akibat kebijakan tarif resiprokal dan efisiensi anggaran.
Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) juga berkontribusi terhadap perbaikan persepsi dan ekspektasi konsumen pada awal tahun.
“Survei tersebut melibatkan 200 rumah tangga responden dan menjadi salah satu rujukan BI dalam memantau daya beli serta persepsi ekonomi masyarakat,” ujarnya.



