
batampos – Senja perlahan turun di kawasan Tiban, Kamis (2/4). Di ruang tamu yang sederhana, seorang pria duduk tenang. Tuturnya tidak banyak, namun setiap kata yang keluar terasa berat seolah membawa jejak perjalanan panjang yang tidak semua orang sanggup menjalaninya. Ia adalah Teuku Nanda Fulizar. Seorang yang hari ini dikenal sebagai ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), namun perjalanannya tidak pernah instan.
Nanda lahir di Aceh, tahun 1984. Masa kecilnya diwarnai situasi yang tidak sepenuhnya stabil. Namun justru di tengah kondisi itu, fondasi hidupnya mulai terbentuk, bahkan sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ayahnya saat itu merupakan pegawai pengawas ketenagakerjaan di Disnaker Kota Lhokseumawe, Aceh.
Dari sosok itulah semuanya bermula. Sejak kecil, Nanda sudah diperkenalkan pada dunia kerja, bukan dalam bentuk teori, tetapi melalui sesuatu yang sederhana: mainan alat berat.
Namun ini bukan sekadar permainan biasa. Ia dikenalkan nama, fungsi, bahkan cara kerja alat-alat tersebut. Bulldozer, excavator, crane semuanya menjadi bagian dari dunianya. Di usia di mana anak-anak lain hanya bermain, Nanda kecil sedang membangun pemahaman. Tanpa sadar, pondasi K3 sudah tertanam sejak dini.
Tahun 1996 menjadi titik penting. Situasi Aceh yang tidak kondusif di masa DOM membuat orang tuanya mengambil keputusan besar: pindah ke Batam. Perpindahan itu bukan sekadar perubahan tempat. Itu adalah awal dari perjalanan panjang. Di Batam, rasa ingin tahunya tumbuh semakin kuat. Ketertarikan pada alat berat yang dulu hanya mainan, mulai berubah menjadi pemahaman yang lebih dalam.
Saat SMA, Nanda mulai sering ikut ayahnya dalam berbagai kegiatan K3. Ia tidak diberi peran besar, hanya duduk di belakang, membantu presentasi, membaca materi. Namun justru di situlah proses pembentukan terjadi.
Selama bertahun-tahun, ia menyerap semuanya. Melihat langsung inspeksi lapangan. Memahami risiko. Melihat bagaimana satu kelalaian bisa berujung fatal.
Ia tidak belajar untuk sekadar tahu. Ia belajar untuk mengerti kehidupan di balik pekerjaan.
Tahun 2004, di usia 20 tahun, saat masih menjadi mahasiswa Politeknik Negeri Batam jurusan Informatika, ia mengambil sertifikasi Ahli K3 Umum.
Keputusan yang tidak biasa. Namun hasilnya luar biasa, ia lulus sebagai peserta terbaik.
Itu bukan sekadar prestasi. Itu adalah sinyal: ia berada di jalur yang tepat. Meniti Jalan Panjang Menuju Keahlian, Nanda tidak memilih jalan cepat. Ia memilih jalan yang penuh proses.
Ia mulai dari bawah sebagai safetyman, lalu berkembang menjadi safety officer. Di tengah itu, ia terus meningkatkan kompetensi.
Perjalanan akademik dan profesionalnya menjadi bukti keseriusannya:
2008 – Ahli K3 Spesialis Pesawat Angkat dan Angkut
2010 – Ahli K3 Spesialis Pesawat Uap dan Bejana Tekan
2011 – Ahli K3 Utama Konstruksi Bangunan
Tidak berhenti di situ, ia juga menguasai berbagai kompetensi teknis bertaraf internasional:
NDT (Non-Destructive Test) kelas internasional
ASNT Level II (MT, PT, UT). Pemahaman mendalam terhadap standar ISO dan standar internasional lainnya.
Ia tidak sekadar mengumpulkan sertifikat. Ia membangun kapasitas diri yang utuh. Di saat banyak orang mencari kenyamanan, Nanda justru mengambil keputusan yang berisiko. Ia berhenti bekerja.
Bukan karena gagal, tetapi karena ingin naik level. Ia memilih belajar lagi, memperdalam spesialisasi, dan kembali dengan kapasitas yang jauh lebih kuat.
Hasilnya? Di usia 27 tahun, ia sudah menjadi Direktur Utama perusahaan di bidang K3. Perjalanan panjang itu membawanya pada satu pencapaian penting:
Tahun 2020, ia menjadi asesor kompetensi untuk pesawat angkat dan angkut, satu-satunya di Kepulauan Riau.
Namun bagi Nanda, pencapaian bukanlah akhir. Itu adalah tanggung jawab yang lebih besar. Satu hal yang membedakan Nanda dari banyak profesional lainnya adalah keberaniannya untuk berbagi.
Ia tidak menyimpan ilmunya. Ia mengajarkannya. Ribuan peserta telah ia latih. Ribuan tenaga kerja telah ia bantu menjadi kompeten. Bagi Nanda, ilmu yang tidak dibagikan akan mati. Dan ia tidak ingin itu terjadi. “Tujuan saya sederhana supaya ilmu ini tetap hidup di banyak orang.” ujarnya.
Ia ingin menciptakan lebih banyak ahli K3 yang benar-benar paham. Bukan sekadar memiliki sertifikat, tetapi memiliki kesadaran dan tanggung jawab. Hari ini, ia menangani ratusan hingga ribuan perusahaan. Namun bagi Nanda, angka bukanlah hal utama.
Yang lebih penting adalah satu hal: Setiap pekerja pulang dengan selamat. Karena di balik setiap helm, setiap alat, setiap prosedur, ada keluarga yang menunggu di rumah.
Malam semakin larut di Tiban. Cerita itu mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Namun satu hal menjadi jelas: Perjalanan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, ia berawal dari seorang anak kecil yang bermain alat berat di sudut rumahnya. Dan dari sana, lahirlah seseorang yang hari ini menjaga keselamatan ribuan orang. (*)



