Selasa, 13 Januari 2026

Jelang Nataru, Dua Komoditas Masih Krisis di Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Wali Kota Batam, sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. f. arjuna

batampos – Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyalakan tanda waspada menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Meski sebagian besar komoditas pangan tercatat stabil, dua komoditas strategis masih berada dalam kondisi kritis dan memerlukan perhatian khusus.

Indikasi itu muncul dari hasil rapat koordinasi Forkopimda yang dipimpin Wali Kota Batam Amsakar Achmad di Aula Engku Hamidah Kantor Wali Kota Batam, Rabu (3/12). Rapat tersebut memfokuskan penguatan pengawasan 34 komoditas untuk mencegah lonjakan harga mendadak selama libur panjang.

Amsakar mengarakan, secara umum situasi pangan Batam dalam keadaan aman. Namun, dia tidak menutup mata bahwa cabai dan telur masih menunjukkan gejala ketidakstabilan pasokan.

“Secara keseluruhan terkendali, tetapi untuk dua komoditas ini kita perlu langkah ekstra,” katanya.

Baca Juga: Lansia Diadili atas Dugaan Kekerasan Seksual Terhadap Penyandang Disabilitas

Kenaikan harga cabai terpantau cukup signifikan. Pasokan dari berbagai daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membuat suplai ke Batam tersendat. Cabai merah keriting naik dari Rp70 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram dalam rentang tiga hari.

Lonjakan lebih tajam terlihat pada cabai rawit merah yang meroket dari Rp45 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram. Cabai rawit hijau turut mengalami kenaikan dari Rp33 ribu menjadi Rp70 ribu per kilogram, sementara cabai hijau besar naik dari Rp36 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram.

Amsakar menyebut situasi ini sebagai “alarm komoditas”, mengingat cabai merupakan salah satu penyumbang inflasi tertinggi pada periode akhir tahun. Pemerintah, kata dia, tidak menunggu harga melonjak lebih jauh sebelum intervensi dilakukan.

Sebagai langkah antisipasi, Pemko Batam menambah suplai dari Lombok dan mengandalkan panen petani lokal yang dijadwalkan berlangsung pada Desember. Dua sumber pasokan ini diharapkan dapat menahan laju kenaikan harga sekaligus memperbaiki distribusi.

Selain cabai, telur juga masuk kategori komoditas yang memerlukan pengawasan ketat. Konsumsi rumah tangga dan industri rumahan meningkat pesat menjelang Natal dan Tahun Baru, sehingga berpotensi menekan ketersediaan barang di lapangan.

Di sisi lain, Pemko memastikan pasokan beras dalam kondisi aman. Perum Bulog melaporkan stok 2.935 ton per 28 November, angka yang dinilai cukup untuk menahan potensi gejolak harga. Cadangan yang memadai ini menjadi penopang utama stabilitas pangan Batam.

Baca Juga: Dapur 3T Dibangun, Semua Siswa Hinterland Ditargetkan Terima MBG

Meski demikian, Pemko tetap menyiapkan instrumen intervensi harga untuk menutup potensi ketidakstabilan. Pasar Murah Bersubsidi dijadwalkan berlangsung pada 8-17 Desember di 45 lokasi, meliputi 52 kelurahan di 12 kecamatan. Sebanyak 52.500 paket sembako akan disalurkan kepada masyarakat.

Setiap paket berisi beras premium 10 kilogram, gula 1 kilogram, dan minyak goreng 2 liter. Harga ditekan dari nilai awal Rp200 ribu menjadi Rp100 ribu berkat subsidi pemerintah. Program ini dirancang untuk memperkuat daya beli masyarakat berpenghasilan rendah.

Selain itu, Operasi Pasar juga digelar pada 23-24 Desember dengan melibatkan 60 distributor. Kegiatan tersebut dipusatkan di empat kecamatan yang memiliki tingkat mobilitas penduduk tertinggi, sehingga penyerapannya dapat berlangsung cepat dan merata.

Amsakar mengatakan, bahwa seluruh perangkat daerah, mulai dari OPD teknis, kecamatan, hingga jajaran pengawas harga di lapangan harus meningkatkan koordinasi. “Kewaspadaan harus kolektif. Kita tidak ingin spekulan memanfaatkan momentum,” tambahnya.

Ia juga meminta masyarakat tidak melakukan panic buying karena Pemko telah memetakan kebutuhan komoditas selama Nataru dan memastikan suplai tetap dalam kendali. Ketenangan publik adalah salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update