batampos – Tiket kapal feri tujuan Singapura naik lebih dari 50 persen. Dari sebelumnya hanya sebesar Rp 500 ribu, saat ini tiket kapal tujuan Singapura menyentuh angka Rp 800 ribu.
Tak hanya itu, wisatawan mancanegara (wisman) yang hendak liburan ke Batam juga berfikir dua kali sebab selain harga tiket kapal yang tinggi, juga masih ada kewajiban antigen dan membeli ansuransi (antigen dan asuransi masing-masing sebesar SGD 35, red).
Menyikapi kondisi itu, anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Utusan Sarumaha, mengatakan, pihaknya telah memanggil semua agen kapal rute Batam-Singapura dan pengelola pelabuhan terkait naiknya tiket ke Singapura. Pemanggilan itu dilakukan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) beberapa waktu lalu.

”Ternyata, kenaikan ini karena mereka belanja minyak itu di Singapura dan harga minyak di Singapura mengalami kenaikan,” katanya. Ia melanjutkan, pihak kapal terpaksa membeli minyak di Singapura karena kualitas minyaknya lebih baik dibandingkan Indonesia.
Kenaikan tarif ini, kata Utusan, diatur dalam Peraturan Kementrian Perhubungan. Dimana, tarif penyeberangan antarnegara juga harus ada persetujuan Kementerian Perhubungan.
”Faktanya sekarang, mereka menaikkan berdasarkan secara lisan antara asosiasi,” katanya.
Terkait dengan keberadaan Peraturan Kementerian Perhubungan sejak 2019. Namun, pihak agen pelayaran tidak mengetahui adanya Peraturan Kemehub tersebut.
”Tetapi bagaimana pun itu tidak bisa jadi alasan pembenaran. Bahwa setiap orang di wilayah Indonesia harus tunduk kepada semua aturan yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Sehingga, hasil dari RDP itu nantinya juga akan menjadi masukan kepada pihak-pihak terkait dalam hal ini instansi vertikal. Hal ini akan disampaikan oleh Komisi I DPRD Kota Batam agar ke depan kenaikan tarif antarnegara harus ada pedoman hukumnya.
”Waktu itu kita sepakat untuk dilakukan penundaan dulu sampai memastikan bah-wa kenaikan tarif itu tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan tarif antarnegara,” jelasnya.
Utusan menambahkan, Komisi I DPRD Kota Batam akan berencana untuk memantau ke lapangan terkait dengan kenaikan tarif tiket feri.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata, mengatakan, sudah melakukan komunikasi dengan pihak agen travel atau penjualan tiket Batam-Singapura terkait kenaikan harga tiket.
Ardi menjelaskan, berdasarkan hasil komunikasi dengan pihak operator kapal atau penyedia jasa keberangkatan ke Singapura, harga tersebut untuk saat ini guna menutupi biaya operasional yang tinggi.
Berdasarkan penjelasan mereka, jumlah keberangkatan belum maksimal, sehingga diperlukan solusi. Salah satunya dengan kenaikan harga tiket. Hal ini tidak bisa terelakkan karena biaya operasional yang ditanggung penyedia jasa keberangkatan.
”Ada cost yang memang perlu upaya yang lebih. Untuk itu, sementara ini berimbas pada kenaikan harga tiket kapal tujuan Singapura,” jelas Ardi saat dijumpai di kantornya, Selasa (17/5/2022).
Menurutnya, pemberlakuan tarif kapal yang dinilai cukup mahal ini tidak berlangsung lama. Seiring membaiknya angka kunjungan baik Batam maupun Singapura.
Saat ini, lanjutnya, pemerintah juga tengah berupaya memberikan dan mencarikan solusi agar tiket kembali ke harga normal. Untuk saat ini Batam harus menghadapi situasi sulit ini. Namun, diharapkan hal ini segera berakhir, sehingga angka kunjungan kedua negara kembali normal seperti dulu.
Ditanya tentang insentif dari pemerintah seperti tahun sebelumnya, Ardi menjelaskan bahwa pemberian insentif atau dispensasi belum ada. Biasanya, insentif diberikan berupa paket dan diskon terhadap wisman yang ingin ke Batam. Tujuannya agar angka kunjungan bisa stabil meskipun di hari kerja.
”Semoga weekend nanti bisa mencapai ribuan lagi yang masuk. Kalau sekarang kami juga masih menunggu regulasi maupun program dari pemerintah pusat untuk menggelar pemulihan wisata di Batam,” jelas mantan Kabag Humas Pemko Batam ini.
Ardi menambahkan, angka kunjungan sudah mulai ramai meskipun belum seperti dua tahun lalu. Untuk itu, perlu berbagai upaya kedua negara untuk saling mendukung dan memberikan kemudahan untuk mengembalikan kejayaan wisata.
”Kita memang belum melihat antrean bus di pelabuhan, namun diharapkan hal ini segera terwujud. Angka kunjungan yang masih ratusan ini bisa menjadi ribuan bahkan jutaan ke depannya,” tutup Ardi.
Diberitakan sebelumnya, pelaku usaha pariwisata mengeluhkan sulitnya mengajak wisman di Singapura ke Batam. Penyebabnya, biaya lebih tinggi dan prosedur lebih ribet dibandingkan ke Malaysia.
”Kami mati-matian meyakinkan mereka (wisman) datang ke Batam,” ujar Ripka Sembiring, pimpinan Josaphat Travel Batam, yang berhasil membawa 94 orang turis ke Batam, Sabtu (15/5) lalu.
Ripka menjelaskan, para turis memang lebih banyak memilih ke Malaka, selain karena lebih murah, juga tidak banyak syarat yang diwajibkan.
”Semudah datang ke Singapura. Ke Singapura tidak tidak perlu lagi pakai antigen, tak ada lagi beli asuransi, hanya tiket saja,” ungkap Ripka.
Sedangkan ke Batam, berdasarkan aturan pemerintah pusat, masih menerapkan permintaan antigen, pembelian asuransi. Sehingga, hal ini membuat para turis berpikir datang ke Batam.
”Antigen di Singapura (untuk ke Batam) SGD 35, asuransi SGD 35, belum lagi ada harga tiket yang masih lumayan mahal SGD 80 (yang dulunya hanya SGD 35). Bagi pemegang paspor India, harus bayar Visa on Arrival sebesar Rp 500 ribu,” ujarnya.
Kondisi ini membuat pelaku usaha perjalanan wisata kewalahan dan harus mencari berbagai cara utuk meyakinkan wisman agar mau ke Batam. Namun, tentunya tidak semua turis asing di Singapura maupun warga Singapura tergoda ke Batam karena memang biaya yang terlalu mahal.
Ripka berharap, beberapa aturan dihapuskan, agar wisman lebih tertarik lagi datang ke Batam.
”Kalau tak banyak syarat, lebih enak menjualnya, uang yang harus dikeluarkan itu bisa dibelanjakan para turis selama di Batam, itu menggerakkan ekonomi masyarakat Batam,” ujarnya. (*)
Reporter : EGGI IDRIANYSAH – YULITAVIA
Editor : RYAN AGUNG



