Selasa, 13 Januari 2026

Kasus Autisme Meningkat, Pemerintah Didorong Perkuat Layanan Inklusif

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto didampingi Clinical Director PSLC, dr. Ruwinah Abdul Karim.

batampos – Peningkatan signifikan kasus autisme pascapandemi menjadi perhatian serius para pemerhati pendidikan dan kesehatan. Ribuan orang tua dan praktisi pendidikan menghadiri Batam Autism Conference 2025 (BAC2025) di Hotel Harmoni One, Minggu (29/6), sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan layanan yang lebih inklusif bagi anak dengan spektrum autisme.

Konferensi ini diprakarsai oleh Penawar Special Learning Centre (PSLC) dan menghadirkan berbagai kegiatan seperti talk show, workshop, pameran edukatif, hingga layanan screening gratis untuk anak-anak dengan gejala autisme.

“Kami ingin mengubah stigma. Autisme bukan gangguan mental, mereka hanya berpikir dan merespons dengan cara yang berbeda,” ujar Clinical Director PSLC, dr. Ruwinah Abdul Karim.

Baca Juga: Kasus Sifilis di Kalangan Remaja Batam Meningkat, Keluarga dan Sekolah Didorong Lebih Aktif Lindungi Generasi Muda

Didampingi Marketing Manager Hospital Penawar Johor, Haslinda Abdul Rahman, dr. Ruwinah menyebut lebih dari 200 orang tua telah mendaftar untuk layanan screening. Di Malaysia sendiri, PSLC memiliki 26 cabang yang setiap tahunnya menangani sekitar 9.000 kasus baru. Menurutnya, jika angka itu terjadi di Malaysia, maka Indonesia berpotensi menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.

“Pandemi sesungguhnya adalah ledakan kasus autisme yang belum tertangani. Kita perlu sistem yang lebih kuat dan responsif,” tegasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Tri Wahyu Rubianto, mengakui bahwa tren autisme di Batam terus meningkat tiap tahun. Tantangan utama, kata dia, terletak pada terbatasnya sarana prasarana, SDM, serta regulasi yang mendukung pendidikan inklusif.

“Pusat layanan autis kita baru satu yang menyelenggarakan pendidikan formal. SLB memang bertambah, tetapi belum sebanding dengan kebutuhan,” ungkapnya.

Tri Wahyu menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas. Ia mendorong lahirnya inisiatif dan proposal bersama guna memperkuat layanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Batam.

“Kegiatan seperti BAC ini sangat strategis, karena bisa membuka wawasan guru, orang tua, dan stakeholder pendidikan lainnya. Terutama dalam mengenali kebutuhan anak autis dan menangani mereka dengan pendekatan yang tepat,” ujarnya.

Baca Juga: Libur Panjang, 2.600 Pengunjung Berlibur ke Pantai di Pulau Galang

Ia juga mengingatkan pentingnya pelatihan bagi guru. “Kalau guru salah menangani karena kurang pemahaman, itu bisa berdampak buruk bagi perkembangan anak,” tambahnya.

BAC2025 menjadi konferensi kedua yang digelar PSLC di Indonesia, setelah sebelumnya diadakan di Malang tahun lalu. Acara ini diikuti ratusan peserta yang antusias mencari informasi dan solusi terbaik untuk anak-anak mereka.

Dengan meningkatnya kasus autisme dan masih minimnya kesadaran publik, BAC2025 menjadi momentum penting untuk membangun sistem pendidikan dan layanan kesehatan yang lebih inklusif di Kepri dan Indonesia secara umum. (*)

Update