Selasa, 31 Maret 2026

Kasus Campak Nasional Meningkat, Batam Masih Aman dari KLB tapi Harus Lebih Waspada

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinkes Batam dr. Didi Kusmarjadi, SpOG.

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam memastikan hingga saat ini belum ditemukan indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayahnya, meski secara nasional terjadi peningkatan kasus yang mendorong Kementerian Kesehatan RI menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang kewaspadaan penyakit campak.

‎Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) menunjukkan kondisi masih terkendali.

‎“Berdasarkan pemantauan SKDR, belum ada peningkatan signifikan yang mengarah ke KLB. Namun tetap ada sinyal kewaspadaan di beberapa wilayah,” ujarnya, Selas (31/3).

‎Meski belum mengkhawatirkan, Dinkes menilai potensi penularan tetap ada. Karena itu, respons cepat terus diperkuat agar lonjakan kasus tidak terjadi.

‎Perketat Pengawasan dan Respons Cepat

‎Menindaklanjuti surat edaran Kementerian Kesehatan, Dinkes Batam telah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya memperkuat pemantauan rutin melalui SKDR setiap pekan untuk mendeteksi dini potensi lonjakan kasus.

‎Selain itu, setiap sinyal peringatan (alert) langsung diverifikasi dan ditindaklanjuti secara cepat. Bahkan, penyelidikan epidemiologi dilakukan maksimal dalam waktu 24 jam terhadap setiap kasus suspek.

‎“Kami juga meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit,” kata Didi.

‎Langkah lain yang dilakukan yakni sweeping imunisasi serta imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan, terutama terkait gejala campak dan pentingnya imunisasi.

‎Cakupan Imunisasi Masih Rendah

‎Di sisi lain, Dinkes mengakui cakupan imunisasi campak-rubella (MR) di Batam masih jauh dari target. Data menunjukkan capaian imunisasi MR dosis pertama (usia 9 bulan) baru mencapai 16,7 persen, sementara imunisasi lanjutan sekitar 15,7 persen.

‎Rendahnya capaian ini terjadi di 12 kecamatan dan dipengaruhi oleh masih adanya penolakan dari sebagian orang tua.

‎“Masih ada orang tua yang menolak anaknya diimunisasi. Ini yang menjadi tantangan utama,” ujarnya.

‎Untuk mengatasi hal tersebut, petugas kesehatan bersama kader di lapangan terus melakukan sweeping guna menjangkau anak-anak yang belum diimunisasi.

‎Imbauan untuk Waspada

‎Dinkes Batam mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit campak. Selain mudah menular, campak juga berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.
‎Pemerintah pun menegaskan, pencegahan paling efektif tetap melalui imunisasi.

‎“Kami berharap masyarakat lebih sadar dan mau melengkapi imunisasi anak. Ini penting untuk melindungi tidak hanya individu, tetapi juga lingkungan sekitar,” kata Didi.

‎Dengan pengawasan yang diperketat dan partisipasi masyarakat, Dinkes optimistis Batam dapat terhindar dari lonjakan kasus maupun KLB campak di tengah tren peningkatan yang terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia.(*)

ReporterM. Sya’ban

UPDATE