Sabtu, 17 Januari 2026

Kasus DBD di Batam Meningkat, Bengkong Tertinggi, Cek Kecamatan Lain …

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Pengasapan atau fogging untuk meminimalkan sebaran jentik nyamuk aedes aegypti penyebab penyakit demam berdarah dengeu . Foto: Yusuf Hidayat/Batam Pos

batampos – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam terus bertambah. Hingga Februari 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat total 103 kasus dengan Kecamatan Bengkong menjadi wilayah tertinggi dalam jumlah kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menyebut bahwa pada Januari tercatat 75 kasus, sementara Februari bertambah 28 kasus. Dari total tersebut,

  • Bengkong (19 kasus)
  • Batam Kota (18 kasus)
  • Sagulung (15 kasus)
  • Lubukbaja (13 kasus)
  • Batuaji (11 kasus)
  • Sekupang (9 kasus)
  • Batuampar (7 kasus)
  • Nongsa (5 kasus)
  • Sungai Beduk (4 kasus)
  • Belakang Padang (1 kasus)
  • Galang (1 kasus)
  • Bulang (0 kasus).

“Kami m elihat tren peningkatan ini masih perlu diwaspadai, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi. Kami mengimbau masyarakat agar lebih aktif dalam upaya pencegahan penyebaran DBD ini,” ujar Didi, Selasa (18/2).

Langkah Antisipasi Pemkot Batam

Untuk menekan angka kasus DBD, Pemerintah Kota Batam telah mengeluarkan Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 23 Tahun 2024 tentang Kewaspadaan Dini Peningkatan Kasus DBD. Surat edaran ini menginstruksikan masyarakat, instansi pemerintah, hingga sekolah untuk lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Selain itu, Dinas Kesehatan Batam juga menggencarkan program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J) yang melibatkan kader kesehatan dan warga dalam memeriksa jentik nyamuk di rumah serta lingkungan sekitar secara rutin.

“Upaya pencegahan berbasis masyarakat seperti ini sangat penting. Kami ingin setiap rumah memiliki satu orang yang bertanggung jawab dalam memastikan tidak ada tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti,” jelas Didi.

Dinkes Batam juga telah melakukan fogging di beberapa daerah rawan. Namun, Didi menegaskan bahwa fogging bukan solusi utama.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tetapi tidak menghentikan perkembangbiakan larva. Yang paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang bisa menjadi tempat nyamuk bertelur,” ujarnya. (*)

 

Reporter: Rengga Y

Update