Sabtu, 14 Maret 2026

Kasus Demam Berdarah Meningkat di Batam, Dua Penderita Meninggal Dunia

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Ketua RW 08 Perumahan Barelang-Central Raya, ikut turun bersama warga mengasapi parit dan area di sekitar perumahan. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam, Provinsi Kepri, meningkat dibandingkan tahun lalu. Bahkan dua penderita DBD di Kota Batam meninggal dunia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, angka DBD mencapai 345 kasus. Jumlah ini ditemukan selama Januari hingga 31 Mei 2022.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, angka DBD tahun ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2021 yakni sebanyak 291 kasus.

Didi menyebutkan, temuan kasus DBD paling banyak terjadi pada Januari 2022 yakni sebanyak 85 kasus. Sementara, untuk Februari ada 58 kasus, Maret 75 kasus dan April sebanyak 65 kasus.

Sedangkan untuk temuan kasus DBD di bulan Mei sebanyak 65 kasus DBD.

”Sampai 31 Mei kemarin, ada 345 kasus DBD. Dari seluruh kasus DBD tahun ini, ada dua korban jiwa (meninggal dunia),” ujar Didi.

Demam berdarah memiliki sejumlah gejala bagi penderitanya. Di antaranya demam tinggi mendadak dengan suhu di atas 38 derajat celcius, timbul bintik-bintik merah di kulit, sakit kepala, nyeri saat menggerakan bola mata.

Kemudian mudah gelisah, nyeri punggung, badan terasa lemah dan lesu,ujung tangan dan kaki berkeringat, muntah, kadar trombosit turun hingga 100.000/mm3, terkadang disertai mimisan dan buang air besar bercampur darah hingga ulu hati terasa nyeri.

”Jika merasakan gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke puskesmas,” imbaunya.

Penyakit demam berdarah banyak terjadi di musim hujan. Hal itu dikarenakan pada musim hujan banyak dijumpai genangan-genangan air yang bisa menjadi tempat nyamuk untuk berkembang biak.

Kondisi musim penghujan di tahun ini menjadi salah satu faktor peningkatan kasus DBD. Peningkatan ini tentunya juga meningkatkan penularan penyakit DBD khususnya di masyarakat

“Kasus DBD ini bersifat fluktuatif. Di saat musim hujan, penyakit DBD akan meningkat,” tambahnya.

Didi mengimbau masyarakat untuk selalu hidup bersih. Selain itu, diharapkan juga peran aktif masyarakat dalammencegah penyebaran DBD ini, semisal menguras, menutup dan mengubur tempat-tempat yang jadi sarang nyamuk aedes aegypti.

”Tidak ketinggalan kami juga terus memberikan penyuluhan ke masyarakat dan aktif menggalakan peran juru pemantau jentik (jumantik) dengan program gerakan 1 rumah 1 jumantik,” tutupnya.(*)

Reporter: Rengga Yuliandra

SALAM RAMADAN