
batampos – Kasus HIV di Kota Batam terus menjadi perhatian serius. Sepanjang tahun ini, Dinas Kesehatan Kota Batam mencatat sebanyak 321 kasus baru HIV, dengan kelompok usia produktif (25–49 tahun) sebagai penyumbang terbanyak yakni mencapai 208 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengungkapkan bahwa kasus HIV terbanyak masih ditemukan pada usia produktif karena kelompok ini memiliki mobilitas tinggi serta risiko paparan yang lebih besar.
“Usia 25 sampai 49 tahun adalah usia aktif secara sosial dan ekonomi. Ini juga merupakan usia yang paling rentan jika tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran akan perilaku berisiko,” ujar dr. Didi, Selasa (29/7).
Dari total kasus, 149 di antaranya adalah laki-laki, sementara 59 adalah perempuan. Selain kelompok usia tersebut, rentang usia 20–24 tahun juga mencatatkan 62 kasus, serta 15–19 tahun sebanyak 13 kasus. Bahkan, kasus HIV juga ditemukan pada kelompok usia anak, yaitu 5–14 tahun (3 kasus) dan di bawah 4 tahun (1 kasus).
“Adanya kasus pada anak-anak menunjukkan adanya transmisi dari ibu ke anak atau faktor lain yang sangat memprihatinkan. Ini memperkuat pentingnya deteksi dini pada ibu hamil dan edukasi menyeluruh di masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, pada kelompok usia lanjut (>50 tahun) ditemukan 34 kasus, terdiri dari 21 laki-laki dan 13 perempuan. Menurut Didi, temuan ini menunjukkan bahwa HIV bukan hanya ancaman bagi usia muda, tetapi juga seluruh lapisan usia.
Dinkes Batam terus menggencarkan upaya pencegahan dengan memperluas layanan tes HIV, termasuk tes sukarela (VCT) di puskesmas dan rumah sakit.
“Kami mendorong masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri. Semakin cepat diketahui, semakin baik penanganannya,” katanya.
Selain itu, Dinkes juga memperkuat edukasi melalui program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta memperluas layanan pengobatan antiretroviral (ARV) secara gratis.
“Penularan HIV bisa dicegah. Kuncinya adalah perilaku hidup sehat, hubungan seksual yang aman, serta tidak berbagi jarum suntik. Stigma terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) juga harus kita lawan bersama,” pungkas dr. Didi. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



