Minggu, 11 Januari 2026

Kasus HIV di Batam Tembus 321, Usia Produktif Masih Paling Rentan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. HIV/AIDS (JawaPos.com)

batampos – Sepanjang tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 321 kasus HIV, dengan mayoritas penderitanya berasal dari kelompok usia produktif.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengungkapkan bahwa kelompok usia 25–49 tahun mendominasi jumlah kasus, yakni 208 orang, terdiri dari 149 laki-laki dan 59 perempuan.

“Angka ini cukup tinggi dan menunjukkan bahwa kelompok usia produktif masih menjadi kelompok paling rentan terpapar HIV,” ujar Didi, Jumat (18/7).

Ia merinci, kelompok usia 20–24 tahun menyumbang 62 kasus, kemudian usia 15–19 tahun tercatat 13 kasus, dan 34 kasus berasal dari kelompok usia di atas 50 tahun. Sementara itu, terdapat 4 kasus pada anak-anak di bawah 15 tahun, yang terdiri dari 1 kasus usia di bawah 4 tahun dan 3 kasus usia 5–14 tahun.

“Temuan pada anak-anak menunjukkan adanya transmisi dari ibu ke anak. Ini yang terus kami tekan melalui program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi (PPIA),” jelasnya.

Secara keseluruhan, dari total 321 kasus HIV tersebut, 237 penderita merupakan laki-laki dan 84 perempuan.

Didi menyebutkan bahwa Dinkes Batam terus menggencarkan edukasi, deteksi dini, serta pengobatan untuk menekan penyebaran HIV. Masyarakat dapat mengakses layanan konseling dan tes HIV secara gratis di seluruh puskesmas dan rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah.

“Kami juga bekerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga untuk menjangkau kelompok berisiko, seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, serta komunitas LGBTQ,” ungkapnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau malu melakukan tes HIV. Deteksi dini sangat penting untuk mendapatkan pengobatan dan mencegah penularan lebih lanjut.

“Semua layanan bersifat rahasia dan tidak diskriminatif. HIV bukan akhir dari segalanya. Yang penting adalah pengobatan dan gaya hidup sehat agar tetap produktif,” tegasnya.

Upaya promotif dan preventif yang dilakukan Dinkes mulai menunjukkan hasil positif. Menurut Didi, beberapa faktor turut berperan dalam menekan jumlah kasus, seperti peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan seksual melalui sekolah dan komunitas, serta skrining rutin yang menyasar kelompok berisiko tinggi.

“Akses layanan kesehatan yang lebih terbuka juga menjadi salah satu kunci,” katanya.

Untuk itu, skrining HIV tetap akan dilakukan secara berkala sebagai bagian dari strategi pengendalian penyebaran, khususnya di kalangan usia produktif.

Ke depan, Didi menekankan pentingnya memperluas jangkauan edukasi, terutama kepada remaja di luar sekolah yang cenderung sulit dijangkau oleh layanan formal. Ia juga menyarankan perlunya dilakukan studi kualitatif untuk menggali lebih dalam tentang persepsi, hambatan, dan kebutuhan remaja dalam mengakses informasi serta layanan HIV/AIDS.

“Langkah-langkah preventif harus terus diperkuat dan diperluas agar kita bisa menekan angka kasus baru secara lebih signifikan,” tutupnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update