Kamis, 9 April 2026

Kebutuhan Air Meningkat, Akademisi Sebut Waduk di Batam Tak Lagi Sesuai Desain

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Volume air di waduk berkurang. f. Istimewa

batampos – Kerusakan daerah tangkapan air (DTA) di sejumlah waduk di Kota Batam kian mengkhawatirkan. Selain dampak kebakaran hutan yang terjadi sebelumnya, kawasan hutan di sekitar waduk juga terpantau mengalami kerusakan akibat pembalakan liar dan pembukaan lahan.

‎Kondisi ini dinilai memperparah kemampuan resapan air dan berujung pada penurunan kapasitas waduk.

‎Di tengah tekanan tersebut, kebutuhan air bersih terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan ekspansi pembangunan di Batam.

‎Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Batam perlu menambah waduk baru, atau mencari solusi alternatif dari wilayah penyangga?

‎Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro, menegaskan bahwa kebutuhan air baku di Batam akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan ekonomi.

‎“Seiring dengan peningkatan penduduk Kota Batam yang telah menembus 1,39 juta jiwa pada tahun 2026 dan target pertumbuhan ekonomi di atas 7,0 persen, berarti salah satu komoditi yang paling dibutuhkan adalah ketersediaan air baku,” jelasnya.

‎Ia memaparkan, berdasarkan data empiris, kebutuhan air per orang dengan akses menengah dan kesadaran kebersihan sedang mencapai sekitar 50 liter per hari. Sementara untuk sektor industri skala menengah, kebutuhan air berada di kisaran 2 hingga 4 meter kubik per hari.

‎“Dari dua data empiris di atas maka dapat disimpulkan kebutuhan akan air baku atau air bersih akan meningkat secara bertahap seiring bertambahnya jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

‎Secara kapasitas, Batam sebenarnya memiliki delapan waduk, dengan enam di antaranya telah beroperasi. Dua waduk lainnya berfungsi sebagai cadangan untuk kebutuhan masa depan.

‎“Total kubikasi sekitar 202,07 juta meter kubik air, dengan kapasitas desain mencapai di atas 5.000 liter per detik,” ujarnya.

‎Namun, menurutnya, persoalan utama bukan semata pada kapasitas desain, melainkan pada kemampuan menjaga muka air normal (MAN) sesuai perencanaan awal.

‎“Dari data yang dikumpulkan setiap musim kemarau dan fenomena El-Nino, MAN waduk di Batam mengalami penurunan hingga mencapai lebih dari 2 meter,” ungkapnya.

‎Kondisi ini diperparah oleh kerusakan DTA akibat alih fungsi lahan, kebakaran hutan, dan aktivitas lainnya yang mengganggu ekosistem penyangga air.

‎“Hal ini menyebabkan kubikasi waduk semakin berkurang. Salah satu akibat parah dari kerusakan DTA ini adalah terjadinya sedimentasi di beberapa waduk, karena hilangnya fungsi pengikat dari akar pohon sehingga air hujan membawa tanah ke dalam waduk,” jelas Prastiwo.

‎Ia menambahkan, penurunan muka air dipicu oleh dua faktor sekaligus: faktor eksternal berupa musim kemarau dan fenomena iklim, serta faktor internal berupa kerusakan DTA yang terus terjadi.

‎“Maka dari itu waduk-waduk di Batam tidak lagi mempunyai kubikasi sesuai desain di awal,” tegasnya.

‎Kondisi tersebut, lanjutnya, harus menjadi perhatian serius semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Ia menekankan bahwa meskipun faktor alam tidak bisa dihindari, kerusakan lingkungan masih bisa dicegah.

‎“Faktor eksternal pasti terjadi dalam siklus tertentu, namun kerusakan DTA dapat dikurangi bahkan dicegah apabila pemerintah bersama semua pihak sadar untuk menjaga kelestarian Kota Batam sesuai desain yang telah direncanakan,” tutup dia.(*)

ReporterM. Sya’ban

UPDATE