
– Kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan remaja kembali terjadi di Batam. Sebagian besar kecelakaan dipicu perilaku berkendara yang berisiko, seperti berboncengan tiga, tidak mengenakan helm, hingga memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Fenomena tersebut dinilai tidak hanya dipengaruhi kurangnya keterampilan berkendara, tetapi juga ketidaksiapan mental dan emosional para remaja saat berada di jalan.
Psikolog Irfan mengatakan tingginya angka kecelakaan di kalangan remaja terjadi karena mereka belum sepenuhnya siap secara psikis untuk mengendalikan kendaraan.
“Standar edukasi keselamatan berkendara kita memang harus ditingkatkan. Remaja tidak hanya dituntut mampu mengendarai kendaraan, tetapi juga harus siap secara psikis ketika berada di jalan,” ujar Irfan.
Baca Juga: Berbahaya, Disdik Batam Ingatkan Orang Tua Soal Larangan Anak Bawa Motor
Menurutnya, selama ini edukasi keselamatan berkendara masih lebih banyak menitikberatkan pada kemampuan teknis, seperti mengendalikan kendaraan atau memahami rambu lalu lintas. Padahal, aspek yang lebih penting justru terletak pada kesiapan mental dan kemampuan mengontrol emosi.
“Yang harus diutamakan dari edukasi berkendara adalah kesiapan mental dan kontrol emosi. Kalau soal kemampuan berkendara, itu bisa mengikuti. Namun, ketika remaja tidak mampu mengendalikan emosi, mereka cenderung mudah terpancing untuk ngebut, melanggar aturan, atau ikut-ikutan teman,” katanya.
Irfan menilai materi khusus mengenai keselamatan berlalu lintas perlu lebih banyak diberikan kepada remaja, baik di sekolah maupun lingkungan keluarga. Edukasi itu, kata dia, harus menanamkan pemahaman mengenai risiko berkendara dan pentingnya mematuhi aturan.
“Angka kecelakaan pasti bisa ditekan dan diminimalisir jika pengendara remaja sudah memahami konsep dasar berkendara yang baik dan benar, khususnya dalam hal kontrol emosi,” ungkapnya.
Baca Juga: Bidpropam Perketat Pengawasan Internal, Personel Polda Kepri Tes Urine
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak terburu-buru memberikan izin kepada anak untuk membawa kendaraan sendiri sebelum dinilai cukup matang secara mental.
“Sering kali anak sudah bisa mengendarai motor, tetapi belum siap menghadapi situasi di jalan. Ini yang harus menjadi perhatian bersama,” tutupnya. (*)



