
batampos– Suasana haru menyelimuti Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri, Senin (20/10) pagi. Tangis histeris seorang perempuan pecah di halaman rumah sakit. Ia adalah Aini ,35, istri dari almarhum Imam, korban ledakan kapal yang dirawat beberapa hari sebelum akhirnya meninggal dunia.
Aini tak kuasa menahan emosi saat pihak rumah sakit bersama aparat kepolisian hendak melakukan autopsi terhadap jenazah suaminya. Ia menolak dengan tegas.
“Saya ikhlas dia meninggal, tapi tak ikhlas kalau harus diautopsi lagi. Dia sudah sangat menderita,” ujarnya dengan suara bergetar.
Menurut Aini, suaminya meninggal dunia sekitar pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Aini, sebelum jenazahnya dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri. Ia mengatakan keluarganya sudah menandatangani surat penolakan autopsi, namun tetap merasa dipaksa oleh pihak rumah sakit.
BACA JUGA: Korban Meninggal Ledakan MT Federal II Bertambah 2 Orang
“Sudah tanda tangan tak setuju, kok tetap mau dipaksa diautopsi. Kami sudah jelaskan baik-baik. Kalau atopsi bisa menghidupkan lagi, silakan autopsi. Tapi ini kan dia tetap mati,” katanya lirih sambil terus menangis.
Aini menyebut, sebelum meninggal, Imam sempat menjalani perawatan intensif di ICU dan menunjukkan tanda-tanda membaik. Namun, kondisi korban mendadak drop pada hari terakhir.
“Hari-hari sebelumnya dia sudah mulai sadar, sempat respon aku dan dokter. Tapi tiba-tiba minggu kondisinya semakin drop,” kenangnya.
Imam, pria kelahiran 1990 asal Palembang, sudah bekerja di Batam sejak 2017 sebagai pekerja kontrak di bidang penyambungan logam (welder). Ia dikenal sebagai sosok yang tenang dan penyayang keluarga.
“Dia tak pernah marah, tak pernah kelahi. Kami 10 tahun pacaran sejak SMP, menikah tahun 2012, dan punya tiga anak,” tutur Aini.
Dari pernikahan itu, pasangan muda ini dikaruniai dua anak laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama mereka lahir pada 2013, sedangkan anak bungsu yang perempuan baru berusia dua tahun tujuh bulan.
“Anak terakhir dekat sekali dengan ayahnya. Dari bayi selalu dirawat bersama. Kalau abangnya sempat dititip ke keluarga,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Aini menuturkan, beberapa hari terakhir sebelum insiden, ia justru merasa lebih manja pada suaminya. Meski hari-hari ia selalu memanjakan dirinya dengan suami, tapi hari itu sedikit berbeda.
“Entah kenapa, aku sering minta dipeluk dan dicium. Aku juga minta dia peluk anak-anak. Tak tahu ternyata itu jadi momen terakhir kami,” katanya, suaranya pecah.
Menurutnya, kondisi suaminya sempat membaik setelah beberapa hari dirawat. Hasil pemeriksaan medis pun dinyatakan stabil. “Hati, ginjal, semuanya baik. Makanya kaget drop. Mungkin karena trauma berat dan pikiran, karena ada yang meninggal juga sebelum suami saya,” ujarnya.
Aini juga merasa bahwa Imam masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan agar bisa berpamitan dengan keluarganya. “Mungkin karena ingin bertemu saya dan anak-anak. Allah masih kasih waktu sebentar buat kami,” katanya pelan.
Sambil memeluk anak-anaknya, Aini menegaskan keluarganya tak akan mengizinkan autopsi dilakukan. “Kami ikhlaskan dia pergi, tapi jasadnya jangan disakiti lagi. Sudah cukup penderitaannya. Kami di RS Bhayangkara ingin tiket pulang ie palembang, bukan autopsi ,” tuturnya.
Pihak keluarga juga menilai penyebab kematian sudah jelas. Karena trauma berat akibat kebakaran di dalam kapal.
“Orang sudah tahu dia meninggal karena ledakan kapal. Kalau memang mau cari siapa yang salah, ya tangkap saja orangnya. Jangan ganggu jenazah keluarga kami,” ujarnya dengan nada tegas.
Keluarga berharap jenazah Imam segera dipulangkan ke rumah duka untuk dimakamkan secara layak di kampung halaman di Palembang. “Kami cuma ingin dia pulang dengan tenang. Anak-anaknya masih kecil, biar mereka bisa lihat ayahnya terakhir kali,” kata Aini.
Suasana duka masih terasa di rumah sakit. Isak tangis keluarga pecah setiap kali petugas mencoba menjelaskan prosedur. Hingga berita ini diturunkan, pihak rumah sakit dan kepolisian masih berkoordinasi dengan keluarga korban terkait permintaan penolakan autopsi tersebut.
Selain Imam, juga ada jenazah Edison yang juga di autopsi. Edison meninggal lebih duluan dibanding Imam. (*)
Reporter: Yashinta



