
batampos – Simpang Basecamp di Batuaji mengalami kemacetan setiap pagi karena padatnya arus kendaraan. Hilir mudik para pekerja serta orang tua yang mengantar anak ke sekolah menyebabkan simpang dengan bundaran di tengah ini selalu penuh sesak.
Sayangnya, hingga kini belum ada rambu lalu lintas yang berfungsi untuk mengatur arus kendaraan. Karena tidak ada pengaturan yang jelas, para pengendara berlomba-lomba untuk lebih dahulu melintas.
Akibatnya, kemacetan menjadi pemandangan rutin setiap pagi di kawasan ini. Tak jarang, senggolan antar kendaraan hingga tabrakan kecil pun kerap terjadi, menambah keruwetan lalu lintas di sana.
Kondisi ini menjadi keluhan utama bagi para pengguna jalan, terutama kaum ibu yang memiliki rutinitas antar-jemput anak ke sekolah. Mereka harus menghadapi kemacetan yang menguras waktu dan tenaga setiap harinya.
Baca Juga: Angka Kecelakaan Naik 18 Persen, Polda Kepri Gelar Operasi Keselamatan Seligi
“Karena tak ada lampu pengatur lalu lintas, jadi semua pada rebutan,” ujar Yanti, salah satu orang tua yang setiap pagi melintasi kawasan tersebut.
Selain memperlambat perjalanan, kemacetan di simpang ini juga berpotensi membahayakan keselamatan pengendara dan pejalan kaki. Banyaknya kendaraan yang saling berebut jalan sering kali menimbulkan situasi berbahaya, terutama bagi anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil tindakan dengan memasang rambu lalu lintas atau menugaskan petugas untuk mengatur arus kendaraan di simpang tersebut. Dengan adanya solusi yang tepat, diharapkan kemacetan dan potensi kecelakaan di kawasan itu bisa diminimalkan.
Kecelakaan lalu-lintas di simpang Barelang dan Simpang Basecamp Batuaji kerap terjadi. Itu karena persimpangan ruas jalan utama R Suprapto ini tidak ada lampu pengatur lalu-lintas layaknya persimpangan lain. Yang ada hanya lampu peringatan kewaspadaan saja.
“Kalau mengharapkan kesadaran pengendara untuk saling mengalah susah. Memang harus ada rambu pengatur ini. Sudah sering kecelakaan seperti ini. Orang pada ngotot untuk jadi yang lebih dahulu. Kadang ketemu di tengah persimpangan akhirnya jadi macet karena sama-sama tak mau mengalah,” ujar Ummar, warga Tembesi.
Baca Juga: Harga LPG 3 Kg di Batam Jadi Sorotan, DPRD Siap Bentuk Pansus Jika Ditemukan Penyimpangan
Begitu juga dengan simpang Basecamp. Meskipun ruas jalan simpang empat ini sudah lebar namun kecelakaan kerap terjadi karena persoalan yang sama. Pengendara saling berlomba menjadi terdahulu melewati persimpangan ini sehingga kerap terjadi tabrakan dan kemacetan arus lalulintas.
“Apalagi sore hari kalau pulang pekerja. Itu pada ngebut-ngebut semua. Sering tabrakan. Yang dari Tanjunguncang ngebut yang dari Mukakuning ke Marina juga ngebut. Sering terjadi tabrakan,” kata Theo, warga Batuaji.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam Salim sebelumnya telah memastikan bahwa, dua persimpangan yang sedang dalam penataan Pemko Batam ini memang tidak ada rambu pengatur lalu-lintas layaknya persimpangan lain. Dua persimpangan yang ada bundaran di tengah ini hanya ada rambu peringatan saja.
“Itu memang seperti itu. Lampu kewaspadaan saja karena itu ada bundaran,” ujar Salim.
Seperti diketahui, Pemko Batam menata simpang Barelang dan Tembesi tahun 2023 lalu. Penataan ini berupa pelebaran akses jalan persimpangan dengan bundaran di tengah persimpangan. Rencananya akan ada tugu air mancur di tengah bundaran, namun pengerjaan baru pada pembukaan akses jalan jadi lima lajur dan bundaran. Tugu air mancur belum ada hingga saat ini. (*)
Reporter: Eusebius Sara



