
batampos– Kementerian Perdagangan berkomitmen memperkuat para pelaku usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berorientasi ekspor di Kota Batam, Kepulauan Riau untuk meningkatkan kualitas desain produk, desain kemasan, dan komunikasi visualnya.
Untuk itu, Kemendag menggelar “Lokakarya Pengembangan Ekspor Produk Kreatif melalui Klinik Desain” pada Rabu (13/8) di Batam.
Menanggapi pelaksanaan Klinik Desain, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, desain produk, kemasan, dan konsep komunikasi visual yang kuat merupakan modal penting bagi peningkatan daya saing produk UMKM.
Hal ini selaras dengan Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang digaungkan Kemendag agar pelaku UMKM berani berinovasi dan siap beradaptasi menjadi eksportir. Desain yang baik akan membantu produk bersaing di pasar domestik maupun saat ekspor ke pasar negara tujuan.
“Penguatan kapasitas UMKM perlu terus dilakukan agar dapat bersaing di pasar domestik dan luar negeri. Kualitas desain adalah salah satu unsur yang penting untuk memberikan nilai tambah dalam memasarkan produk kita. Kemendag mengajak para pelaku UMKM untuk serius meningkatkan kualitas desain produk dan kemasan,” kata Mendag Busan di Batam, Kamis, (14/8).
Untuk mendorong ekspor, Kemendag menegaskan komitmen mendukung UMKM melalui berbagai fasilitasi kepada pengusaha termasuk UMKM. Fasilitasi ini mencakup pengembangan produk ekspor melalui fasilitasi sertifikasi dan dukungan desain produk melalui Indonesia Design Development Center (IDDC), pendampingan ekspor melalui Export Center dan pembukaan jejaring melalui kemitraan internasional, serta pengembangan pasar ekspor melalui partisipasi dalam misi dagang dan pameran dagang internasional.
BACA JUGA: Pelantikan Eselon II Batam Tertunda: Setelah BKN, Kini Tunggu Restu Kemendagri
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menjelaskan, Klinik Desain merupakan salah satu program untuk mempersiapkan pelaku usaha agar semakin berdaya saing di pasar global dengan memperkuat desain produk, kemasan, maupun komunikasi visual.
“Klinik Desain adalah program gratis yang bisa dimanfaatkan para pelaku usaha untuk
mempersiapkan masuk ke pasar global dengan memperkuat desain produk, kemasan, dan desain komunikasi visual,” jelas Puntodewi.
Lokakarya Klinik Desain diikuti 50 pelaku UMKM di Kepulauan Riau dan menghadirkan desainer dari Indonesia Design Development Center (IDDC) Darfi Rizkavirwan sebagai narasumber. Melalui Klinik Desain, Kemendag juga memberikan pemahaman tentang tren global kepada para pelaku UMKM sekaligus mendorong kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan ekspor.
Salah satu pelaku UMKM yang ikut dalam klinik desain di Batam adalah Sumiyati. Ia menjalankan usaha keripik peyek bulat dengan jenama Peyek Ummu Furi. Sumiyati mengapresiasi Klinik Desain yang membantunya meningkatkan kualitas kemasan produk yang ia jual.
“Kami terbantu karena banyak sekali ilmunya dan kami jadi mengetahui hal-hal yang harus kami benahi untuk bisa ekspor. Kami jadi paham bahwa sebelum ekspor, harus ada legalitas yang lengkap mulai dari Nomor Induk Berusaha, izin Industri Rumah Tangga, sertifikasi halal, hingga perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Juga, (di kemasan) harus ada barcode internasional,” kata Sumiyati.
Klinik desain hadir sebagai layanan konsultasi untuk memberikan solusi atas permasalahan desain pelaku usaha Indonesia dengan orientasi ekspor tutur Puntodewi. “Sejak 2017 hingga 2024, telah tercatat 1.338 pelaku usaha, terutama dari kalangan UMKM berorientasi ekspor, yang memanfaatkan program klinik desain,” pungkas Puntodewi. (*)



