Kamis, 22 Januari 2026

Kepala BP Batam: Investasi Ril di Kawasan Industri Capai Rp 69,30 Triliun, Lampaui Target di 2025

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala BP Batam Amasakr Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia saat pemaparan investasi ril di KKota Batam. f Istimewa

batampos – Saat arus modal global kian selektif dan banyak kawasan industri menghadapi penundaan ekspansi akibat pengetatan likuiditas internasional, Kota Batam justru mencatatkan pengecualian. Sepanjang 2025, realisasi investasi riil di kawasan industri tersebut mencapai Rp69,30 triliun, melampaui target tahunan Rp60 triliun atau sekitar 15 persen di atas sasaran.

Capaian ini menempatkan Batam sebagai salah satu kawasan dengan ketahanan dan kualitas eksekusi investasi yang menonjol secara nasional, terutama di tengah dinamika penyesuaian rantai pasok global dan meningkatnya kehati-hatian investor internasional.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menilai, capaian itu mencerminkan penguatan fundamental ekonomi kawasan. Pertumbuhan investasi Batam tidak semata didorong oleh bertambahnya jumlah proyek baru, melainkan oleh ekspansi dan pendalaman kapasitas pelaku usaha yang telah beroperasi.

“Yang tercermin adalah uang yang benar-benar bekerja di lapangan, bukan sekadar rencana di atas kertas,” katanya, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan, percepatan realisasi pada paruh kedua 2025 menandai meningkatnya belanja modal industri, seiring Batam memasuki fase capital deepening yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan produktivitas dan daya saing kawasan industri.

Dari sisi struktur, Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menyebut, komposisi investasi Batam semakin matang, baik berdasarkan asal negara penanam modal maupun sektor usaha. Sepanjang 2025, Singapura tetap menjadi sumber investasi utama, disusul Taiwan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Malaysia, Hongkong (RRT), Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, dan Perancis.

Baginya, peta negara asal investasi tersebut mencerminkan keterhubungan Batam dengan jaringan manufaktur dan logistik regional yang semakin kuat.

“Komposisi negara dan sektor tersebut menunjukkan Batam semakin terintegrasi dalam rantai pasok regional dan global,” kata Li Claudia.

Penguatan struktur investasi itu juga ditopang oleh lonjakan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, menyampaikan, bahwa realisasi investasi Batam berdasarkan laporan nasional mencapai Rp44,01 triliun, melampaui target Rp36,99 triliun atau 118,97 persen.

Secara year-on-year, PMDN melonjak 125,90 persen, dari Rp8,16 triliun pada 2024 menjadi Rp18,43 triliun pada 2025. Pada saat yang sama, Penanaman Modal Asing (PMA) juga meningkat menjadi Rp25,58 triliun.

“Lonjakan PMDN mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor domestik serta kuatnya reinvestasi pelaku usaha nasional. Ini menjadi penyangga penting di tengah volatilitas ekonomi global,” ujar dia.

Dari perspektif makro, capaian investasi Batam berlangsung ketika banyak negara dan kawasan industri menghadapi pengetatan likuiditas serta penataan ulang rantai pasok global. Dalam konteks itu, kemampuan Batam mempertahankan momentum investasi menegaskan keunggulan struktural kawasan ini sebagai lokasi produksi yang efisien, dekat dengan pasar regional, dan didukung infrastruktur industri yang relatif matang.

Angka realisasi investasi yang dicatat tidak berhenti pada komitmen administratif, melainkan mencerminkan aktivitas ekonomi yang benar-benar terjadi di lapangan. Pengukuran dilakukan terhadap investasi yang diwujudkan dalam aset produktif seperti mesin, peralatan industri, dan fasilitas produksi yang langsung digunakan dalam kegiatan usaha.

Dengan pendekatan tersebut, realisasi investasi Batam pada 2025 tercatat meningkat signifikan dari posisi triwulan III sebesar Rp54,7 triliun menjadi Rp69,30 triliun pada akhir tahun. Capaian ini adalah penanda, bahwa pertumbuhan investasi Batam tak hanya bersifat nominal, tapi juga berkualitas dan berdampak nyata terhadap penguatan struktur industri kawasan.(*)

ReporterArjuna

Update