Jumat, 23 Januari 2026

Kepri ASEAN Business Forum Perdana Jadi Panggung UMKM Menuju Pasar Global

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kegiatan Kepri ASEAN Business Forum. Foto. Arjuna/ Batam Pos

batampos – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (DKUM) Provinsi Kepri terus memperkuat peta pengembangan usaha lokal. Hingga akhir tahun ini, instansi tersebut mencatat sedikitnya 2.000 UMKM di Kepri telah terklasifikasi berdasarkan level pengembangan, mulai dari tahap awal hingga menuju kategori UMKM naik kelas. Pemetaaan ini jadi fondasi untuk program pendampingan jangka panjang menuju UMKM berkelanjutan.

Upaya tersebut dipertajam melalui Kepri ASEAN Business Forum yang digelar Senin (17/11) di Harmoni One Hotel. Forum perdana ini mempertemukan para pelaku UMKM terpilih dengan perusahaan dari lima negara, menjadikannya sebagai etalase internasional pertama bagi UMKM yang telah dipetakan oleh DKUM Kepri.

Kepala DKUM Kepri, Riki Rionaldi, yang membuka langsung kegiatan, menyebut forum ini sebagai langkah strategis untuk memastikan hasil pendampingan UMKM dapat diuji di ruang pasar regional.

“Target kita bukan hanya skala Kepri, tapi juga mancanegara,” katanya.

Riki mengatakan, posisi geografis Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia harus menjadi keunggulan kompetitif. Karena itu, program pemetaan UMKM tidak hanya berhenti pada klasifikasi, tapi diarahkan untuk masuk ke dalam Koperasi Merah Putih sebagai wadah peningkatan kapasitas dan jejaring usaha.

Dari 2.000 UMKM yang sudah terpetakan, sekitar 400 UMKM mengikuti kegiatan forum, dan 60 di antaranya merupakan peserta program pendampingan Bisnis Merah Putih. Program ini sendiri baru berjalan kurang dari setahun, namun telah menghasilkan kurasi dan pembinaan intensif.

Dalam kurasi tersebut, delapan UMKM terpilih dinilai memiliki kecocokan kuat dengan kebutuhan perusahaan asing. Mereka diproyeksikan menjadi kandidat kerja sama jangka panjang yang akan ditindaklanjuti pascaforum.

Seluruh proses ini dirancang agar UMKM Kepri tidak sekadar tampil, tetapi dapat masuk dalam ekosistem bisnis regional yang lebih besar. “Setelah tiga bulan pendampingan, UMKM harus lebih percaya diri. Kapasitas dan kuantitas bukan berarti tak punya peluang besar,” tambah dia.

Dalam forum ini hadir 15 perusahaan dari lima negara, yakni Singapura, Malaysia, Turki, Taiwan, dan Myanmar. Sebanyak 40 perwakilan delegasi telah datang sejak malam sebelumnya, mengawali rangkaian forum dengan gala dinner dan sesi perkenalan awal.

Forum bisnis tersebut dilengkapi dengan sesi presentasi produk, diskusi peluang ekspor, hingga pembahasan kebutuhan suplai dari masing-masing perusahaan. Setiap UMKM diberi kesempatan menunjukkan nilai tambah dan diferensiasi yang telah diperkuat selama proses pendampingan.

Pemetaan 2.000 UMKM bertujuan memastikan setiap pelaku usaha mendapatkan jalur pengembangan yang sesuai kemampuan. Dengan klasifikasi yang jelas, pemerintah menargetkan program pembinaan lebih terstruktur dan dapat diukur dalam jangka panjang.

Riki menyebut, forum internasional seperti ini akan menjadi agenda rutin sebagai langkah evaluasi dan ekspansi pasar. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kementerian serta fasilitator kegiatan, Lidya Ariyantiny, atas pendampingan yang memperkuat kesiapan UMKM menghadapi pasar global.

“Kolaborasi adalah kuncinya. Melalui forum ini, kami ingin memastikan bahwa peluang yang hadir tidak berhenti sebagai pertemuan. Kita ingin ada kerja sama konkret yang benar-benar dapat mengangkat UMKM Kepri naik kelas,” kata dia. (*)

Reporter: Arjuna

Update