
batampos – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri terus mengokohkan posisinya sebagai gerbang utama pariwisata lintas batas Indonesia. Langkah terbaru yang diambil adalah meluncurkan empat skema visa khusus yang mempermudah akses wisatawan dari Singapura dan Malaysia, menjadikan Kepri sebagai provinsi pertama di Indonesia yang mengadopsi kebijakan tersebut.
Kebijakan ini merupakan bagian dari program Kepri Easy Access yang diluncurkan secara resmi dalam acara “Eazy 1000 Passport & Kepri Easy Access” di Grand Batam Mall, Sabtu (17/5). Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kepri dan Pemerintah Provinsi Kepri.
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menyebut kebijakan ini sebagai langkah progresif untuk memperkuat daya saing sektor pariwisata Kepri, khususnya di kawasan perbatasan.
“Kepri kini jadi provinsi pertama di Indonesia yang menawarkan empat skema visa khusus untuk wisatawan Singapura dan Malaysia. Ini adalah terobosan besar yang akan meningkatkan arus wisatawan secara signifikan,” ujarnya.
Adapun empat skema visa yang ditawarkan meliputi: Bebas Visa bagi pemegang Permanent Resident (PR) Singapura, visa kunjungan tujuh hari dengan tarif hanya Rp250, Bebas Visa untuk pemegang Student Pass Singapura, dan Bebas Visa untuk pemegang Long Term Visit Pass (LTVP) Singapura.
Menurut Nyanyang, kemudahan akses ini dirancang untuk memberikan kenyamanan dan efisiensi bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke wilayah Kepri, termasuk Batam, Bintan, Tanjungpinang, dan Karimun.
“Kami ingin Kepri dikenal sebagai destinasi yang paling cepat, mudah, dan nyaman diakses oleh wisatawan internasional,” ujar dia.
Kepala Kantor Wilayah Imigrasi Kepri, Ujo Sutojo, menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan pihak imigrasi akan terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat inovasi dan memastikan daya tarik wisata Kepri tetap kompetitif,” katanya.
Selain peluncuran skema visa khusus, Ditjen Imigrasi Kepri juga menghadirkan layanan Eazy Passport, yaitu program pembuatan paspor massal yang berlangsung selama dua hari, 17-18 Mei. Sebanyak 1.000 paspor diproses dalam program ini.
Program ini ditujukan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu untuk mengurus paspor di hari kerja. Melalui sistem jemput bola ini, layanan keimigrasian diharapkan semakin dekat dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Mengusung semangat Hari Kebangkitan Nasional, program ini hadir dengan tema “Bangkit Indonesiaku, Bangkit Imigrasiku”. Tema ini menggambarkan tekad pemerintah dalam mendorong pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi pascapandemi.
“Ini bukan sekadar soal dokumen perjalanan, tapi upaya nyata dalam menghadirkan layanan publik yang mendukung pemulihan pariwisata dan sektor ekonomi lainnya,” kata Ujo. (*)
Reporter: Arjuna



