
batampos– Program makanan bergizi (MBG) di sekolah kembali menjadi sorotan. Kali ini terjadi di Batam, Rabu (24/9), seorang pelajar SMP Negeri 8 Batam dilarikan orang tuanya ke Puskesmas Kampung Jabi karena muntah dan pusing. Namun hasil pemeriksaan menegaskan keluhannya bukan disebabkan makanan MBG.
Menurut informasi, siswi tersebut sempat mengalami pusing dan muntah-muntah, yang oleh orang tuanya sang anak kemudian dibawa ke pukesmas Kampung Jabi. Di sana, ia langsung ditangani oleh dokter yang bertugas, dr. Erni Julita Indah.
“Pasien datang sekitar pukul 11.00 WIB bersama ibunya. Keluhan yang disampaikan sakit kepala dan sempat muntah malam sebelumnya,” kata Erni kepada Batam Pos, Kamis (25/9).
Menurutnya, kondisi pelajar saat tiba di puskesmas sudah stabil. Ia tidak lagi muntah dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pemeriksaan fisik juga menunjukkan hasil dalam batas normal.
“Jadi kondisinya tidak gawat darurat. Menurut orang tuanya karena keracunan. Sebab makanan terakhir yang dimakan adalah MBG di sekolah,” jelasnya.
Meski orang tua menduga anaknya keracunan makanan dari program MBG, Erni menilai gejala yang dialami tidak mengarah ke keracunan.
“Kalau keracunan biasanya cepat reaksinya. Ini justru baru dirasakan 12 jam setelah makan, jadi tidak cocok kalau disebut keracunan makanan massal,” ujarnya.
Erni lalu merujuk siswi itu ke konseling sanitasi untuk menelusuri faktor pemicu lainnya. Dari pemeriksaan sanitarian, ditemukan kemungkinan keluhan muncul karena anak tersebut memakan cabai, padahal sebelumnya tidak terbiasa mengonsumsi makanan pedas.
BACA JUGA: OTK Diduga Racuni Hewan Peliharaan, Warga Bengkong Resah Karena Diduga Pelaku Pencurian
Selain faktor cabai, pola makan yang tidak teratur juga bisa menjadi penyebab. Diketahui, siswi itu tidak makan malam setelah pulang sekolah. “Lambung kosong bisa menimbulkan keluhan. Jadi ini lebih ke kondisi individu, bukan keracunan bersama-sama,” terang Erni.
Pihak sekolah juga membantah adanya kejadian keracunan. Kepala SMP Negeri 8 Batam, Rosmiati, memastikan tidak ada siswa lain yang mengeluhkan sakit pada hari yang sama.
“Sejak pagi sampai sore, semua siswa sehat. Tidak ada laporan keracunan. Menu yang disajikan juga terjaga kualitasnya,” katanya.
Rosmiati menyebut, menu makan siang di sekolah pada hari itu adalah ayam susu dan buah. “Dari 800 siswa, tidak ada yang sakit selain satu anak itu. Jadi jelas bukan keracunan massal,” tegasnya.
Klarifikasi juga datang dari pihak penyedia makanan bergizi (MBG), Yayasan Sinergi Inklusi Akses Pangan. Kepala Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) Summerland, Cyntia Yunica Putri, menegaskan distribusi makanan selalu melalui standar operasional prosedur (SOP) ketat.
“Mulai dari persiapan bahan, proses memasak, hingga distribusi ke sekolah, semua dijaga higienitasnya. Makanan dipastikan masak sempurna, ruangan steril, dan distribusi maksimal empat jam setelah selesai dimasak,” jelasnya.
Menurut Cyntia, menu yang disalurkan ke SMP Negeri 8 sehari sebelum kejadian terdiri dari telur gulai, tempe, sayur toge, kacang, dan ikan teri. “Tidak ada sambal dalam menu tersebut. Jadi sangat kecil kemungkinan sakitnya anak itu disebabkan makanan MBG,” tambahnya.
Ia juga menegaskan, bila benar keracunan, seharusnya terjadi secara massal. “Makanan didistribusikan untuk ratusan siswa. Kalau ada masalah pada makanan, tentu lebih dari satu anak yang sakit. Tapi ini hanya satu kasus,” kata Cyntia.
Pihaknya sempat mendapat laporan dari orang tua bahwa anak mengaku makan MBG. Namun setelah diverifikasi ke sekolah, ternyata siswi itu tidak makan menu MBG pada hari kejadian. “Artinya klaim keracunan dari MBG tidak terbukti,” tegasnya.
Cyntia mengakui pihaknya baru saja menambahkan sambal sebagai pelengkap menu setelah adanya permintaan dari siswa. Namun, sambal itu baru mulai dibagikan sehari sebelumnya.
Meski demikian, ia tetap memberi catatan agar sekolah dan orang tua lebih memperhatikan kebiasaan makan siswa. “Kalau ada anak yang tidak terbiasa makan cabai, sebaiknya dihindari dulu. Karena perut anak berbeda-beda daya tahan terhadap makanan pedas,” ujarnya.
Tim MBG, lanjut Cyntia, juga rutin melakukan evaluasi bersama sekolah. Anak-anak diberi kesempatan menyampaikan masukan terkait menu yang disajikan. “Kalau ada menu yang tidak cocok, bisa diganti di kemudian hari. Jadi ini bukan hanya soal gizi, tapi juga kenyamanan siswa,” jelasnya. (*)
Reporter: Yashinta



