Kamis, 15 Januari 2026

Kesenjangan Kompetensi dan Minimnya Pelatihan Hambat Pasar Tenaga Kerja Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Pekerja pabrik saat pulang kerja di kawasan Batamindo, Mukakuning, Seibeduk. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos – Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, mengungkapkan sejumlah tantangan terkait dunia kerja di kota industri ini. Setiap tahun, jumlah angkatan kerja baru bertambah dengan sangat cepat, sementara pembukaan lapangan pekerjaan berjalan relatif lambat.

Menurutnya, meskipun berbagai program kolaborasi telah dijalankan bersama pemerintah, seperti pelatihan dan pemagangan, hal itu belum mampu mengimbangi kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat setiap tahun.

“Selain itu, keinginan para pencari kerja untuk mendapatkan kompetensi tambahan melalui pelatihan kerja relatif rendah,” katanya, Senin (9/12).

Menurut Rafki, banyak pencari kerja di Batam memiliki ekspektasi langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar tanpa upaya meningkatkan keterampilan. Akibatnya, terdapat ketidaksesuaian antara keinginan dan kompetensi tenaga kerja.

Baca Juga: Lolos Seleknas, Tujuh Siswa SMKN I Batam Siap Berlaga di WorldSkills ASEAN 2025

Hal ini pun menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka pengangguran meskipun banyak lowongan pekerjaan tersedia. Di sisi lain, dia turut menyoroti minimnya lembaga pelatihan kerja yang menawarkan program sesuai kebutuhan industri.

“Menyesuaikan pelatihan kerja dengan kebutuhan industri ini selalu menjadi masalah sejak dulu. Kurikulum pendidikan maupun pelatihan kerja belum mampu memenuhi kebutuhan sektor industri,” ujarnya.

Perubahan generasi turut memengaruhi dinamika ini. Ia menyebut, bahwa generasi Z yang kini mendominasi angkatan kerja cenderung enggan mengikuti pelatihan tambahan.

“Banyak yang ingin langsung mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar, tapi kurang berminat meningkatkan kompetensi terlebih dahulu,” kata Rafki.

Hampir semua sektor industri di Batam kini membutuhkan tenaga kerja terampil. Permintaan terhadap tenaga kerja tanpa keterampilan atau unskilled labor, semakin menurun. Oleh karena itu, para pencari kerja harus memperbarui serta meningkatkan kemampuan mereka melalui pelatihan tambahan.

Baca Juga: Biaya Sewa Murah, Rusunawa Pemko Batam Diminati

“Ijazah pendidikan saja sudah tidak cukup. Perlu ada kompetensi kerja tertentu untuk bersaing di dunia kerja. Banyak industri bahkan memilih mencari pekerja ahli dari luar negeri karena supply tenaga kerja lokal tidak memenuhi kebutuhan mereka,” katanya.

Sebagai solusi, Rafki mendorong investor asing untuk membuka lembaga pelatihan kerja di perusahaan masing-masing agar dapat melatih calon tenaga kerja sebelum merekrut mereka.

“Pemerintah sebenarnya sudah memberikan insentif seperti super tax deduction. Tapi penerapannya di lapangan tidak semudah yang tertulis di aturan. Pemerintah perlu lebih mempermudah jika perusahaan ingin berkontribusi dalam pendidikan vokasi,” katanya. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update