Minggu, 15 Maret 2026

Kesulitan Akses PPDB Online, Warga Minta Tolong Tetangga dan Datangi Sekolah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Para orang tua mendatangai sekolah untuk mendaftarkan anaknya pada hari pertama PPDB, Senin (6/6). F.Dalil Harahap

batampos – Penerapan sistem online (daring) pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Batam disambut beragam oleh orangtua siswa. Ada yang sudah paham dan sukses mendaftarkan anaknya, namun ada juga yang belum.

Tetapi, para orantua yang kurang paham teknologi informasi tak habis akal. Mereka tak segan-segan meminta bantuan tetangganya yang paham pendaftaran PPDB secara daring.

Retno, 39, misalnya harus meminta bantuan tetangga karena telepon genggam miliknya rusak dan tidak bisa melakukan pendaftaran anaknya yang bersiap masuk SD.

Ia menceritakan, tidak saja persoalan telepon yang rusak, kondisinya yang lagi hamil juga tidak memungkinkan untuk mendatangi sekolah. Alhasil, ia meminta bantuan tetangga agar anaknya tetap bisa memasukan berkas melalui website yang sudah ada.

“Pagi sekali sekitar pukul 08.00 WIB saya mendatangi tetangga depan rumah. Alhamdulillah dibantu dan akhirnya sudah tenang, karena anak sudah masuk berkasnya. Tinggal menunggu hasil seleksi saja lagi,” sebutnya.

Ia mengatakan, meskipun tidak tanggap dengan teknologi, PPDB online ini sangat memudahkan. Menurutnya, dari pada harus ke sekolah, lebih baik memang mendaftar dari rumah. Sehingga bisa hemat waktu, dan tidak antre seperti dulu ketika mendaftarkan anak pertamanya.

“Untung ada tetangga yang mengerti, jadi pendaftaran bisa selesai. Tadi selain saya ada juga tetangga lain yang minta tolong, karena nasib HP kami sama. Jadi tadi pakai HP tetangga,” imbuhnya.

Hal yang sama juga terjadi di SDN 10 Batamkota. Sejak pagi beberapa orangtua sudah memenuhi pos di depan sekolah. Mereka meminta agar anaknya bisa didaftarkan ke sekolah. Mereka beralasan karena tidak paham akan cara mendaftar online, dan memanfaatkan panitia yang ada di sekolah.

Vera, warga perumahan Cipta Regency yang turut mengantre di dekat posko mengungkapkan, ia tidak paham akan aplikasi pendaftraran. Menurutnya, telepon seluler miliknya hanya digunakan untuk komunikasi.

“Saya tidak paham, dari pada nanti salah dan gagal mendaftar, lebih baik saya ke sini saja,” kata dia sambil membawa putri pertamanya.

Kepala SDN 10 Batamkota, Rianawati mengatakan, pihaknya juga menyediakan ruangan khusus untuk orangtua. Mereka yang kesulitan atau tidak pandai mendaftar online akan dibantu panitia.

“Jadi, nanti mereka lapor ke posko, dan akan diarahkan ke ruangan PPDB. Kami langsung gerak membantu mereka. Sejak pagi datang sudah ada orangtua datang meskipun tidak banyak,” ujarnya.

Untuk tahun ini, Rianawati mengatakan, sekolahnya menerima 5 kelas untuk siswa baru. Masing-masing kelas nanti akan diisi 36 siswa.

“Sejauh ini lancar saja. Panitia tetap bekerja seperti yang sudah diarahkan dan berdasarkan juknis yang sudah ada. Untuk penerimaan berkas diterima 24 jam, hanya saja untuk verifikasi dilakukan saat jam kerja. Namun jika ada membludak, panitia akan bekerja sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Di tempat terpisah, masyarakat di Batuaji dan Sagulung juga antusias mendaftarkan anak-anak mereka ke Sekolah Dasar (SD) negeri. Pendaftaran PPDB melalui jalur online jadi fokus perhatian warga sepanjang hari pertama PPDB dibuka, Senin (6/6) kemarin.

Pendaftaran ini didominasi kaum ibu-ibu. Mereka rela mengabaikan rutinitas memasak di pagi hari demi anaknya masuk ke sekolah negeri. Ada yang membentuk kelompok di lingkungan perumahan, ada juga yang datang ke sekolah yang dituju agar memudahkan mereka mengisi berkas pendaftaran di website PPDB online.

Susanti, warga perumahan PJB, Sagulung mendatangi SDN 01 Sagulung untuk memperlancar proses pendaftaran anaknya. Meskipun baru sebatas mengisi data dan file berkas pendaftaran kaum ibu-ibu tampak sangat bersemangat. Mereka sepertinya sangat menginginkan anak mereka sekolah di sekolah negeri.

“Iya (masuk sekolah negeri). Selain dekat dengan rumah, saya pribadi agak kewalahan untuk masuk ke sekolah swasta. Tahulah situasi ekonomi saat ini. Suami sudah kerja serabutan karena di PHK saat Corona mewabah setahun yang lalu,” katanya.

Senada disampaikan Indri, warga Tanjunguncang yang mendaftar anaknya di SDN 08 Sagulung. Dia tak punya pilihan lain sebab penghasilan keluarga yang pas-pasan tentunya sangat memberatkan jika masuk ke sekolah swasta.

“Tak sanggup ke swasta. Tahulah bagaimana biaya dan SPP di sekolah swasta. Situasi ekonomi kurang mendukung. Biar di sekolah negeri saja anak saya,” ujarnya.

Pantauan di lapangan, proses pengisian berkas pendaftaran ke website PPDB online tidak semuanya berjalan dengan mulus. Sebagian warga bahkan tak bisa mendaftar karena berbagai persoalan.

Selain kurang paham dengan instruksi yang ada di laman PPDB, sebagian warga juga kekurangan berkas pendaftaran. Akta lahir anak yang belum ada misalkan tentu tak bisa melengkapi berkas PPDB yang ada.

Begitu juga dengan KTP elektronik orangtua ataupun kartu keluarga yang tidak sesuai juga tak bisa mengisi berkas ke form PPDB. Untuk yang bermasalah dengan berkas ini umumnya belum bisa mendaftar. Mereka hanya bisa mengisi persoalan mereka ke form pengaduan. Mereka berharap ada kebijakan lagi agar kendala ini tidak menjadi hambatan bagi anak mereka untuk masuk sekolah.

“Di form pengaduan itu tertulis tim akan turun verifikasi untuk mengecek persoalan setiap anak yang belum bisa daftar. Semoga saja ada solusi karena anak-anak ini harus tetap sekolah,” ujar Destiani, warga Marina yang kesulitan melengkapi berkas PPDB karena kekurangan akta kelahiran anak. (*)

 

 

Reporter : YULITAVIA/EUSEBIUS SARA

 

SALAM RAMADAN