Sabtu, 3 Januari 2026

Ketahanan Pangan Kepri Lemah di Darat, Kuat di Laut, Guru Besar IPB: Batam Harus Dongkrak Produk Ikan

spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos – Provinsi Kepulauan Riau dikenal sebagai daerah maritim dengan wilayah kepulauan yang dominan. Namun potensi ini dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang Ilmu Gizi, saat ditemui Batam Pos di Hotel Aston Nagoya, Jumat (21/11) siang.

Menurutnya, daerah kepulauan seperti Batam dan Bintan memiliki karakter khas yang berbeda dengan wilayah daratan, sehingga strategi ketahanan pangannya pun harus menyesuaikan kondisi geografis.

“Kalau daerah kepulauan yang merupakan wilayah perairan, harus ada sumber-sumber perikanan yang terverifikasi sebagai potensi wilayah. Itu yang perlu didorong menjadi produk unggulan,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa penguatan sektor perikanan, Batam bisa kehilangan keunggulan komparatifnya dibanding wilayah lain. “Kalau tidak, maka tidak ada bedanya dengan pulau-pulau lain,” kata Ali.

BACA JUGA: Pemko Batam Pasang Lampu Merah Baru dan Perbarui Persimpangan demi Lalu Lintas Lebih Aman

Ali menilai, ketahanan pangan Batam akan sulit berkembang dari sektor lain karena keterbatasan lahan. Namun untuk sektor perikanan, Batam memiliki peluang besar. Produk-produk ikan lokal bahkan sudah cukup populer di kalangan wisatawan.

“Produk perikanan di Batam sudah menarik perhatian wisatawan domestik maupun luar negeri. Ini potensi besar yang harus terus dikembangkan,” katanya.

Secara nutrisi, Ali menyebut seafood memiliki kandungan gizi yang sangat lengkap mulai dari protein, karbohidrat, lemak sehat, hingga vitamin dan mineral. “Seafood itu harus selalu dikembangkan sebagai kekuatan ketahanan pangan. Kandungan gizinya sangat tinggi,” tegasnya.

Ali, juga menyoroti pentingnya konsumsi ikan bagi anak-anak. Ia menegaskan bahwa perbedaan antara anak yang rutin makan ikan dan yang tidak akan terlihat jelas pada pertumbuhan fisik maupun kecerdasan.

“Anak yang mengonsumsi ikan pasti memiliki postur yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang jarang makan ikan,” jelasnya.

Dari aspek kecerdasan, pengaruh konsumsi ikan bahkan lebih signifikan. Pembentukan otak, kata Ali, berlangsung optimal hingga usia 20 tahun, sementara masa pertumbuhan otak paling pesat terjadi hingga anak berusia lima tahun.

“Ini sebabnya gizi anak usia dini sangat penting. Ibu-ibu harus membiasakan anak-anak makan ikan sejak kecil,” katanya.

Ia juga mendorong ibu hamil untuk tidak ragu mengonsumsi ikan karena dapat menunjang perkembangan janin. “Ketika ibu hamil makan ikan, itu sudah memberikan potensi yang sangat baik untuk anak, baik saat dalam kandungan maupun setelah lahir,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Ali menegaskan bahwa pembangunan ketahanan pangan harus menjadi perhatian seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah. Menurutnya, ketahanan pangan adalah indikator penting bagi negara yang kuat dan berdaya saing.

“Anak-anak kita harus mendapatkan gizi yang cukup. Dari situ lahir sumber daya manusia yang tangguh,” katanya. (*)

Reporter: Syaban

Update