
batampos – Malam itu, kabar duka datang begitu cepat. Telepon berdering dari satu tokoh ke tokoh lain. Pesan berantai menyebar. Mereka yang selama puluhan tahun berjalan bersama dalam organisasi dan kegiatan sosial seakan tak percaya. Datuk Harsono telah berpulang di usia 82 tahun.
Reporter : Rengga Yuliandra
Bagi Datuk Amat Tantoso, kehilangan itu bukan sekadar kehilangan seorang kolega. Ia merasa seperti ditinggal orang tua sendiri.“Beliau itu bukan cuma teman organisasi. Sudah seperti orang tua kami,” ujarnya pelan.
Dan dari kenangan-kenangan itulah, sosok Datuk Harsono kembali hidup. Bukan sebagai tokoh besar yang gemar sorotan, melainkan sebagai pribadi sederhana yang memilih bekerja dalam senyap.
Ketika menjabat Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kepri, Datuk Harsono tak memimpin dari balik meja. Ia turun langsung memasang lampion di sepanjang jalan Nagoya menjelang Imlek.
Dari ruko Sari Jaya hingga deretan pertokoan lainnya, setiap toko dipasang dua lampion. Bahkan tiang-tiang lampu jalan tak luput dari hiasan.“Kami sendiri yang pasang. Beliau ikut naik, ikut betulin lampu,” kenang Datuk Amat.
Suatu ketika, menjelang perayaan, ia terjatuh saat memperbaiki lampu. Cedera itu membuatnya harus dirawat hingga ke Singapura. Namun yang membuat rekan-rekannya terharu, dalam kondisi belum pulih dan masih menggunakan kursi roda, ia tetap hadir di malam perayaan.
“Sebagai ketua, dia merasa harus hadir. Itu tanggung jawab,” kata Datuk Amat.
Semangatnya seolah tak pernah tunduk pada usia atau rasa sakit.
Salah satu peristiwa paling membekas adalah ketika Datuk Harsono dipercaya menjadi Ketua Panitia MTQ di Masjid Jodoh. Di tengah masyarakat yang kerap terjebak pada sekat identitas, seorang tokoh Tionghoa non-Muslim dipercaya memimpin kegiatan keagamaan Islam.
“Mana ada yang seperti itu? Tapi beliau bersedia,” ujar Datuk Amat.
Bukan hanya menerima jabatan, ia aktif menghubungi sahabat-sahabatnya untuk membantu pendanaan acara. Ia melihat MTQ bukan sekadar agenda agama, melainkan momentum kebersamaan masyarakat.
Peristiwa ini pula yang menjadi salah satu alasan kuat Datuk Amat merekomendasikannya menerima gelar adat dari zuriat Kesultanan Riau-Lingga. Nilai toleransi dan pengabdian lintas agama itu dianggap langka.
Datuk Harsono juga menjadi salah satu dewan pendiri dan pembina Rumah Duka Batu Aji. Awalnya, gagasan itu lahir dari kebutuhan masyarakat Batu Aji yang kesulitan menghimpun dana. Para pengurus mendatangi Datuk Amat dan Datuk Harsono di Nagoya untuk meminta dukungan.
Dari gotong royong dan penggalangan dana, lahan satu hektare berhasil dibeli. Rumah duka pun berdiri.
Namun sejak awal, visi yang ditanamkan Datuk Harsono jelas yakni tempat itu bukan hanya untuk warga Tionghoa.
“Sekarang justru banyak dari suku lain yang menggunakan. Indonesia Timur, Nias, Batak. Itu memang dari awal visinya sosial,” jelas Datuk Amat.
Belasan tahun berjalan, operasionalnya tetap bertumpu pada donasi, penjualan kalender, dan bantuan dermawan. Tidak pernah mudah. Namun setiap tahun selalu cukup.
“Seperti selalu dicukupkan Tuhan,” ucapnya.
Sebagai Ketua Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Kepri, Datuk Harsono menunjukkan keberpihakannya pada ekonomi menengah ke bawah. Ia membangun kios-kios bagi pedagang kaki lima, termasuk di kawasan depan Melia Panorama.
Modalnya terbatas. Bahkan sebagian berasal dari kantong pribadinya. Pedagang tidak diminta membayar sekaligus. Mereka mencicil perlahan.
“Beliau tidak cari untung. Dia ingin pedagang kecil punya tempat yang layak,” kenang Datuk Amat.
Bagi Datuk Harsono, kemajuan kota tak berarti apa-apa jika pedagang kecil terpinggirkan.
Di usia 82 tahun, pikirannya masih segar. Ia masih berbicara tentang pembangunan kawasan Tanjung Pantun dan Jodoh. Ia masih menggagas pendirian Himpunan Seni Budaya Suku Tionghoa (Hisbuti) yang berbasis lintas suku dan agama.
Kadang, kata Datuk Amat, ia seperti lupa bahwa fisiknya tak lagi sekuat dulu.
“Kalau ada acara sosial, dia pasti mau hadir,”ucapnya.
Di dunia profesional, ia dikenal sebagai konsultan pajak yang disegani. Namun ia tetap low profile. Bahkan menjelang akhir hayatnya, masih ada pengusaha yang menghubunginya untuk berdiskusi soal pajak.
Ia bukan tokoh yang gemar tampil. Ia bekerja dalam diam.
Malam terakhir sebelum kremasi, tokoh-tokoh lintas agama dan etnis berkumpul di Rumah Duka Batu Aji. Ada tokoh Hindu, pengusaha, sahabat lama, dan keluarga besar. Semua datang dengan satu rasa yaitu kehilangan.
Namun di balik duka, ada kebanggaan pernah berjalan bersama seorang pribadi yang tak mengenal batas dalam berbuat baik.
Datuk Harsono mungkin telah tiada. Tetapi lampion yang pernah ia pasang, kios yang ia dirikan, MTQ yang ia pimpin, dan rumah duka yang ia rintis. Semuanya menjadi jejak nyata tentang bagaimana toleransi dan ketulusan bisa diwujudkan dalam tindakan.
“Beliau tulus. Itu yang paling kami ingat,” tutup Datuk Amat.
Dan dalam sunyi kota yang terus bergerak, nama Datuk Harsono akan tetap disebut sebagai sosok yang mengajarkan satu hal sederhana, berbuat baik tanpa memandang siapa yang dibantu. (*)



