Senin, 16 Maret 2026

Kisah Inspiratif Prof Dwikartika Sari: Dari Kandang Bebek di Kediri Jadi Guru Besar Pertama Polibatam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Prof. Dwikartika Sari, Ph.D saat pengukuhan guru besar di Politeknik Negeri Batam. F. Dokumentasi Pribadi untuk Batam Pos

Perjalanan Dwikartika Sari dari kampung sederhana di Kediri menuju kursi profesor di Polibatam menjadi bukti bahwa ketekunan, pendidikan, dan dukungan keluarga dapat mengubah arah hidup seseorang. Di balik gelar akademik tertinggi itu, ia tetap memandang ilmu sebagai jalan pengabdian bagi negeri.

batampos – Tidak banyak orang menyangka perjalanan seorang profesor bisa berawal dari sebuah kampung sederhana dengan latar keluarga peternak bebek. Namun, dari lingkungan itulah langkah awal Prof. Dwikartika Sari, Ph.D dimulai, sebuah perjalanan panjang yang kelak membawanya menjadi profesor pertama di Politeknik Negeri Batam (Polibatam).

Perempuan kelahiran 1982 itu tumbuh di Kediri, Jawa Timur. Kedua orang tuanya bekerja sebagai peternak bebek, menjalani kehidupan sederhana yang menuntut kerja keras setiap hari. Dari keluarga itulah ia belajar tentang ketekunan dan kesabaran, nilai-nilai yang kemudian membentuk perjalanan akademiknya.

Pada 1 Januari 2026, namanya resmi tercatat sebagai guru besar pertama di Polibatam. Sebuah tonggak penting bagi kampus vokasi tersebut, sekaligus penanda perjalanan panjang seorang akademisi yang meniti karier dari nol.

Baca Juga: Kemenag Batam Umumkan Titik Salat Idulfitri H-1

Kini, di usia 43 tahun, ibu dari tiga anak itu dikenal sebagai akademisi di bidang manajemen dan bisnis internasional. Fokus risetnya berkaitan dengan logistik, perdagangan global, serta dinamika ekspor-impor di tengah perkembangan perdagangan digital.

Namun, jalan menuju titik itu tidak ditempuh secara instan. Ia menyebut perjalanan hidupnya sebagai proses panjang —perjalanan pendidikan, pengabdian, sekaligus pencarian makna hidup.

Dwikartika lahir di Kediri, tetapi masa remajanya banyak dihabiskan di Bekasi. Sejak SMP hingga SMA, ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Assalam, Solo, Jawa Tengah selama enam tahun, dari 1993 hingga 1999. Di lingkungan pesantren itulah disiplin hidup dan kemandirian mulai terbentuk.

“Dari SMP sampai SMA saya di pesantren yang sama, enam tahun,” ujarnya saat ditemui Batam Pos di ruang kerjanya di Polibatam, Jumat (13/3) siang.

Selepas lulus, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui jalur UMPTN pada 1999 —jalur seleksi nasional yang kini dikenal sebagai SNBT. Di ITB, ia mengambil program Bachelor of Engineering di bidang penerbangan dan menyelesaikannya pada 2003.

“Waktu itu saya dapat beasiswa dari Excel Mobil,” kenangnya.

Baca Juga: Fuel Surcharge Feri Dinilai Bisa Hambat Wisman ke Batam

Pada masa kuliah pula, ia memasuki fase baru dalam kehidupan pribadi. Ia menikah pada usia 20 tahun, ketika masih menempuh pendidikan di ITB. Suaminya ketika itu telah lebih dahulu melanjutkan studi ke Jerman.

“Suami saya sempat pulang dari Jerman untuk menikah, lalu kembali lagi ke sana melanjutkan studinya,” katanya sambil tersenyum.

Setelah lulus, pasangan tersebut memulai kehidupan baru di Batam. Dwikartika pertama kali datang ke kota industri itu pada 2004, mengikuti pekerjaan suaminya di kawasan industri Muka Kuning.

Di Batam, ia memulai karier profesional sebagai engineer di industri penerbangan Laptek. Pada saat yang sama, ia juga mulai meniti jalan sebagai pengajar. “Pagi sampai sore saya di Laptek sebagai engineer. Malamnya saya mengajar di Universitas Internasional Batam,” kenangnya.

Tahun 2005 menjadi masa yang sangat sibuk. Siang hari bekerja di industri, malam hari mengajar di kampus. Setahun kemudian, pada 2006, ia resmi bergabung sebagai dosen di Politeknik Negeri Batam.

Saat itu, Polibatam masih tergolong kampus muda. Berdiri pada 2000, program yang tersedia masih sebatas pendidikan diploma (D3). “Waktu itu belum ada S1. Jadi syarat dosen D3 harus punya pendidikan lebih tinggi dari yang diajarkan,” ujarnya.

Baca Juga: DLH Batam Siagakan 1.000 Petugas Antisipasi Lonjakan Sampah Selama Lebaran

Sejak saat itu, perjalanan akademiknya dimulai. Meski telah menjadi dosen, ia tidak pernah berhenti belajar.

Pada 2013, ia meraih gelar Master of Business Administration (MBA) bidang keuangan dari Tulane University, A. B. Freeman School of Business, Amerika Serikat. Studi tersebut ditempuh melalui beasiswa Fulbright —program prestisius pemerintah Amerika Serikat yang dikelola oleh AMINEF.

Beasiswa itu menanggung seluruh kebutuhan studi, mulai dari biaya kuliah, tiket pesawat, visa, hingga biaya hidup.

Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan studi doktoral di Universiti Brunei Darussalam pada program Doctor of Philosophy (PhD) bidang manajemen pada periode 2021 hingga 2024.

Studi tersebut juga ditempuh melalui program beasiswa yang didukung oleh Sultan Brunei Darussalam. “Alhamdulillah semua pendidikan saya dengan beasiswa,” ujarnya.

Ia bahkan bersyukur karena tidak perlu menggunakan biaya dari negara untuk menempuh pendidikan tersebut, karena banyak dapat beasiswa dari luar negeri. “Artinya saya tidak menggunakan uang negara untuk pendidikan saya,” katanya.

Namun baginya, hal itu justru menambah tanggung jawab moral untuk mengabdi kepada negeri.

Baca Juga: Kawan Lama Gelar Buka Puasa dan Santunan, Satukan Kebersamaan dan Inspirasi untuk Batam

“Ilmu itu harus kembali untuk masyarakat,” ujarnya.

Selama mengabdi di Polibatam sejak 2006, Dwikartika tidak hanya mengajar. Ia juga terlibat dalam berbagai upaya pengembangan kampus.

Ia ikut merintis program studi teknik perawatan pesawat udara sekaligus pembangunan hangar praktik mahasiswa. Selain itu, ia juga menjadi bagian dari tim yang merintis program studi logistik perdagangan internasional.

Perjalanan akademiknya memang tidak sepenuhnya lurus. Latar belakang sarjananya di bidang teknik penerbangan, sementara riset dan pengajarannya berkembang ke arah manajemen bisnis internasional.

“Banyak yang bilang, kok dari teknik penerbangan jadi bisnis internasional?” katanya.

Namun, ia menjelaskan bahwa bidang logistik justru menjadi jembatan antara teknologi penerbangan dan perdagangan global.

Proses pengangkatan profesor yang ia jalani juga melalui asesmen ketat oleh para profesor nasional dan internasional. Penilaian tersebut dilakukan secara anonim sehingga ia tidak mengetahui siapa saja yang menilai karyanya.

Baca Juga: Perkuat SDM Pariwisata Batam, AMSIH–HHRMA Kepri Kolaborasi dengan LPK dan Industri

“Setelah selesai pun kita tidak tahu siapa yang menilai kita,” ujarnya.

Ketika akhirnya dinyatakan lolos sebagai profesor, ia mengaku sempat tidak percaya.

“Saya sampai bertanya berkali-kali, ini benar saya yang lolos?” katanya sambil tertawa kecil.

Di antara beberapa dosen yang mengajukan pada waktu yang sama, hanya dirinya yang berhasil lolos. “Kadang rezeki datang dari arah yang tidak kita duga,” ujarnya.

Bagi Dwikartika, menjadi profesor bukanlah titik akhir perjalanan, melainkan tanggung jawab yang semakin besar.

Hal yang paling ia nikmati dari profesinya justru adalah hubungan dengan mahasiswa. Ia lebih menyukai interaksi langsung dibandingkan komunikasi daring.

“Saya lebih suka tatap muka. Mau bimbingan atau sidang skripsi, kalau bisa offline ya offline,” katanya.

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga hubungan kemanusiaan.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital, ia justru merasa sentuhan manusia dalam pendidikan menjadi semakin penting.

“Ada hubungan manusia dengan manusia yang tulus,” ujarnya.

Salah satu momen yang paling ia ingat adalah ketika seorang mahasiswa berjanji akan memberinya hadiah jika suatu hari sukses. “Saya langsung terharu,” katanya.

Baca Juga: Harga Ayam di Batam Masih Tinggi, Diprediksi Naik Lagi Jelang Lebaran

Namun, ia selalu menolak hadiah dari mahasiswa yang masih kuliah. “Kalau masih mahasiswa jangan kasih apa-apa. Kalau sudah sukses, cukup undang saya ke pernikahan,” ujarnya sambil tertawa.

Di balik kesibukan akademik, ia tetap menjalani perannya sebagai ibu dari tiga anak. Ia mengakui tidak mudah menyeimbangkan kehidupan sebagai dosen, peneliti, sekaligus ibu rumah tangga.

Apalagi, suaminya juga memiliki pekerjaan yang sangat sibuk sebagai senior manager di kawasan industri Muka Kuning. “Tapi sekarang ketika melihat anak-anak berkembang, saya merasa perjuangan itu tidak sia-sia,” katanya.

Inspirasi hidupnya banyak datang dari sosok B. J. Habibie —tokoh yang ia kagumi karena kesetiaan pada keluarga sekaligus pengabdiannya kepada negara.

“Beliau terlalu sempurna sebagai teladan,” ujarnya.

Bagi Dwikartika, bekerja bukan sekadar soal karier atau penghasilan. Ilmu yang dimilikinya ia pandang sebagai amanah yang harus dimanfaatkan untuk memberi manfaat bagi orang lain.

“Saya merasa Allah sudah memberi kapasitas. Sayang kalau tidak dimanfaatkan,” katanya.

Kini, sebagai profesor pertama di Polibatam, ia berharap semakin banyak generasi muda—terutama perempuan—yang berani menempuh jalan panjang di dunia akademik dan riset.

Menurutnya, kunci utama bukan hanya kecerdasan, tetapi juga cara berpikir yang benar serta dukungan keluarga.

“Kalau tujuan hidup jelas dan kita saling mendukung, banyak hal bisa dicapai,” ujarnya.

Dari kandang bebek di Kediri hingga ruang profesor di Batam, perjalanan Prof. Dwikartika Sari menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana. (*)

ReporterM. Sya'ban

SALAM RAMADAN