
batampos – Warga Tanjung Sengkuang bersama mahasiswa menyegel dan mematikan aliran air di Kantor DPRD Kota Batam, pada Kamis (22/1) siang. Aksi itu sebagai bentuk protes atas kesulitan yang mereka alami selama berbulan-bulan.
Aksi penyegelan dilakukan usai audiensi antara perwakilan warga dengan Komisi II DPRD Batam yang diwakili Ruslan Sinaga (Dapil Bengkong – Batuampar).
Dalam audiensi tersebut, disepakati langkah simbolik berupa pemadaman sementara aliran air di kantor DPRD hingga air benar-benar kembali mengalir normal ke permukiman warga Tanjung Sengkuang.
Perwakilan mahasiswa Universitas Putera Batam, Hidayatuddin, menyebut penyegelan dilakukan sebagai bentuk empati yang dipaksakan kepada wakil rakyat.
Baca Juga: Truk Tanah Picu Kerusakan Jalan di Batam, Dishub dan Polisi Siapkan Penertiban
“Warga sudah terlalu lama marah dan lelah. Akhirnya disepakati meteran air DPRD disegel sementara. Biar perwakilan rakyat merasakan langsung apa yang dirasakan warga selama ini,” kata Hidayatuddin, Kamis (22/1).
Pantauan Batam Pos di lokasi, Ruslan Sinaga turut mendampingi warga saat proses penyegelan meteran air dilakukan. Dari unsur DPRD, hanya Ruslan yang terlihat hadir menemani massa aksi hingga aliran air benar-benar dimatikan.
Warga lainnya, Suhardin, bahkan menyebut aksi ini masih tergolong lunak dibanding penderitaan yang mereka alami.
“Kalau kami tahu rumah anggota DPRD satu per satu, mungkin kami sudah ke sana. Supaya mereka tahu rasanya hidup tanpa air,” ujarnya dengan nada kesal.
Untuk memastikan meteran tidak kembali dibuka, tiga orang warga berjaga di lokasi. Sementara massa lainnya melanjutkan aksi ke depan Kantor DPRD dan Kantor Wali Kota Batam.
Koordinator lapangan aksi, Syamsudin, menegaskan bahwa penyegelan bukan tindakan anarkis, melainkan bentuk tekanan moral dan simbol keadilan sosial. Ia bahkan memperingatkan agar tidak ada pihak yang mencoba membuka kembali aliran air tersebut.
“Kalau ada yang berani membuka meteran ini, saya berdoa akan ada musibah besar. Biar semua sadar, ini jeritan rakyat,” tegas Syamsudin.
Baca Juga: BP Batam Pastikan Krisis Air Segera Teratasi
Akibat penyegelan tersebut, seluruh fasilitas di Kantor DPRD Batam mengalami mati air total. Aliran air ke wastafel, toilet, hingga kran musala terhenti, membuat aktivitas harian dan kebutuhan dasar seperti berwudu menjadi terganggu.
Aksi penyegelan ini merupakan buntut dari audiensi yang diikuti sekitar 20 orang perwakilan warga di Ruang Serbaguna DPRD Batam, yang difasilitasi Komisi II. Namun warga menilai hasil audiensi belum memberi solusi konkret, sehingga aksi simbolik tersebut dipilih sebagai bentuk tekanan lanjutan.
Warga menegaskan, penyegelan akan tetap dilakukan hingga pemerintah benar-benar menghadirkan solusi nyata dan permanen atas krisis air bersih yang telah lama mereka alami di Tanjung Sengkuang. (*)



