Jumat, 16 Januari 2026

Korban Pemerasan Oknum Aparat Semakin Trauma, Keluarga Resah dengan Kedatangan Orang Tak Dikenal

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Korban penggerebekan fiktif dan pemerasan Budianto Jauhari, warga Botania 1, Batamkota saat didampingi kuasa hukumnya Deni Kresianto Tampubolon. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos— Trauma mendalam masih dialami Budianto Jauhari dan istrinya, usai menjadi korban dugaan pemerasan yang dilakukan oleh delapan oknum aparat yang mengaku sebagai petugas BNN pada 16 November lalu. Tidak hanya tekanan saat kejadian berlangsung, namun kondisi psikologis keluarga semakin memburuk setelah beberapa orang yang mengaku intel mendatangi rumah mereka ketika proses pelaporan tengah berjalan.

Budianto mengatakan, ia kini sangat berhati-hati dalam setiap langkah, bahkan mengalami ketakutan untuk datang ke kantor polisi. “Trauma. Saya sampai lapor ke Polda lewat barcode karena trauma,” ujar Budianto ketika dihubungi Batam Pos, Kamis (6/11).

Menurutnya, hal yang membuat keluarga semakin tertekan adalah kedatangan beberapa orang ke rumahnya pada hari yang sama ia melapor ke Denpom 1/6 Batam dan Polda Kepri. Orang-orang itu mengaku dari intel Polda dan ingin meminta keterangan terkait kasus tersebut. Namun, kedatangan itu dilakukan tanpa pemberitahuan resmi maupun pendampingan penyidik. “Istri saya makin trauma. Mereka datang tiba-tiba, tanpa surat apa-apa. Kami bingung, isteri saya semakin trauma dan tertekan,” ujarnya.

Budianto mengaku keberadaan tamu-tamu tak resmi itu menimbulkan rasa curiga dan ketakutan baru. Ia menilai langkah klarifikasi seharusnya dilakukan secara resmi melalui penyidik, bukan dengan mendatangi rumah korban tanpa prosedur yang jelas. “Kalau memang mau ambil keterangan, kan ada jalurnya. Ini kami lagi berjuang mencari perlindungan hukum, malah yang datang orang-orang yang membuat kami takut,” katanya.

BACA JUGA: Iptu TSH Diperiksa Intensif, Diduga Terima Rp40 Juta dari Hasil Pemerasan di Botania 1

Akibat kejadian ini, istrinya yang tengah hamil disebut mengalami ketakutan berat. Ia bahkan meminta untuk sementara pindah dari rumah karena tak merasa aman lagi di lingkungan tersebut. “Istri saya sampai bilang tidak mau tinggal di rumah itu dulu. Cepat panik kami sekeluarga,” tuturnya.

Budianto menegaskan bahwa dirinya hanya ingin kasus ini diproses secara transparan, tanpa tekanan dari pihak mana pun. Ia berharap laporan yang sudah ia buat ke Polda Kepri dan Denpom 1/6 Batam diproses sesuai hukum. “Kami keluarga kecil. Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya minta keadilan dan perlindungan. Jangan sampai ada korban lain,” ujar dia.

Sementara itu, laporan Budianto terkait dugaan pemerasan dan ancaman kekerasan telah diterima oleh Denpom 1/6 Batam sebelumnya. Namun, hingga kini pihak terkait belum memberikan penjelasan lanjutan mengenai proses penyelidikan maupun penanganan terhadap oknum yang diduga terlibat.

Kasus ini terus menjadi perhatian publik, dan Budianto berharap dukungan media dapat membantu memastikan proses hukum berjalan tanpa intervensi. “Selama ini kami hidup sederhana dan tenang. Sekarang kami hanya ingin rasa aman kami kembali,” tutupnya.

Kombes Pol Agung Budi Leksono, S.H, S.I.K yang dikonfirmasi soal adanya petugas Intel Polda Kepri yang mendatangi rumah Budianto mengatakan bahwanya benar ada anggotanya yang mendapat tugas untuk mengumpulkan informasi ke keluarga korban. ”Benar itu anggota, tapi saat ke rumah korban tak ketemu langsung dengan yang bersangkutan,” ujarnya singkat.

Benarkan Ada Laporan Pemerasan

Sementara itu Komandan Detasemen Polisi Militer (Denpom) 1/6 Batam, Letkol CPM Dela Guslapa Partadimadja, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dugaan pemerasan yang dilakukan oleh komplotan oknum aparat terhadap seorang warga Batam. Namun, ia belum dapat memberikan keterangan lebih jauh karena saat ini kasus tersebut masih berada dalam tahap penyelidikan awal.

“Laporannya sudah masuk. Kita sedang proses dulu,” ujarnya singkat ketika ditemui di Kantor Bea dan Cukai Batam, Rabu (5/11).

Ketika ditanya mengenai dugaan keterlibatan sejumlah oknum anggota TNI dalam peristiwa tersebut, termasuk seorang oknum dari satuan polisi militer seperti yang disampaikan oleh kuasa hukum korban, Letkol Dela memilih tidak banyak berkomentar. “Saya belum bisa menyampaikan soal itu sekarang. Tunggu hasil penyelidikan,” ucapnya sembari menutup pembicaraan.(*)

Reporter: Eusebius Sara-Yashinta

Update