
batampos – Kesulitan air bersih di kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, masih terus berlanjut. Bahkan menjelang bulan Ramadan, krisis air di wilayah yang terdiri dari 14 RW tersebut disebut-sebut semakin parah dan belum menunjukkan solusi konkret.
Suryani, warga RT 2 RW 2, mengungkapkan pasokan air yang sebelumnya masih mengalir selama tiga hingga empat jam kini semakin berkurang. Air hanya menetes kecil sekitar satu jam pada dini hari.
“Semakin sulit. Dulu masih bisa mengalir tiga sampai empat jam, sekarang cuma satu jam saja, itu pun kecil sekali netesnya. Jam 4 sampai jam 5 subuh sudah mati. Kalau keluarnya besar tidak masalah, ini cuma setetes-setetes, bagaimana mau penuh?” ujar Suryani, Minggu (15/2) siang.
Menurutnya, kondisi ini membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari, mulai dari mandi, mencuci hingga memasak. Terlebih lagi, kebutuhan air dipastikan meningkat menjelang Ramadan.
Baca Juga: Krisis Air Mengancam Karena Kemarau, Pemko Batam Siap Laksanakan Salat Istisqa
Untuk mengatasi kekurangan, distribusi air bersih melalui mobil tangki yang dikoordinasikan pemerintah menjadi satu-satunya harapan warga. Namun, skema pendistribusian dinilai belum efektif dan justru memicu persoalan baru di lapangan.
Warga menyebut pengiriman air dilakukan dua hari sekali dan harus melalui satu pintu koordinasi di tingkat RW. Sementara jumlah tangki yang diterima tidak lagi sebanyak sebelumnya.
“Kita harus lewat satu pintu yaitu RW. Dulu bisa minta 10 tangki untuk satu RW, sekarang tidak bisa lagi,” kata Suryani.
Ia juga mengaku sempat mendengar adanya penambahan jumlah tangki dan jatah air per rumah, namun hingga kini belum terealisasi.
Kekecewaan warga semakin memuncak. Mereka bahkan berencana menggelar aksi demonstrasi jilid II ke kantor pemerintahan, termasuk ke Badan Pengusahaan (BP) Batam, BU SPAM, serta PT Air Batam Hilir (ABH).
“Rencana mau gerak jilid dua ini. Lagi kumpulkan semua warga,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Zamora, warga lainnya di Tanjung Sengkuang. Ia menjelaskan, dalam satu RW terdapat sekitar lima RT. Jika satu RW hanya mendapat jatah 10 mobil tangki, jumlah itu dinilai tidak mencukupi kebutuhan seluruh warga.
“Itu tidak maksimal dan tidak mencukupi, sementara kondisi air makin parah. Bukannya makin bagus, malah makin parah,” katanya.
Baca Juga: Amsakar Siapkan Adendum dengan PT Moya
Zamora menyebut, air yang biasanya masih mengalir pada dini hari kini sudah tidak menyala sama sekali. Kondisi ini memperbesar ketergantungan warga pada mobil tangki.
Bahkan pada Minggu siang, sempat terjadi ketegangan ketika mobil tangki milik ABH hendak mengantar air ke RW 10. Warga dari RW lain menghadang kendaraan tersebut karena merasa sudah memesan air selama dua hingga tiga hari namun belum juga dikirim.
“Barusan tadi sempat bentrok. Mobil air dihadang warga dari RW sebelah. Mereka sudah pesan 2-3 hari tidak diantar. Mereka emosi, maunya kalau tidak dapat ya sama-sama tidak dapat, supaya adil,” ujarnya.
Selain jumlah tangki yang terbatas, warga juga mempersoalkan skema pembagian air. Saat ini, satu tangki dibagi untuk empat rumah dengan jatah dua drum per rumah. Pembagian dihitung per rumah, bukan berdasarkan jumlah anggota keluarga.
Padahal, jumlah penghuni tiap rumah berbeda-beda. Ada yang hanya dua orang, namun ada pula yang berisi lima hingga enam orang.
“Kalau dua drum itu mana cukup satu hari. Saya saja enam anggota keluarga, bagaimana mau cukup?” keluhnya.
Baca Juga: Tahun Baru Imlek, Li Claudia Ajak Warga Batam Tebar Kebaikan
Menurut warga, mobil tangki memang datang ke lokasi, tetapi jumlah dan jatah yang diberikan dinilai tidak memadai. Mereka berharap distribusi bisa lebih merata dan tidak bergilir terlalu lama.
“Seharusnya setiap RT dan RW itu disediakan khusus, supaya tidak bergilir terus dan tidak harus menunggu lama,” katanya.
Kekecewaan warga juga diluapkan melalui kritik terhadap penanganan masalah air yang dinilai lambat dan kurang transparan. Mereka bahkan menyayangkan jika persoalan distribusi air harus dilaporkan ke aparat kepolisian.
“Masa masalah air ke kapolsek? Harusnya ke ABH, bukan ke Polsek. Tidak masuk akal,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah dan pihak pengelola air bersih segera mengambil langkah nyata dan cepat, terlebih menjelang Ramadan. Mereka menegaskan tidak ingin dicap anarkis atau dituding ditunggangi jika menyuarakan aspirasi.
“Nanti kalau kami marah dibilang anarkis, demo dibilang ditunggangi. Padahal kami cuma butuh air,” kata dia. (*)



