
batampos – Kota Batam yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata nasional, tengah menghadapi penurunan signifikan dalam tingkat hunian hotel dan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
Meski demikian, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menilai capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) triwulan pertama tetap menunjukkan kinerja yang stabil dan berada di jalur yang benar.
Amsakar menyebut, posisi geografis Batam sangat strategis untuk pengembangan sektor pariwisata. Konektivitas Batam sangat terbuka, baik dari wilayah Indonesia bagian barat hingga timur.
“Hampir semuanya terhubung, dari Papua bisa ke Sulawesi, dari Sulawesi ke Surabaya, dan Surabaya langsung ke Batam. Dari Kalimantan juga seperti itu, dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat pun demikian,” ujar Amsakar, Rabu (14/5).
Aksesibilitas yang baik ini, menurutnha, menjadi pondasi penting dalam mengembangkan potensi pariwisata di Batam. Ia menyebutkan bahwa Batam selama beberapa tahun terakhir berada di peringkat dua atau tiga nasional dalam jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).
“Tahun lalu saja, ada 1,3 juta wisman yang masuk ke Batam, dan sekitar 3 juta wisatawan domestik,” katanya.
Selain jumlah kunjungan, dia juga menyoroti struktur PAD Batam yang menunjukkan kontribusi besar dari sektor pariwisata. Lima pos utama penyumbang PAD, yakni Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penerangan Jalan (PPJ), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Hotel, dan Pajak Restoran.
“Pajak Hotel dan Restoran ini jelas mengindikasikan bahwa Batam sangat representatif untuk kita jadikan sebagai daerah pariwisata,” ujar dia.
Meskipun ada keluhan dari pelaku usaha hotel dan restoran, secara keseluruhan proyeksi PAD masih berjalan sesuai rencana. Pada triwulan pertama, capaian PAD Batam telah menyentuh angka 32,08 persen.
“Kalau capaian kita 32,08 persen, berarti formulasi kita soal PAD ini sudah on the track. Kita termasuk lima daerah terbaik secara nasional dalam capaian PAD triwulan pertama,” ujar Amsakar.
“Saya maknai ini sebagai, InsyaAllah proyeksi kita dari tahun sebelumnya itu relatif tidak bergeser. Keluhan dari hotel dan restoran perlu pendalaman lebih jauh,” tambahnya.
Namun demikian, data dari BPS menunjukkan tren penurunan dalam sektor pariwisata. Sekretaris Bapenda Batam, M Aidil Sahalo mengungkapkan, tingkat hunian kamar hotel (TPK) berbintang menurun 2,11 persen dari Februari ke Maret 2025.
“Pada Februari 2025, tingkat hunian berada di angka 48,36 persen, sedangkan Maret hanya 46,25 persen,” katanya, Jumat (16/5).
Tak hanya tingkat hunian hotel, jumlah kunjungan wisman juga mengalami penurunan secara berturut-turut dalam tiga bulan pertama tahun 2025. Pada Februari tercatat 104.684 kunjungan, sementara Maret hanya 100.279 atau menurun 4,21 persen.
Aidil menyebutkan, salah satu faktor penyebab penurunan ini adalah dampak dari efisiensi belanja akibat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025. Selain itu, penurunan kunjungan wisman juga turut memengaruhi tingkat hunian hotel. (*)
Reporter: Arjuna



