
batampos – Aktivis pemerhati anak Kepri, Erry Syahrial, meminta pihak kepolisian segera mengungkap kasus pembuangan beberapa bayi di Batam, dua tahun terakhir.
Ia meminta kasus ini menjadi prioritas bagi polisi.
“Ini harus diungkap, kalau tidak akan terulang. Ini kejahatan kemanusiaan, menghilangkan nyawa anak itu yang paling parah,” ujar Erry.
Erry menilai, kasus pembuangan anak tersebut sudah setara dengan kasus pembunuhan yang dilakukan orang dewasa. Seharusnya, anak-anak tersebut memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang.
“Negara berkewajiban untuk memastikan setiap anak itu hidup. Kita manusia yang beradab dengan menghargai nyawa dan kehidupan. Jadi, jangan sampai ada manusia yang dibunuh dan dimatikan haknya,” katanya.
Pengungkapan kasus pembuangan bayi tersebut, nantinya akan menjadikan efek jera kepada pelaku. Kemudian, menjadi pembelajaran bagi masyarakat.
“Jadi, jangan sampai kasus seperti ini terulang lagi,” ujarnya.
Kasus pembuangan bayi di Batam menjadi hal yang sulit diungkap kepolisian. Terbukti, dalam 1,5 tahun belakangan ini, terjadi empat kasus pembuangan bayi, dan seluruhnya belum terungkap.
Pembuangan bayi pertama terjadi pada Kamis 10 September 2020 sore di Kampung Kelembak RT 004/RW 001, Sambau, Nongsa.
Bayi perempuan yang diperkirakan berumur 5 jam tersebut dibuang ke semak-semak menggunakan kantong kresek warna biru.
Kasus kedua terjadi Sabtu, 14 November 2020. Warga menemukan jasad bayi laki-laki yang dibuang di kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sambau, Nongsa.
Bayi malang ini bersimbah darah dan dibuang menggunakan kantong plastik warna putih. Kemudian, jasad bayi yang diperkirakan berusia 4 jam tersebut digantung di batang pohon.
Kemudian, kasus ketiga yakni pembuangan bayi di Perumahan Tembesi Center, Batuaji, Rabu 23 Desember 2020 sekitar pukul 06.00 WIB.
Warga menemukan bayi yang diperkirakan berusia 2 jam tersebut di dalam kardus dan masih tertempel tali pusar.
Terakhir, kasus pembuangan bayi di bibir Pantai Tanjungsengkuang, Batuampar, Kamis, 29 April 2021.
Kapolsek Batuampar, Kompol Salahuddin, mengatakan, dari hasil autopsi di RS Bhayangkara, saat ditemukan jasad bayi tersebut diperkirakan berusia 2 hari. Kemudian, pada tubuhnya terdapat 17 tikaman, yakni di bagian dada dan punggung.
“Ada tusukan di tubuhnya. Sampai detik ini belum ada yang kami curigai atau mengarah kepada orangtuanya,” ujarnya.
Dengan maraknya pembuangan bayi ini, Salahuddin mengimbau kepada masyarakat untuk bekerja sama dalam pengawasan. “Jika ada yang dicurigai segera laporkan,” tutupnya.
Reporter: Yofi Yuhendri



