Senin, 12 Januari 2026

Lewat Teknologi dan Kolaborasi dengan Pengusaha TDA, ESB Dukung Pengusaha Kuliner Batam Naik Kelas

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Dari kiri Edwin Djaja (Regional Sales Head ESB), Agung Haryadi (praktisi F&B), dan Mahmud Fauzi Lubis (Founder Tjap Nyonya Dimsum Batam).

batampos– Semangat digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus bergema di Batam. Kamis (23/10), PT Esensi Solusi Buana (ESB) menggelar seminar bertajuk “Kopdar Racik Bisnis F&B: Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat” di Spice Café, The Hills Batam.

Kegiatan ini diikuti puluhan pelaku usaha kuliner dari berbagai segmen, mulai dari kafe, restoran, hingga warung modern, sebagai bagian dari langkah ESB memperluas ekspansinya ke wilayah Sumatera.

Seminar tersebut menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan bisnis kuliner. Hadir dalam kegiatan itu para pengusaha muda Batam, anggota komunitas Tangan Di Atas (TDA), serta praktisi industri makanan dan minuman (F&B).

BACA JUGA: Wisata Kuliner Batam: 10 Hidangan Tradisional Paling Populer

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan menyampaikan bahwa Batam dipilih sebagai kota pertama dalam ekspansi ESB di Sumatera karena potensi ekonominya yang besar serta posisinya yang strategis sebagai kota bisnis dan wisata internasional.


Para peserta, pembicara, dan perwakilan komunitas TDA Batam berfoto bersama setelah sesi “Kopdar Racik Bisnis F&B”. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi wawasan dan inspirasi bagi pelaku kuliner Batam.

“Transformasi digital bukan sekadar menghadirkan sistem baru, tapi berawal dari memahami kebutuhan pelaku usaha di setiap daerah. Kami ingin hadir langsung di tengah komunitas, mendengarkan, dan memberikan solusi yang relevan,” ujarnya.

Menurut Gunawan, penggunaan sistem digital yang terintegrasi dapat membantu pelaku usaha menghemat waktu, mengurangi risiko kesalahan pencatatan, hingga meningkatkan efisiensi operasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari–November 2024, Batam mencatat 1,16 juta kunjungan wisatawan mancanegara, naik 8,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini ikut menggairahkan industri kuliner lokal yang semakin kompetitif dan inovatif.

Sementara itu, Edwin Djaja Regional Sales Head ESB, menjelaskan bahwa ESB kini menghadirkan sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk membantu pengusaha kuliner dalam memproyeksikan pendapatan, menentukan menu andalan, serta menyusun strategi promosi yang tepat sasaran.

“Kami ingin membantu pengusaha F&B menghindari potensi kecurangan dan mengambil keputusan berdasarkan data. Dengan fitur AI, mereka bisa memprediksi revenue dan mengetahui menu mana yang paling laku di pasaran,” jelas Edwin.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha di Batam, ESB memberikan akses gratis fitur AI bagi pengguna baru selama masa perkenalan.

BACA JUGA: Dari Lapak Kuliner hingga Lapangan Kerja, UMKM Batam Tumbuh Pesat

PT Esensi Solusi Buana (ESB) menggelar seminar kepada pelaku usaha kuliner di di Spice Cafe, The Hills Batam, Kamis (23/10). F Cecep Mulyana/Batam Pos

“Batam ini kotanya anak muda, bisnis kulinernya hidup sekali. Kami ingin mendampingi mereka agar bisa tumbuh dengan sistem digital yang terintegrasi dari depan hingga belakang, bukan lagi mengandalkan pencatatan manual,” tambahnya.

Hingga kini, ESB telah digunakan oleh lebih dari 30.000 merchant kuliner di seluruh Indonesia termasuk sejumlah brand ternama di Batam seperti Tjap Nyonya Dimsum, DE’SANds, Spice Café, Mentari Kopitiam, dan Kopi Boemi.

Praktisi F&B sekaligus pemateri seminar, Agung Haryadi menekankan pentingnya dua prinsip utama dalam mengelola bisnis kuliner, yakni Lead by numbers dan Lead with empathy.

“Keputusan bisnis selalu tentang angka. Kita harus tahu kapan saatnya berinvestasi, efisiensi, atau ekspansi. Tapi di sisi lain, empati juga penting karena bisnis dijalankan oleh manusia. Pemimpin harus bisa memahami timnya agar mereka tumbuh bersama,” ujarnya.

Agung menambahkan, digitalisasi adalah syarat mutlak bagi UMKM yang ingin naik kelas.

“Tidak ada bisnis besar yang tumbuh tanpa digitalisasi. Semua keputusan harus berbasis data dan real time. Tanpa data, pengusaha hanya mengandalkan keberuntungan,” katanya.

Kolaborasi ini juga mendapat dukungan penuh dari Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Batam yang selama 15 tahun menjadi wadah pengembangan kapasitas pelaku usaha lokal.

Ketua TDA Batam, Evy Apriliani menyebut sekitar 60 persen anggota TDA bergerak di sektor kuliner (F&B) sementara sisanya di bidang jasa dan pariwisata.

“Kolaborasi dengan ESB ini penting karena banyak anggota kami yang sedang berproses menuju digitalisasi. Dengan sistem ESB, pengusaha bisa mengetahui tren pasar, produk terlaris, hingga peluang inovasi produk berdasarkan data,” ungkapnya.

Untuk tahap awal, seminar ini diikuti oleh 30 pelaku usaha terpilih. Ke depan, TDA berencana melanjutkan kampanye digitalisasi ini secara berkelanjutan agar lebih banyak UMKM di Batam mampu melakukan scale-up berbasis teknologi.

“Kami akan terus memantau perkembangan usaha peserta dan membantu mereka membaca data bisnis dengan akurat. Yang terpenting adalah keberlanjutan. Dengan sistem digital seperti ESB, pengusaha bisa melihat arah pertumbuhan usahanya secara nyata,” tambah Evy. (*)

Update