
batampos – Sebuah bendera berwarna emas kini berkibar di halaman kantor PT Lixicon Indonesia. Bertuliskan SMK3 Gold, bendera itu bukan sekadar ornamen, melainkan simbol pencapaian tertinggi perusahaan konstruksi asal Batam tersebut dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) tingkat lanjutan, dengan pemenuhan 166 kriteria audit dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker).
Bagi Lio Lixius Chan, Chief Executive Officer PT Lixicon Indonesia, sertifikasi ini memiliki makna lebih dari sekadar pemenuhan administrasi. Menurutnya, SMK3 adalah kewajiban hukum yang harus dipenuhi setiap kontraktor. Namun, mencapai predikat Gold adalah capaian yang hanya mampu diraih oleh sedikit perusahaan.
“SMK3 memang wajib. Tapi tidak semua perusahaan mampu naik ke level Gold,” ujarnya.
Berbeda dengan sertifikasi individual, SMK3 melekat pada sistem dan budaya perusahaan. Sertifikat SMK3 Gold yang diraih PT Lixicon Indonesia berlaku selama tiga tahun dan harus melalui proses sertifikasi ulang.
Tahun 2025 menjadi momentum penting, karena untuk pertama kalinya dalam perjalanan perusahaan, Lixicon Indonesia berhasil menembus level tertinggi setelah melakukan peningkatan standar keselamatan kerja secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Predikat Gold bukanlah pencapaian yang datang dengan mudah. Jika SMK3 Tingkat Awal hanya mencakup 64 kriteria, maka SMK3 Tingkat Lanjutan menuntut pemenuhan 166 kriteria.
Untuk memperoleh predikat Gold, perusahaan harus menerapkan lebih dari 85 persen dari keseluruhan kriteria tersebut secara komprehensif, sekaligus membuktikan komitmen kuat melalui kebijakan K3 yang terdokumentasi dan dijalankan secara konsisten.
Skala dan Disiplin
Secara nasional, hampir seluruh kontraktor menengah hingga besar diwajibkan memiliki SMK3. Namun, hanya segelintir yang berhasil meraih predikat Gold. Menurut Lio, tantangan justru semakin besar seiring pertumbuhan perusahaan.
“Pada skala kecil, sistem biasanya belum tertata rapi. Tapi ketika perusahaan tumbuh besar, seperti sekarang, proses justru menjadi lebih mudah karena kami memiliki tim yang lebih lengkap dan diisi tenaga ahli di bidangnya masing-masing,” katanya.
Saat ini, Lixicon Indonesia mempekerjakan sekitar 110 staf tetap dan hampir 900 pekerja harian lepas yang tersebar di berbagai proyek. Untuk memastikan standar keselamatan diterapkan secara konsisten, perusahaan menugaskan delapan safety officer yang secara khusus mengawasi keselamatan kerja, kelayakan peralatan, serta penggunaan alat pelindung diri di lapangan.
Seluruh upaya tersebut, tegas Lio, bermuara pada satu kata kunci yaitu komitmen.
“Keselamatan kerja adalah soal komitmen. Dan komitmen selalu berkaitan dengan biaya. Pertanyaannya sederhana: apakah perusahaan mau atau tidak mengeluarkan biaya untuk keselamatan?” ujarnya.
Didirikan 14 tahun lalu, PT Lixicon Indonesia bergerak sebagai general contractor dengan spesialisasi di bidang sipil, mekanikal, dan elektrikal. Salah satu proyek prestisius yang pernah digarap adalah Treasure Bay Bintan, kawasan wisata dengan kolam buatan terbesar di Asia. Dalam proyek tersebut, Lixicon Indonesia dipercaya sebagai kontraktor mekanikal dan elektrikal untuk Crystal Lagoon, Natra Bintan.
Selain itu, perusahaan juga terlibat dalam sejumlah proyek strategis lainnya, seperti PT Volex Indonesia, Pembangunan Gedung Rektorat Universitas Internasional Batam (UIB) untuk paket pekerjaan arsitektur, Artha Batam Sanctuary, Workshop Schlumberger (SLB), serta berbagai fasilitas gedung dan utilitas di PT Ecogreen Oleochemicals.
Di Batam, Lixicon Indonesia saat ini tengah menggarap sejumlah proyek besar, di antaranya PT Rainbow Tubular Manufacture Plant 2 di Kawasan Tanjung Uncang, PT Reliable Resource Solutions di kawasan Tunas Prima–Kabil, serta proyek di kawasan Marina yang mencakup tiga paket pekerjaan, yakni pembangunan 57 unit hotel-villa, renovasi Terminal Ferry Marina Teluk Senimba, dan pembangunan kawasan Retail Promenade.
Keselamatan sebagai Investasi
Bagi Lixicon Indonesia, SMK3 bukan sekadar kewajiban formal, melainkan praktik nyata yang dijalankan setiap hari. Mulai dari pelatihan pemadam kebakaran, pelatihan P3K, audit internal rutin, hingga pemeriksaan kesehatan berkala.
Perusahaan juga secara konsisten melaksanakan medical check-up (MCU) serta membagikan vitamin kepada para pekerja dua kali dalam sebulan.
“Banyak kecelakaan kerja di industri konstruksi terjadi karena perusahaan menekan biaya dan mengabaikan keselamatan,” ujar Lio.
Karena itu, Lixicon Indonesia menegaskan tidak menerapkan batasan anggaran yang kaku untuk keselamatan kerja. Orientasi perusahaan tidak semata mengejar keuntungan, melainkan membangun karya yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Menurut Lio, sebuah karya hanya dapat terwujud jika keselamatan dan kesehatan kerja dijadikan fondasi utama. Dari pekerja lapangan hingga manajemen puncak, seluruh elemen perusahaan harus berada dalam satu barisan komitmen yang sama.
Di tengah maraknya pembangunan dan ketatnya persaingan industri konstruksi, bendera SMK3 Gold yang kini berkibar di PT Lixicon Indonesia menjadi pernyataan sikap: bahwa di balik beton, baja, dan kabel listrik, terdapat investasi yang kerap tak terlihat, namun paling esensial “keselamatan manusia.” (*)



