Kamis, 15 Januari 2026

Lobi Pusat, Berharap Pemerintah Cabut Kebijakan Asuransi untuk Wisman

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Buralimar. (istimewa)

batampos – Disaat Pemerintah Singapura menghapus semua syarat masuk bagi wisman ke negaranya, kondisi berbeda dengan kebijakan dalam negeri. Pencabutan kebijakan yang menghambat kedatangan wisman justeru dilakukan satu-satu, sehingga terkesan lamban. Bahkan, syarat masuk ke RI tetap wajib membeli asuransi untuk wisman hingga saat ini masih belum dicabut.

Kondisi ini menjadi beban bagi wisman, sehingga kunjungan melalui pintu masuk utama seperti Batam, masih belum maksimal. Wisatawan asing yang datang ke Singapura lebih memilih plesiran ke negeri jiran Malaysia karena tidak ada lagi aturan yang memberatkan.

Kondisi ini sebenarnya sudah dilaporkan Pemerintah Provinsi Kepri ke Menteri Priwisata dan Eknomi Kreatif, Sandia Uno, saat meresmikan destinasi wisata Bakau Srip, Nongsa, Batam beberapa hari lalu.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad bahkan menyampaikan langsung beberapa poin kepada Sandiaga. “Salah satunya terkait asuransi yang dikeluhkan pelaku pariwisata. Pak Gubernur sampaikan secara lisan, lalu secara tertulis pun kami surati juga ke instansi terkait,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar, Senin (6/6)

Buralimar mengatakan, sejauh ini wisatawan mancanegara sudah datang ke Karimun, Bintan, dan Batam. Namun, ada beberapa kendala mulai dari asuransi hingga harga tiket selangit.

“Kami mendengar bahwa wisman lebih suka ke Malaysia. Sebab lebih murah, tapi secara kuliner tempat wisata Kepri ini menjanjikan, makanya semua hambatan harus ditiadakan,” ungkap Buralimar

Oleh sebab itu, ia sangat berharap pemerintah pusat segera menghapus kewajiban asuransi untuk wisman yang nilai pertanggungjawabnya mencapai 30 ribu dolar Singapura.

Selain itu, ia juga harga tiket kapal diturunkan menjadi 40 Dollar Singapura.

“Turis datang ke Kepri itu, bisa dibilang menghabiskan minimal Rp 1 juta seharinya. Semakin banyak datang, semakin bergerak pariwisata di Kepri,” ujar Buralimar.

Jika pariwisata di Kepri bergerak, memberikan efek luas. Karyawan hotel bergaji dan bisa menambah karyawan. Kemudian hotel dan restoran akan semakin sering membeli bahan makanan ke pasar-pasar.

“Semuanya bisa mendapatkan untung, jika pariwisata bergerak,” kata Buralimar.

Perjuangan pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten selama ini cukup luar biasa agar semua kebijakan terkait wisman lebih dipermudah.

Untuk itu, ia berharap para pelaku pariwisata juga memikirkan, bagaimana menarik wisman sebanyak mungkin, sembari pihaknya berjuang agar kewajiban ansuransi dihapus.

“Kalau bisa, pelaku pariwisata, seperti hotel, jangan dulu mengambil margin keuntungan terlalu besar. Sehingga harga hotel menjadi mahal. Berilah diskon-diskon, termasuk saat weekend, jangan hanya di weekday saja,” pinta Buralimar.

Selain pemberian diskon-diskon untuk menarik wisman datang ke Kepri, Buralimar juga menyoroti konsistensi para pelaku pariwisata dalam membuat event.

“Kepri itu di kalender event ada ratusan kegiatan, tapi yang jalan hanya beberapa saja,” ungkap Buralimar.

Inkonsisten ini menjadi sorotan Buralimar. Setiap pembuat event harus bertanggung jawab atas semua yang sudah direncanakan dan dimasukan dalam kalender event.

“Takutnya, wisman datang setelah melihat kalender event. Tapi, tau-taunya eventnya tidak dilaksanakan. Kan sayang jadinya. Saya harap, event ini jangan hanya dibanyak-banyakin, tapi jika rencanakan. Realisasikan, jika memang tidak bisa, sampaikan jauh-jauh hari, apa alasan tidak terlaksana event itu,” tutur Buralimar.

Di Juni ini, ada beberapa event yang akan dihelat di Kepri yakni Festival Masyarakat Tionghoa di Tanjungpinang dan Batam Jazz Festival. “Ini event yang sudah konfirm, sejauh ini,” ujarnya. (*)

 

Reporter : FISKA JUANDA

Update