
batampos – Kecamatan Belakang Padang menggelar lomba sampan layar untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Meskipun vakum dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19, namun tahun ini, tradisi tahunan lomba sampan layar kembali dilaksanakan dalam memeriahkan hari jadi Indonesia yang ke-77.
“HUT RI yang ke 77 tahun kita meriahkan dengan berbagai kegiatan dan perlombaan. Semalam ada persembahan musik dari penyengat, gerak jalan, dan karnaval dan alhamdulilah hari ini atau puncak acara ditutup dengan sampan layar,” ujar Camat Belakangpadang Yudi Admaji, Rabu (17/8).
Menurutnya, sampan layar menjadi tradisi tahunan masyarakat Belakang Padang. Tahun ini pelaksanaan lomba sampan layar berlangsung dengan sangat meriah.
“Di Belakang Padang momen 17 Agustus sangat identik dengan sampan layar dan kami berusaha merawat dan menjaga tradisi ini,” ungkap Yudi.
Tidak hanya menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah air saja, rangkaian 17 Agustus ini juga mampu meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya warga Belakang Padang.
“Alhamdulilah selama 4 hari rangkaian kegiatan sangat luar biasa perputaran ekonomi masyarakat. Mulai dari penambang pancung, biasa normal sehari bisa satu atau dua trip saja, alhamdulilah empat hari ini bisa 8 sampai 10 trip dan ini menjadi berkah masyarakat Belakang Padang,” ungkap Yudi lagi.
Dalam lomba sampan, perahu kayu berlayar warna-warni meliuk mengikuti arah angin dengan rute yang sudah ditetapkan panitia, di perairan yang berhadapan langsung dengan Singapura. “Ini adalah upaya kami, pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan tradisi lomba,” kata Yudi.
Pihaknya menggelar beberapa kategori lomba sampan, di antaranya kolek 9 (terdiri dari 9 pendayung) yang diikuti 11 peserta, kolek 7 sebanyak 12 peserta dan kolek 6 diikuti 5 peserta. Pesertanya bukan hanya masyarakat Belakang Padang saja, tapi juga dari pulau-pulau sekitar.
Ketua panitia lomba sampan layar Haji Musa menambahkan, pelaksanaan sampan layar tahun ini berlangsung sangat meriah. Meskipun dari sisi peserta sedikit berkurang dibandingkan tiga tahun terkahir sebelum Pandemi.
“Ya, kalau beberapa tahun terkahir pesertanya bisa 50 lebih namun di tahun ini hanya 24 peserta saja. Kondisi ini tidak lepas dari banyak sampan yang rusak atau orang yang punya sampan sudah meninggal dunia, namun secara keseluruhan acara berlangsung meriah dan kami pun betul-betul menjaga itu,” ujar Haji Musa.
Ia menambahkan, sampan layar sudah dilaksanakan sejak tahun 1959 lalu pada setiap momen perayaan 17 Agustus. Sampan layar pertama kali dilaksanakan di Pulau Buluh dan setelah itu dipusatkan di Belakang Padang sampai sekarang.
Abdul Razak, salah seorang warga Malaysia yang melihat perlombaan sampan layar mengaku sangat kagum dengan kebudayaan dan tradisi bangsa Indonesia.
“Saya ke sini untuk melihat saudara dan sekaligus melancong. Dan kebetulan ada perlombaan sampan layar ibu. Sangat meriah,” ujarnya.
Ia mengaku cukup susah mencari perlombaan sampan layar ini di Malaysia. “Ada juga seperti ini tapi tak sama. Di sini lebih hebat sambutannya juga sangat baik. Mudah-mudahan kalau panjang umur saya dan keluarga ke sini lagi di tahun depan,” tutup Abdul Razak. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra



